Tahun Ini Badan Lingkungan Hidup TTU Lakukan Penghijauan di Lahan Kristis

Pada tahun 2019 ini, pemerintah melalui Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) akan melakukan penghijauan di lahan kritis

Tahun Ini Badan Lingkungan Hidup TTU Lakukan Penghijauan di Lahan Kristis
POS-KUPANG.COM/TOMMY MBENU NULANGI
Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten TTU, Ferdinandus Lio. 

Tahun Ini Badan Lingkungan Hidup TTU Lakukan Penghijauan di Lahan Kristis

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tommy Mbenu Nulangi

POS-KUPANG.COM | KEFAMENANU-Pada tahun 2019 ini, pemerintah melalui Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) akan melakukan penghijauan di lahan kritis di daerah setempat.

Kegiatan penghijauan terhadap lahan keritis tersebut dilakukan sebagai upaya untuk melestarikan dan menghijaukan kembali lahan kritis di wilayah Kabupaten TTU.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten TTU, Ferdinandus Lio kepada Pos Kupang saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (21/5/2019).

Wajah Kantor Bupati Kupang Mulai Berubah

Ferdinandus mengungkapkan, untuk melaksanakan kegiatan itu, pihaknya menyiapkan anggaran sebesar Rp. 250 juta lebih, untuk kegiatan penghijauan di lima kecamatan di TTU.

"Tujuannya kita menghijaukan kembali lahan-lahan kritis sehingga lahan kita kembali hijau. Begitu juga kita harapkan agar setelah melakukan penghijauan bisa muncul sumber mata air baru, sehingga kita tidak kesulitan air bersih," ungkapnya.

Ferdinandus menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan lahan kritis diantaranya karena memang lahan tersebut kritis dan juga karena pola penebasan yang dilakukan oleh masyarakat.

"Karena masih ditemukan kalau warga kita membuka lahan dengan sistem berpindah-pindah sehingga menyebabkan banyak lahan kita yang kritis," terangnya.

Bupati Tahun Kuliahkan Para Kepala Sekolah Terkait Teknis Pembangunan Fisik

Terkait pola yang dilakukan dalam kegiatan pelestarian lingkungan, jelas Ferdinandus, adalah pola partisipasi masyarakat, dimana masyarakat dilibatkan dalam seluruh tahapan kegiatan.

"Jadi mulai dari pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan dilakukan oleh masyarakat. Dan kita membayar masyarakat berupa HOK," ungkapnya.

Ferdinandus mengatakan, tujuannya adalah agar masyarakat merasa memiliki sehingga mereka dapat merawat pohon yang sudah ditanam itu.

"Jadi mereka tidak akan selesai setelah ada anggaran, tapi setelah anggaran selesai mereka masih melakukan perawatan secara swadaya dan juga bisa melanjutkan kegiatan yang sudah kita lakukan," ujarnya. (*)

Penulis: Thomas Mbenu Nulangi
Editor: Adiana Ahmad
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved