Arah Politik PAN Pasca Pilpres 2019, Begini Kata Mantan Ketum PAN Soetrisno Bachir
Mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional ( PAN) Soetrisno Bachir mengaku mulai membaca arah politik PAN setelah Pemilu Serentak 17 April 2019.
Arah Politik PAN Pasca Pilpres 2019, Begini Kata Mantan Ketum PAN Soetrisno Bachir
POS-KUPANG.COM | MALANG - Mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional ( PAN) Soetrisno Bachir mengaku mulai membaca arah politik PAN setelah Pemilu Serentak 17 April 2019.
Meski begitu, Soetrisno masih enggan mengungkapkan bahwa PAN mulai merapat ke kubu pemerintah.
Hal itu disampaikan Soetrisno Bachir menanggapi pertemuan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dengan Presiden Jokow Widodo di Istana Negara pada Rabu (24/4/2019) siang.
"Walaupun saya sekarang Ketua MPP (Majelis Pertimbangan Partai) nonaktif, saya bisa membaca lah para politisi di Indonesia ini, khususnya PAN. Membacanya seperti apa, itu rahasia," katanya saat menghadiri Dialog Ekonomi Umat di Pondok Pesantren An Nur 1 Kabupaten Malang, Sabtu (27/4/2019) malam.
• Pemuda yang Retas Situs KPU Ternyata Cuma Tamatan SMP di Payakumbuh, Tertarik Internet Sejak SD
• Rudi Rohi: Beban Kerja Pemilu Tahun Ini Sangat Berat
• Optimis Raih Dua Kursi DPR RI, Esthon Sebut Gerindra Berikan Kader Terbaik
PAN merupakan partai pendukung pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. PAN berada satu koalisi dengan Partai Gerindra, PKS, Partai Demokrat dan Partai Berkarya pada Pemilu 2019.
Sedangkan, Soetrisno yang merupakan ketua MPP PAN memilih untuk berbeda sikap politik.
Soetrisno tetap berada di pihak pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin hingga akhirnya non-aktif sebagai ketua MPP PAN.
Namun demikian, Soetrisno enggan berkomentar lebih jauh soal pertemuan Zulkifli Hasan dan Jokowi. Meski sudah membaca arah politik PAN pasca-pemilu, Soetrisno melihat pertemuan Zulkifli dan Jokowi di Istana Negara merupakan pertemuan antar pemimpin lembaga negara.

"Itu kan Ketua MPR, Pak Jokowi itu Presiden. Ketemu yan biasa saja. Pertama saya sudah tidak aktif di PAN. Saya aktifnya di KEIN (Komite Ekonomi dan Industri Nasional) membantu presiden khususnya di bidang ekonomi dan industri. Kalau politik saya hanya baca di koran," ungkapnya.
Pertemuan Zulkifli Hasan dengan Presiden Joko Widodo di Istana Negara pada Rabu (24/4/2019) siang, menimbulkan berbagai spekulasi.
Banyak pihak yang menganggap bahwa PAN mulai menjajaki koalisi dengan Jokowi-Ma'ruf Amin yang unggul dalam Pemilu 2019 versi hitung cepat.
Sementar itu, Ketua Mahkamah Partai Amanat Nasional ( PAN) Yasin Kara mengakui pertemuan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dengan Presiden Joko Widodo bisa membuka peluang partainya bergabung kembali dengan kubu capres petahana.
"Membuka diri, kita tetap membuka diri. PAN partai paling rasional yang pernah ada. Bisa bergabung (ke Jokowi) bisa tidak," kata Yasin di Jakarta, Sabtu (27/4/2019).
Menurut Yasin, arah koalisi PAN ke depan akan tergantung dengan evaluasi internal pasca pemilu 2019 usai.
Jika dalam evaluasi tersebut PAN dinilai sudah cocok bersama koalisi parpol pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, maka PAN akan mempertahankan posisinya.
Namun, jika posisi PAN dinilai sudah tidak cocok di sana, maka bisa jadi PAN kembali mengalihkan dukungan dan bergabung dengan koalisi Jokowi.
"Pemilu ini menjadi ajang ujian menilai karakter sesungguhnya. Kaya teman itu kalau kita berteman dengan orang, menilai dia baik atau tidak itu jalan dulu satu atau dua minggu gitu sama-sama, nah kalau di situ lolos artinya teman baik tapi kalau dia tidak lolos artinya tidak pas, sama dengan pemilu ini," ujar dia.
Sebelum pilpres 2019, PAN sendiri sebenarnya ada di pemerintahan Jokowi. Namun menjelang pilpres PAN memutuskan untuk bergabung dengan koalisi Prabowo-Sandi dan menarik satu menterinya dari kabinet.
"Kita telah menggandeng koalisi ada Gerindra, PAN, PKS, Berkarya, berjalan seiring nih, ini kan saling uji itu cocok sini atau lebih cocok sana. Yang pasti bahwa pikirannya adalah kecocokan itu adalah dalam rangka membagun bangsa Indonesia ke depan," tambah dia.
Presiden Jokowi bertemu Zulkifli Hasan di Istana Negara Rabu (24/4/2019) lalu. Pertemuan ini dilakukan seusai pelantikan Gubernur Maluku Murad Ismail.
Zulkifli saat itu hadir di Istana sebagai Ketua MPR. Adapun Murad Ismail kebetulan adalah gubernur yang didukung oleh PAN.
Selain Jokowi dan Zulkifli, pertemuan di meja makan istana itu diikuti juga oleh Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto.
Hal serupa juga disampaikan Wakil Ketua Umum PAN, Bara Hasibuan. Menurutnya, meski kedatangan Zulkifli Hasan ke istana sebagai Ketua MPR, tapi posisi Ketua Umum PAN tetap melekat.
Oleh karena itu, ia menilai peristiwa tersebut sebagai bentuk kenegarawanan Zulkifli Hasan.
"Itu menunjukkan sikap kenegarawanan dari Pak Zulkifli sebagai ketua MPR dan posisinya tidak bisa dipisahkan Pak Zul adalah Ketum PAN," kata Bara di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (25/4/2019).
Bara mengatakan saat ini partainya sedang meninjau kembali posisi koalisi.
Karena menurutnya Pilpres telah usai.
"Yang jelas kita kan akan melihat posisi kita lagi ya, kan pemilihan presiden sudah selesai, ya jadi kita lihat nanti ke depannya gimana," katanya.
Yang terpenting saat ini menurutnya, Jokowi dan Zulkifli Hasansudah berkomunikasi.
Tinggal menurutnya apakah komunikasi tersebut akan berujung pada reposisi koalisi atau tidak.
"Yang penting sudah mereka bertemu dulu dan itu menunjukkan sikap kenegarawanan, ke depannya bagaimana apakah akan ada repositioning nanti kita lihat," kata dia.
Beda Pendapat di Internal PAN
Sebaliknya, Sekretaris Jenderal PAN, Eddy Soeparno membantah rumor akan ada reposisi koalisi partainya usai Pemilu 2019.
"Pak Zulkifli Hasan bertemu dengan Presiden di istana dalam pelantikan gubernur Maluku yang diusung antara lain oleh PAN."
"Gubernur Maluku yang dilantik juga teman pribadi Ketua Umum PAN," ujar Eddy melalui pesan tertulis, Jumat, (26/4/2019).
Lagi pula menurut Eddy, pertemuan antara Presiden dan Ketua MPR merupakan hal biasa meskipun secara politik tidak dalam satu koalisi.
Presiden dan Ketua MPR selalu selalu bertemu dalam acara kenegaraan.
"Pertemuan antara Ketua MPR dan Presiden adalah hal yang biasa, apalagi dalam sebuah acara resmi kenegaraan, seperti halnya pelantikan Gubernur," tuturnya.
Menurut Eddy, PAN konsisten berada dalam Koalisi Adil dan Makmur.
Partainya tetap berada di belakang Prabowo-Sandi, yang saat ini fokus mengawal proses rekapitulasi suara.
"Tidak perlu berspekulasi lebih jauh terkait pertemuan ini. Kita tetap konsisten berada di koalisi Adil Makmur. Jangan percaya rumor," ujarnya.
Sandiaga Uno Sebut Pertemuan yang Positif
Cawapres 02 Sandiaga Uno menyambut positif pertemuan antara Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dengan Presiden Jokowi.
Seperti dikutip dari Kompas.tv, Sandiaga Uno menilai jika pemilu berlangsung jujur dan adil, rekonsiliasi di tingkat elite juga akan terjadi.
Menurut Sandiaga Uno, pertemuan ini adalah hal yang wajar.
Sandi menambahkan, silaturahmi bisa menunjukkan pada masyarakat bahwa tidak ada persoalan di tingkat elit politik pascapemilu 2019.
"Silaturahim itu baik. Dan kita pastikan di antara elite politik ini memang tidak pernah ada permasalahan yang substansial," katanya.
Zulkifli Hasan Buka Suara
Pertemuan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu dianggap bukan lah pertemuan biasa oleh sebagian pihak.
Spekulasi bermunculan terkait pertemuan tersebut.
Bahkan pertemuan itu diisyaratkan sebagai bakal bergabungnya PAN ke Koalisi Indonesia Hebat yang selama ini menyokong Jokowi.
Pertemuan Zulkifli Hasan dengan Jokowi berlangsung, Rabu (24/4/2019) lalu.
Pertemuan berlangsung dalam bincang-bincang setelah pelantikan Murad Ismail dan Barnabas Orno sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku di Istana Negara Jakarta.
Dalam bincang-bincang itu, ada pula Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto.
Melalui akun Twitternya, @zul_hasan, Zulkifli Hasan menyatakan, kehadirannya dalam pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur sebenarnya hal rutin saja dalam tugas sebagai Ketua MPR.
"1. Terima kasih untuk pertanyaan2 terkait kehadiran saya di Istana. Kehadiran yg sebenarnya rutin saja dalam tugas sebagai Ketua MPR," tulisnya.
Zulkifli Hasan menegaskan, dirinya hadir dalam pelantikan Gubernur Maluku bukan sebagai Ketua Umum PAN, melainkan sebagai Ketua MPR.
Dalam kapasitasnya sebagai Ketua MPR ini, ia juga mengaku hadir dalam pelantikan gubernur-gubernur lainnya.
Terlebih, Murad Ismail yang dilantik sebagai Gubernur Mauluku adalah sahabat Zulkifli Hasan dan PAN mengusungnya di Pilkada Maluku.
Zulkifli melanjutkan, saat ini kader PAN di seluruh Indonesia masih fokus mengawal perolehan suara partai dan Pilpres.
Zul menutup cuitannya dengan ajakan untuk menjaga persaudaraan.
"4. Saudaraku dan sahabat semua, Di masa masa krusial penghitungan suara ini, mari tetap jaga dan rekatkan persaudaraan kita sesama anak bangsa. Pilihan boleh beda, Merah Putih kita tetap sama," tulisnya.
Saling Curahkan Pengalaman Kampanye
Sementara itu, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyatakan, pada pertemuan Presiden Jokowi dan Zulkifli Hasan yang diikuti juga Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh, hanya saling mencurahkan pengalamannya saat kampanye Pemilu 2019.
Hal tersebut terjadi setelah pelantikan gubernur dan wakil gubernur Maluku di Istana Negara, Jakarta, Rabu (24/4/2019).
Mereka berbincang di ruang belakang Istana Negara, lokasi berkumpulnya para tamu undangan.
Hasto mengatakan, perbincangan membicarakan kondisi kampanye yang sangat panjang selama delapan bulan dan banyak diwarnai berita bohong atau hoaks maupun fitnah yang ditujukan kepada peserta Pemilu 2019.
"Pak Zul (Zulkifli) juga banyak menyampaikan pengalamannya dalam kampanye delapan bulan yang melelahkan. Delapan bulan terlalu panjang untuk berkontestasi," kata Hasto di komplek Istana Kepresidenan.

Menurut Hasto, pembicaraan terkait pengalaman selama delapan bulan terakhir disampaikan secara akrab satu dengan lainnya, di mana semuanya setuju untuk bersatu mengutamakan kepentingan umum.
"Masing-masing menyampaikan pengalamannya dalam kampanye kemarin. Saatnya semua berpikir tentang rekonsiliasi untuk bangsa dan negara," katanya.
Sementara terkait pertemuan antara Jokowi dan Prabowo, kata Hasto, secara khusus tidak dibicarakan.
Tetapi, Zulkifli yang berkapasitas Ketua MPR dan juga Ketua PAN menyampaikan masukan untuk bersama-sama memikirkan langkah ke depan.
"Kita bersama-sama memikirkan langkah-langkah terbaik, apalagi kita sebentar lagi bulan puasa, seluruh umat Islam menjadikan kebangkitan untuk bangsa dan negara," ujar Hasto.
"Kami percaya bahwa seluruh pimpinan bangsa memiliki niatan baik karena Indonesia dibangun dengan cita-cita besar, pemilu sudah berjalan dengan baik, rakyat sudah memilih dengan kedaulatannya untuk menentukan siapa yang terbaik," tambah dia.
Tanggapan Wakil TKN Arsul Sani
Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional ( TKN) Jokowi-Ma'ruf, Arsul Sani mengatakan, internal TKN belum membahas peluang untuk menerima dukungan partai pendukung calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
Hal ini disampaikan ketika ditanya soal Partai Amanat Nasional yang membuka peluang untuk mendukung kubu capres petahana.
"Partai-partai Koalisi Indonesia Kerja (KIK) belum tertarik untuk mendiskusikan di internal KIK tentang wacana di atas. Bagi kami masih terlalu pagi untuk mendiskusikan soal itu," ujar Arsul ketika dihubungi, Minggu (28/4/2019).
Arsul menilai wacana tersebut sebagai diskursus internal PAN saja. TKN Jokowi-Ma'ruf tidak ingin terlalu jauh menyikapi perdebatan itu. Menurut dia, hal yang lebih penting saat ini adalah mengawal penghitungan suara.
"Fokus kami saat ini adalah mengawal penghitungan suara pilpres yang secara konsisten menunjukkan keunggulan paslon 01 dalam perolehan suara," ujar Arsul. (Kompas.com/Tribunnews.com/POS-KUPANG.COM/bebet)