Renungan Harian Kristen Protestan

Renungan Harian Kristen Protestan Rabu 3 April 2019: "Lindungi Anak-anak Kita dari Miras"

Renungan Harian Kristen Protestan Rabu 3 April 2019: "Lindungi Anak-anak Kita dari Miras"

Renungan Harian Kristen Protestan Rabu 3 April 2019:
istimewa
Pdt DR Mesakh A P Dethan MTh MA 

Tetapi sesungguhnya kepala dikendalikan oleh apa? Ternyata kepala di kendalikan oleh hati. Sehingga alkitab selalu berbicara orang berhikmat adalah orang yang baik hatinya atau bersih dan suci hatinya. Menurut Amsal 14:33 Himat tinggal di dalam hati orang berpengertian, tetapi tidak dikenal di dalam hati orang bebal.

Orang berhikmat membangun hidupnya tetapi orang bodoh justru menghancurkannya.

Membangun perilaku yang berhikmat adalah kebutuhan dasar orang beriman.

Orang berhikmat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya. Namun kurangnya hikmat akan membuat orang bertindak tanpa kendali diri.

Bersih dan jujurnya seseorang dikenali dari perbuatannya, dan menurut penulis Amsal fondasi itu sudah harus diletakkan sejak kanak-kanak.

Peranan orang tua, sekolah dan pemerintah dan masyarakat peduli anak dalam konteks ini adalah bagaimana mempersiapkan anak-anak mengembangkan perilaku yang benar sejak dini.

Peranan orang tua termasuk memberi ruang bagi anak-anak mengembangkan minat dan bakat yang benar yang berkenan kepada Tuhan.

Perilaku yang harus dihindari menurut penulis amsal adalah menghindari minat dan bakat kepada minuman keras dan mabuk-mabukan.

Mungkin bagi sebagian orang, minuman keras di antara para sahabat bukanlah pesoalan besar. Apalagi sedikit bermabuk-mabukan tak apalah, demikian anggapan mereka yang hobi minuman keras.

Bahkan bermabuk-mabukan dianggap seolah-olah sebagai bentuk pergaulan dalam masyarakat. Malah seseorang bisa saja dikucilkan atau dianggap bukan bagian dari group kalau tidak ikut mabuk.

Hal inilah yang justru dikritisi oleh penulis Amsal 20:1-14. Karena perilaku mabuk oleh Miras bukan ciri orang berhikmat, tetapi ciri orang bodoh.

Berikut ini ciri-cirinya: terhuyung-huyung karenanya (ayat 1); membangkitkan perbantahan dan kemarahan karenanya (ayat 2); membangkitkan kemalasan karenanya (ayat  4 dan 13); membangkitkan kecurangan dan kesusahan bagi orang lain karenanya (ayat 10 dan 14).

Tidak ada orang mabuk berat karena Miras yang jalannya tegap, tetapi akan terhuyung-huyung. Bahkan mereka cenderung kehilangan orientasi.

Saya pernah memperhatikan dua orang mabuk berjalan pulang ke rumah mereka. Yang satu menyangka mereka harus ke arah Barat, sementara yang satu menyangka harus ke arah Timur, akhirnya umpatan dan cacian keluar dari mulut mereka ketika saling berbantahan, karena masing-masing yakin bahwa dia yang benar karena masih cukup “WARAS”, sementara yang lain tidak.

Bahkan ada orang yang mabuk karena Miras menabrakan mobilnya ke Badan trotoar jalan dan membuat mobilnya rusak dan ia sendiri terluka.

Coba perhatikan hidup para pemabuk apakah mereka adalah para pekerja keras? Sama sekali tidak. Seperti yang dikatakan Amsal 20: 4 dan 13, minum mabuk hanya menimbulkan kemalasan dan pada akhirnya hanya mendatangkan kesusahan bagi yang bersangkutan (Amsal 20:10 da 14).

Oleh karena itu bagi penulis Amsal orang beriman mestinya mengembangkan perilaku yang berkenan kepada Tuhan: yaitu  pada satu sisi mengembangkan sikap hidup yang mencerminkan karakter Tuhan dan pada sisi  yang lain memperlihatkan kasih dan kemuliaan Tuhan dalam keseluruhan hidupnya.

Belajar membumikan Firman Tuhan dalam perilaku sehari-hari adalah ciri orang berhikmat.

Menjauhkan diri dari perbantahan dan merencanakan masa depan dengan baik. Berlaku bijak dalam segala waktu.

Berhikmat dalam segala waktu, bukan dalam hari tertentu saja untuk hidup jujur dan bersih dihadapan Tuhan dan sesama.  Amsal 4:23 berkata: jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

********

Editor: Eflin Rote
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved