Opini Pos Kupang

Perempuan NTT di Persimpangan Jalan

Beberapa bulan yang lalu masyarakat NTT sempat dihebohkan dengan wacana peraturan Gubernur (Pergub) NTT pelegalan miras

Perempuan NTT di Persimpangan Jalan
POS KUPANG.COM/HERMINA PELLO
Salah saat pekerja di sentra Tenun Ikat Ina Ndao sedang menenun. 

Bagi saya ada baiknya, dalam konteks menjaga, mempertahankan dan melestarikan kearifan lokal yang mana tenun ikat sebagai salah satu potensi besar atau kekayaan NTT yang tidak dimiliki daerah lain, patut diapresiasi pemikiran gubernur yang satu ini.

Semangat kemandirian seorang perempuan NTT diukur dari keahliannya menenun.

Menenun pada umumnya menjadi pekerjaan perempuan NTT saat musim kemarau, dulunya menenun hanya dilakukan untuk kebutuhan sandang.

Tetapi karena perubahan zaman dan tuntutannya, menenun berevolusi menjadi industri rumahan (home iindustry).

Tenun merupakan salah satu kain tradisional Indonesia yang banyak diproduksi di seluruh nusantara, salah satunya adalah Nusa Tenggara Timur.

Tenun juga sebagai salah satu warisan budaya leluhur yang mencerminkan jati diri bangsa atau setiap daerah dimana tenun tersebut dibuat.

Tenun memiliki nilai, makna, sejarah dari segi warna, motif dan bahan yang digunakan.

Selain itu sudah seharusnya menenun dimasukkan ke dalam kurikulum pembelajaran di sekolah atau semacam kegiatan ekstra kulikuler, supaya mengenalkan tenun ikat sejak dini pada generasi muda.

Seperti yang dimaksud oleh gubernur bahwa perda terkait perempuan NTT menenun dimaksudkan agar perempuan-perempuan di NTT dapat memiliki kemampuan dasar dan keutamaan dalam menenun kain tenun.

Pemikiran gubernur yang visioner ini tentunya beralasan, merujuk pada usaha untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan lokal yang ada di NTT.

Halaman
1234
Editor: Ferry Jahang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved