Mery Kolimon Tak Ingin Siswa Seperti Robot

Sinode GMIT menggelar kegiatan Konsultasi Gereja-Pendidikan dan Konven Kepala Sekolah GMIT.

Mery Kolimon Tak Ingin Siswa Seperti Robot
POS KUPANG/AMBUGA LAMAWURAN
Kegiatan Konsultasi Gereja Pendidikan dan Konven Kepala Sekolah GMIT yang diselenggarakan di Gedung LPMP Provinsi NTT, Minggu (24/2/2019). 

Mery Kolimon Tak Ingin Siswa Seperti Robot

POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Sinode GMIT menggelar kegiatan Konsultasi Gereja-Pendidikan dan Konven Kepala Sekolah GMIT.

Kegiatan itu diselenggarakan di Gedung LPMP provinsi NTT, Minggu (24/2/2019).

Salah satu hal yang dibahas dalam pertemuan itu ialah pola pendidikan yang selama ini terjadi.

"Kurikulum pendidikan GMIT menghadapi tantangan. Dalam perkembangan sekarang ini kita menjawab tantangan, dan kadang orang bekerja seperti robot. Lalu bagaimana dengan anak-anak saya di GMIT? Pola pendidikan kita yang kita kembangkan tak boleh menghasilan anak-anak pasif," kata Mery, Minggu (24/2).

Untuk kepentingan ini, Mery menyinggung nama seorang tokoh pendidikan dari Amerika Latin.

Kopdit Swasti Sari Tumbuh di Atas 20 Persen

Lakalantas di Kelurahan Airnona, Pemuda Asal Baumata Dilarikan ke Rumah Sakit

Wakapolda NTT Sebut Situasi Sudah Kondusif Pasca Bentrok Antar Warga di Kabupaten Alor

Bupati Malaka Tantang Orang Hebat Yang Berkomentar Miring Tentang Proyek Garam

"Paulo Freire dari Amerika Latin membedakan pendidikan seperti botol kosong dan guru datang mengisinya dengan air. Atau, kita menerapkan pola pendidikan yang kreatif dengan percaya bahwa tuhan menciptakan manusia dengan segala keberagamaan," katanya.

Tugas gereja dan pendidik, lanjutnya, adalah menemukan dan mengembangkan bakat dan talenta siswa tersebut.

Alex Ena, Ketua Umum Panitia Konsultasi Gereja - Pendidikan dan Konven Kepala Sekolah GMIT, mengatakan ada 555 kepala sekolah yang hadir pada kesempatan ini.

"Tujuannya untuk membahas dan merumuskan hal-hal berkaitan dengan kualitas pendidikan GMIT. Tujuannya, bersama para pemangku kepentingan di bawah GMIT melakukan diskusi untuk mencari jalan keluar," katanya.

Dikatakan, saat ini sekolah-sekolah di bawah GMIT mengalami masa kritis.

Bupati Malaka Tantang Orang Hebat Yang Berkomentar Miring Tentang Proyek Garam

Hari ini, Wakapolda NTT Ke Lokasi Bentrokan Warga

ARMY BTS Terharu Lihat V BTS Lakukan Hal Ini Terhadap Seorang Anak

"Ini dilatari banyak hal. Pertama, jumlah sekolah di bawah GMIT sangat banyak. Ada 594 sekolah di bawah GMIT. Ada 209 PAUD, 320 SD, 39 SMP, 20 SMA dan 6 Pendidikan Tinggi. Di satu sisi, GMIT memiliki keterbatasan dana.
Selain itu muncul juga sekolah-sekolah model yang memiliki sarana prasarana yang lebih lengkap," jelas Alex.

Karena itu, baginya pertemuan kali ini esensinya sangat penting.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ambuga Lamawuran)

Penulis: Lamawuran
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved