Berita Cerpen
Cerpen Ridho Soni : Meti
Sementara ibu masih sibuk menanak air mata di atas tungku dan Meti masih saja kebingungan.
Penulis: PosKupang | Editor: Apolonia Matilde
"LONCENG Angelus yang mengumandang, denting piano yang belum selesai dimainkan, hanya separuh dari ingatan yang masih hitam putih, tanpa warna.
Tangisan-tangisan yang pecah, dan cahaya lilin yang memudar hanya sedikit pertanda dari doa-doa yang belum habis dilafalkan. Sementara ibu masih sibuk menanak air mata di atas tungku dan Meti masih saja kebingungan membagikan potongan jari- jemarinya untuk makan kami yang menggelepar kelaparan.
Malam tiba dan bintang bergerak pelan. Di dalam kamar, ibu berlutut di depan arca "Sang Bunda" dengan lantunan doa yang tercekat di lehernya.
Sekali lagi, aku berdiri menghitung sisa jari Meti yang belum dikurbankan dan tetes air mata ibu yang entah telah berapa banyak kutelan."
• Anda Ingin ke Benoa Menggunakan Kapal Pelni ? Ini Jadwalnya
***
Kami berempat duduk melingkari perapian yang sementara menyala ini dengan saling berpandangan. Hening, tak ada kata dan tak ada suara yang mampu keluar dari dalam mulut kami.
Mentari seolah tak menyapa kami pagi ini, hanyalah kabut dan gerimis yang datang dan mengiris. Meti tertunduk, ibu menangis tanpa suara dan kami berdua duduk memegang perut sambil bergantian memandang mereka berdua.
Tungku itu masih menyala, asap itu masih mengepul, dan periuk itu masih menggantungkan isi perut kami yang masih kosong tak terisi. Hanya diam dan air matalah santapan kami yang paling hangat pagi itu.
Kami hanyalah orang biasa yang tidak pernah tahu apa itu arti bahagia, selain dapat menyantap sepiring nasi hangat dari atas tungku kami yang menyala, dan mampu menghilangkan dahaga kami dengan segelas air putih yang bercampur dengan keringat lelah Meti dan air mata syahdu ibu.
Jangan tanyakan kami tentang sekolah, tanyakanlah kami tentang bagaimana caranya mengais air mata dari balik tumpukan tanah yang terbelah dan jangan tanyakanlah kami tentang buku-buku pelajaran, tetapi tanyakanlah kami tentang sabda-sabda yang menghantarkan Lasarus dari penderitaan dan kelaparannya menuju surga abadi.
• Debat Capres Kedua, Greenpeace Bantah Pernyataan Jokowi Soal Tak Ada Kebakaran Hutan Selama 3 Tahun
***
Dua lelaki kekar datang bertamu ke rumah kami di pagi itu. Tamu pertama yang pernah singgah, dan tamu pertama yang hanya mampu kami jamu dengan sejuta cerita tentang penderitaan dan tangisan kami.
Sambil memamah sirih dan melinting tembakau, mereka tersenyum ke arah kami berempat. Senyuman yang ramah bagi Meti, namun senyuman yang agak sedikit aneh bagiku.
Ada anyir darah yang terselip di antara lipatan sirih dan ada aroma kematian yang terselip di antara asap tembakau yang mengepul.
Sebelum beranjak pergi kulihat mereka masih bersalaman dengan Meti dan masih menyelipkan sebuah kantong ke dalam saku ibu.
Tak tahu apa yang mereka berikan, tetapi kulihat ada senyuman yang keluar dari bibir Meti dan ada kegetiran yang bergetar di bola mata ibu.
Kami berdua hanya duduk sambil berpandangan. Sepi menyambut, sepi menyelimuti, sepi mengitari. Lalu kembali melodi itu datang menghampiri, kami menangis.
***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/meti.jpg)