Berita NTT

LIVE STREAMING: Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat Turun ke Jalan Bersihkan Sampah, ASN Panik?

LIVE STREAMING Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat Turun ke Jalan Bersihkan Sampah, ASN panik?

LIVE STREAMING: Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat Turun ke Jalan Bersihkan Sampah, ASN Panik?
POS KUPANG/OBY LEWANMERU
Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laikodat memilih sampah yang berada di Jalan Adisucipto Penfui, Sabtu (19/1/2019) 

Obed mengatakan tupoksi Dinas Kebersihan sudah jelas, yakni mengangkut sampah dari tempat pembuangan sampah (TPS) ke tempat pembuangan akhir (TPA). Namun masalah yang dihadapi, perilaku masyarakat tidak membuang sampah di TPS dan pemulung masih mengorek-ngorek sampah.

Dia mengakui Dinas Kebersihan kekurangan tenaga penyapu, sopir, awak dan taman. Pihaknya masih membutuhkan 200 lebih tenaga.

"Kalau masyarakat menuntut maka harus diberikan kendaraan. Kami diperintahkan kerja tapi fasilitas kurang. Dulu gubernur pernah menjanjikan lima dump truk tapi sampai sekarang tidak pernah diberikan," terangnya.

Obed menyadari tidak bisa jalan sendiri tapi perlu kolaborasi dengan lurah dan RT agar kota menjadi bersih.

Selain itu, bekerja sama dengan Dinas Perhubungan untuk melakukan operasi tempat sampah di dalam kendaraan. Tujuannya agar jangan membuang sampah sembarangan.

"Sekarang kita sudah ada mobil patroli sampah. Malau didapati orang membuang sampah pada pukul 10.00 Wita dan pukul 17.00 Wita maka langsung dikenakan denda," ujarnya.

Obed menyebut kelurahan penghasil sampah terbanyak adalah Oesapa, Kuanino, Nunbaun Sabu, Lai-Lai Besi Kopan (LLBK), Bonipoi, Kampung Solor dan Kelurahan Fatubesi.

Jika dilihat per instansi/lembaga maka Bagian Umum Setda Kota Kupang sebagai penghasil sampah terbanyak.

Mengenai armada, Obed menjelaskan ada 36 armada melayani 51 kelurahan.

Satu armada mengangkut sampah sekitar 6-8 kubik, setiap hari masing-masing armada tiga kali beroperasi.

Menurut Obed, idealnya setiap kelurahan dilayani satu armada. Sedangkan jumlah petugas kebersihan sebanyak 253 orang.

Sekretaris Komisi III DPRD Kota Kupang, Nithanel Pandie mengatakan, predikat kota terkotor menampar wajah Kota Kupang.

Dia merasa prihatin karena seolah-olah semuanya tidur dan tidak bekerja. "Ini merupakan tamparan buat semuanya," kata Nithanel.

Namun dia berdalih, kondisi saat ini masih dalam transisi karena pembangunan fisik sedang dilaksanakan yang membuat lingkungan semrawut.

"Jika penilaian dilakukan dari jauh hari sebelum pembangunan dilaksanakan maka Kota Kupang bisa keluar dari zona tersebut," ujarnya.

Dia menyarankan agar pihak Dinas Kebersihan mengganti pola kerja. "Kalau dulu mereka beramai-ramai mencabut rumput tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Kemudian pembenahan model kerja."

Anggota Komisi III DPRD Kota Kupang, Tellend Daud Mark mengatakan, Walikota Kupang Jefri Riwu Kore sedang bersemangat mempercantik kota dengan lampu hias dan ruang terbuka hijau.

Tapi ternyata di sisi lain ada penilaian Kupang menjadi kota terkotor.

"Jangan hanya mempercantik tapi juga dilihat dari semua sisi. Mengapa terkotor? Misalnya ada pembangunan infrastruktur yang tidak dilengkapi dengan drainase, akhirnya di musim hujan masyarakat membuang sampah di drainase lalu meluap di jalan sehingga semakin kotor," katanya.

Tellend mengusulkan agar Pemkot Kupang memperbanyak TPS.

Penentuan dan penempatan TPS harus di tempat yang tepat. Hal lainnya yang harus dilakukan adalah senantiasa mengimbau masyarakat agar membuang sampah di tempatnya.

"Kita juga melihat jumlah armada sangat kurang sehingga perlu ada intervensi anggaran untuk pembelian armada angkut sampah. Mungkin juga bisa intervensi terhadap pembelian armada mobil penyapu jalan. Pemanfaatan kendaraan sesuai perencanaan penggunaan," terangnya.

Sehari setelah KLHK mengumumkan Kota Kupang sebagai kota terkotor, berdasarkan pemantauan Pos Kupang, sejumlah tumpukan sampah ditemukan di beberapa lokasi, di antaranya di Pantai Warna Oesapa.

Mengetahui ada sampah, Lurah Oesapa Kiai Kia langsung menginformasikan kepada pihak Dinas Kebersihan.

Beberapa saat kemudian, sejumlah petugas kebersihan tiba di lokasi dan mengangkut sampah menggunakan mobil sampah.

Kia menjelaskan, sampah di Pantai Warna kadang banyak dan menumpuk karena mendapatkan sampah tadahan.

"Oesapa ini banyak sampai tadahan. Ini juga lokasi pasar, dikunjungi semua orang. Kalau kesadaran rendah berarti agak repot. Saya baru habis bicara dengan orang bahwa kalau habis makan harus buang sampah pada tempatnya," ujar Kia saat ditemui di Pantai Warna Oesapa, Selasa (15/1/2019).

"Saya baru dilantik. Saya memang harus lebih banyak di lapangan," tambahnya.

Dia mengimbau warganya menerapkan cara hidup sehat, dengan jalan membuang sampah pada tempatnya. Kebersihan Pantai Warna Oesapa juga menjadi tanggungjawab Paguyuban Pantai Warna Oesapa.

"Kami diberi kewenangan mengelola, menata, juga menjaga kebersihan dan keamanan," jelas Wakil Ketua Paguyuban Pantai Warna Oesapa, Ruben Z Giri saat mendampingi Lurah Oesapa.

"Sampah-sampah selama ini banyak. Hari ini sudah diangkut. Ke depan, semua warga di sini bisa bersama-sama menjaga kebersihan," ujarnya.

Sementara itu Ketua RT 26 RW 10 Kelurahan Naikoten 1, Rinto Nugraha (35) mengatakan warganya yang tinggal di bantaran kali tepat di belakang Pasar Kasih sering mengeluhkan bau busuk.

Kali dimaksud sebagai tempat pembuangan limbah rumah tangga serta limbah dan sampah dari pedagang Pasar Kasih.

"Itulah keluhan semua warga yang ada. Hampir setiap hari mereka mengeluhkan bau dari kali. Jadi kami di sini bisa dibilang sebagai korban," kata Rinto saat ditemui Selasa siang.

"Kondisi tersebut sudah berlangsung selama belasan tahun. Kami yang menerima akibatnya," tambahnya.

Menurut Rinto, sudah berulang kali mengimbau warga menjaga kebersihan lingkungan dengan membuang sampah di TPS.

Rinto menilai ada tumpang tindih tugas dan tanggungjawab dalam urusan kebersihan di wilayah Pasar Kasih.

Dikatakannya, harus ada pembagian tugas dan fungsi yang jelas antara PD Pasar Kasih selaku pengelola pasar dan Dinas Kebersihan Kota Kupang.

"Ada dua kubu yang saling melemparkan tanggungjawab. Ada PD Pasar Kasih dan Dinas Kebersihan Kota Kupang. Saya bingung dengan PD Pasar, apa sih kerjanya? Setiap hari menarik retribusi dari seluruh pedagang yang ada, tapi apa yang dia buat untuk jaga kebersihan?" keluhnya

Rinto menjelaskan, kondisi kali sedikit lebih baik. Pasalnya di tahun 2018 lalu, pihak Dinas Kebersihan membersihkan kali.

Apa yang dilakukan Dinas Kebersihan diapresiasi warga sekitar.

Warga RT 26 Kelurahan Naikoten I, Ryfal Badjo (36) menambahkan, selain mencemari lingkungan, sampah dan limbah mengakibatkan banyak anak terserang diare dan demam berdarah dengue (DBD).

"Banyak yang sakit karena lalat yang berasal dari sampah dan limbah itu kan ada," kata Ryfal.

Lurah Naikoten I, Budi Izaac SH mengatakan, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, pihak kelurahan melaksanakan Jumat Bersih.

Program Jumat Bersih merupakan kegiatan turunan dari Pemkota Kupang. Pihaknya senantiasa menggandeng elemen masyarakat dari RT dan RW.

"Memang kalau kebersihan, saat Jumat bersih saya lihat ada konsentrasi sampah di mana saya ajak masyarakat bersama-sama bersihkan," ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya.

Menurutnya, program Jumat Bersih sebagai langkah konkret mengatasi masalah kebersihan lingkungan.

"Sekarang dinas kebersihan sudah baik. Setiap sampah di TPS-TPS saat pagi hari sudah diangkut." katanya.

Dia mengharapkan partisipasi aktif dan tumbuh kesadaran masyarakat untuk secara kolektif menanggulangi masalah sampah.

Selama ini, atensi dan kesadaran masyarakat masih sangat kurang.

Reaksi Wakil Walikota

Wakil Walikota Kupang, dr. Herman Man menanggapi penganugerahan Kota Kupang sebagai kota terkotor oleh KLHK. Menurutnya, sebuah kota kotor tidak hanya menyangkut pemerintah.
Wakil WaliKota Kupang, dr. Herman Man

"Pemerintah memiliki Dinas Kebersihan, fasilitas dan tenaga kerja tapi kota tetap saja kotor. Hal ini berarti masyarakat harus terlibat dalam penanganan sampah," tandas Herman, Selasa (15/1/2019).

Herman mengatakan, dirinya telah menyampaikan kepada semua pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), camat dan lurah agar melibatkan masyarakat dalam menjaga kebersihan kota.

"Kalau tidak percuma. Pemerintah membeli truk dan menggaji ratusan tenaga kerja, itu uang rakyat. Kalau rakyat sia-siakan uang itu, menurut saya itu juga tidak bagus," katanya.

Wakil Walikota Kupang dua periode ini mengajak masyarakat untuk tertib dalam membuang sampah.

Karena uang yang dialokasikan untuk Dinas Kebersihan berjumlah hingga miliaran rupiah.

Herman kembali menekankan, jika uang miliaran dipakai Dinas Kebersihan tapi kota tetap saja kotor, berarti masyarakat juga harus mengubah perilaku untuk tidak membuang sampah.

Ia menegaskan, pemerintah akan mengambil langkah konkret untuk mengatasi kebersihan di Kota Kupang, dimulai dari kelurahan. Pada Jumat pekan ini, pihak Dinas Kebersihan mempresentasikan manajemen pengelolaan sampah.

"Dari manajemen pengelolaan sampah tersebut, apa yang tidak bagus nanti kita lihat. Bagaimana sistem pengelolaan sampah? Tapi itu di luar sampah pasar karena pasar juga kumuh," ujarnya.

Menurutnya, orang yang berjualan di pasar harus ditertibkan.

Begitu juga dengan orang yang menjual daging di sembarang tempat. Pemerintah meminta dukungan warga untuk terlibat bersama.

Mengenai sarana dan prasarana, Herman mengatakan, truk pengangkut sampah sudah beroperasi satu hari tiga kali dan itu cukup.

Maka dari itu harus dimulai dari pengurangan sampah rumah tangga dan orang harus mulai sadar membuang sampah di tempatnya.

Rumah Sampah

Di Kota Kupang, ada Rumah Pelayanan Sampah Terpilah.

Rumah Sampah yang beralamat di Jalan TDM IV Kelurahan Oebufu itu sudah diuji coba.

Rumah Sampah akan dimanfaatkan warga RW 1 Kelurahan Oebufu dan warga RW 6 Kelurahan Tuak Daum Merah (TDM), Kecamatan Oebobo.

Kehadiran Rumah Sampah diharapkan bisa mengurai persoalan sampah yang selama ini menjadi momok.

"Lokasi itu memang salah satu titik rawan sampah sehingga memang harus ada terobosan untuk menangani hal itu," kata Lurah Oebufu, Zet Batmalo saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (15/1/2019).

Rumah Sampah dibangun menggunakan dana bantuan dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi NTT yang bekerja sama dengan PT Pertamina.

Selain Rumah Sampah, Kelurahan Oebufu dan TDM juga mendapatkan sepeda motor sampah dan mesin pencacah sampah.

Menurut Zet pembangunan Rumah Sampah serta pengadaan sarana dan prasarana merupakan bagian dari program Penanganan Sampah Mandiri Berbasis Masyarakat.

Pihak kelurahan sudah membentuk pengurus Penanganan Sampah Berbasis Masyarakat dan membuat surat keputusan (SK) bersama antara Lurah Oebufu dan Lurah TDM.

Selain itu membuat struktur kelembagaan, membuat mekanisme pembuangan, pengangkutan serta pemilahan sampah termasuk besaran kontribusi dari warga.

Para petugas sampah atau badan pengurus yang sudah dibentuk, akan mengangkut sampah dari depan rumah-rumah warga kemudian dibawa ke Rumah Sampah.

Di Rumah Sampah, petugas sampah akan memilah mana sampah yang masih bisa didaur ulang dan mana yang bisa dibuat pupuk kompos serta mana sampah yang tidak bisa didaur ulang.

"Yang tidak bisa digunakan sama sekali itu yang akan dibuang di dalam bak dan diangkut oleh petugas dinas kebersihan," urainya.

Zet menjelaskan, setiap bulan warga wajib memberikan kontribusi.

Uang kontribusi ini dibagi ke dalam tiga kategori.

Kategori rumah tangga, kontribusinya minimal Rp 10 ribu per bulan, kategori usaha kecil minimal Rp 20 ribu per bulan dan kategori usaha besar minimal Rp 25 ribu per bulan.

Dana kontibusi ini digunakan untuk membayar jasa pengangkut dan pemilah sampah serta pemeliharaan sarana dan prasarana.

"Supaya program ini bisa berjalan baik, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi NTT tetap mendampingi dan menyediakan dana intensif bagi para petugas selama 10 bulan sebelum badan pengurus bisa bekerja mandiri. Ini nanti akan jadi pilot project," kata Zet.  (TIM POS KUPANG)

Penulis: Oby Lewanmeru
Editor: OMDSMY Novemy Leo
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved