Sebanyak Ini Produksi Sampah Medis dari 12 Rumah Sakit di Kota Kupang

Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) yang dihasilkan sepuluh rumah sakit pemerintah dan swasta di Kota Kupang mencapai

Sebanyak Ini Produksi Sampah Medis dari 12 Rumah Sakit di Kota Kupang
ilustrasi

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) yang dihasilkan sepuluh rumah sakit pemerintah dan swasta di Kota Kupang mencapai 83 ton lebih. Jumlahnya terus bertambah sehingga terjadi penumpukan. Pengolalaan sampah medis kering ini tidak dilakukan secara baik lantaran tidak semua rumah sakit memiliki insinerator.

Rumah sakit terbanyak yang memproduksi limbah adalah RSUD Prof. Dr. WZ. Johannes Kupang mencapai 26.112,0 Kg atau 26 ton lebih. Kemudian disusul Rumah Sakit SK Lerik sebanyak 19 ton dan Rumah Sakit Tentara (RST) Wira Sakti Kupang dengan 10 ton lebih.

Sementara Rumah Sakit St. Carolus Boromeus dan Rumah Sakit TNI Angkatan Udara (AU) El Tari mampu mengolah limbah B3 karena punya insinerator atau alat pembakar sampah medis

Ramalan Zodiak Selasa 15 Januari 2019, Taurus Konflik, Scorpio Gembira, Sagitarius Kacau

Drakor Clean With Passion For Now Rating Tertinggi di Episode 1, Malam ini Episode 2 Tayang

BERITA POPULER: Hadiah Istimewa Jennie BLACKPINK Untuk Kai EXO Duet Jet Tempur & Pesona Jungkook BTS

Demikian data yang dirilis Dinas Lingkungan Hidup Provinsi NTT yang diterima, Jumat (11/1/2019). Limbah B3 yang dihasilkan rumah sakit merupakan akumulasi selama Januari-September 2018 yang sampai kini belum tertangani secara baik.

Limbah B3 adalah zat atau bahan-bahan lain yang dapat membahayakan kesehatan atau kelangsungan hidup manusia, makhluk lain, dan atau lingkungan hidup. Karena sifat-sifatnya itu, bahan berbahaya dan beracun serta limbahnya memerlukan penanganan yang khusus.

Jumat siang itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi NTT, Drs. Benyamin Lola,
M.Pd datangi RSUD Prof. Dr. WZ. Johannes Kupang. Didampingi Kepala Seksi Pengolahan Sampah dan Limbah B3, Frans Tola, pria yang akrab disapa Beni menemukan limbah B3 menumpuk di sekitar ruangan Poli Anak dan Kebidanan.

Limbah B3 itu tidak berserakan. Diisi dalam dos, karung dan kantong plastik kemudian diletakkan tersusun. Ada juga yang ditutup dengan jaring biru. Di lokasi itu ada dua tumpukan besar limbah B3. Terdapat plang dengan tulisan dilarang masuk ke tumpukan limbah.

Setelah memantau, Beni Lola dan Frans Tola menemui Wakil Direktur Pelayanan RSUD Prof. Dr. WZ. Johannes Kupang, dr. Minah Sukri, MARS. Beni mengatakan, persoalan limbah medis menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT. Menurutnya, Pemprov NTT sudah dua kali menyurati Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI.

Isi surat meminta rekomendasi pembakaran limbah B3 rumah sakit di Kota Kupang oleh PT. Sarana Agra Gemilang. Namun sampai saat ini belum ada jawaban. "Kami sudah dua kali bersurat ke Menteri LHK untuk meminta rekomendasi semacam penugasan kepada PT. Sarana Agra Gemilang untuk melakukan pembakaran limbah B3. Tapi sejauh ini belum ada rekomendasi dari Menteri LHK sehingga limbah-limbah itu masih menumpuk di rumah sakit," terang Beni.

Menurut Beni, surat pertama dilayangkan pada tanggal 11 April 2018, ditandatangani Gubernur NTT, Frans Lebu Raya. Sedangkan surat kedua tanggal 11 Oktober 2018 ditandatangani Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat.

Halaman
12
Penulis: Lamawuran
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved