Berita NTT Terkini

Berkat Sumur Bor, Julius Pellondou Bisa Bangun Rumah Tembok

Berkat sumur bor yang dibangun Proyek Pengembangan Air Tanah (P2AT), Julius Pellondou bisa bangun rumah tembok

Berkat Sumur Bor, Julius Pellondou Bisa Bangun Rumah Tembok
POS-KUPANG.COM/KANIS JEHOLA
PPK Kegiatan Air Tanah dan Air Baku I BWS NT II NTT, Yohanes J Fernandez, ST, M.Si dan staf (baju putih) foto bersama para petani di kebun lombok, Rabu (19/12/2018) 

"Saat datang ke P2AT, saya janji dan tantang mereka (petugas P2AT). Saya bilang begini, kalau bapak kabulkan permintaan saya bangun sumur bor, maka lima tahun setelah itu saat bapak datang ke rumah saya, saya sudah tidak tinggal di rumah bebak beratap daun lagi tapi sudah tinggal di rumah tembok," kata Emu.

POS-KUPANG.COM | KUPANG - OM Emu, demikian Julius Pellondou, dipanggil oleh warga RT 04, Dusun 2, Desa Manusapa, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, sekitar 35 Kilometer (km) arah Timur Kota Kupang.

Dikenal sebagai inspirator dan motivator membentuk kelompok Gracinda (Gabungan anak-anak cinta damai), Emu tampak bersemangat menceritakan awal perjuangannya sehingga ia bersama anggota kelompoknya yang kini berjumlah 20 kepala keluarga (KK) mendapatkan sumur bor program Proyek Pengembangan Air Tanah (P2AT) dari Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BWS NT II) NTT.

DI Kodi Mengatasi Kekurangan Air Lahan Pertanian yang Beririgasi di Sumba Barat Daya

Mau Memulai Bisnis, Ini Pekerjaan Paling Cocok Sesuai Zodiak Kamu, Agar Kamu Sukses

Ramalan Zodiak Hari Ini, Jumat 21 Desember 2018, Libra Ganti Interior, Aries Ingin Kebebasan

Di hadapan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kegiatan Air Tanah dan Air Baku (ATAB) I BWS NT II NTT, Yohanes J Fernandez, ST, M.Si beserta staf, Emu yang didampingi Ketua RT 04, Marten Gia, menceritakan, keinginannya untuk mengubah kehidupan ekonominya terinspirasi dari kakaknya, Dance Senge di Tetebudale, Desa Pukdale, Kecamatan Kupang Timur.

Mesin penyedot air di sumur bor
Mesin penyedot air di sumur bor (POS-KUPANG.COM/KANIS JEHOLA)

"Kakak saya itu cuma pendidikan SD, tapi berkat usaha menanam palawija, dia bisa berhasil, punya rumah tembok dan mobil," kata Emu, kepada POS-KUPANG.COM, Rabu (19/12/2018).

Bukan karena selama itu Emu bersama puluhan anggota kelompok lainnya tidak berusaha. Mereka juga sudah berusaha menanam padi, jagung dan palawija, namun hasilnya tidak maksimal. Persoalan air menjadi kendala dalam usaha mereka. Dalam setahun mereka hanya bisa sekali menanam yaitu saat musim hujan. Setelah musim hujan selesai, mereka tidak bisa menanam lagi. Lahan garapan mereka dibiarkan menganggur alias menjadi lahan tidur kembali.

Siswa di Lamalera dan Solor tak Lagi Bawa Air ke Sekolah, Setelah BWS NT II NTT Bangun Air Tanah

Pria dan Dua Istrinya Ini Bikin Kue Dari Bahan Daging Manusia, Ini Kisah Mengerikan Mereka

Dengan kondisi tersebut dan didorong oleh keinginan kuat untuk keluar dari kesulitan hidup, demikian Emu, suatu saat di tahun 2011 ia memberanikan diri datang ke Kantor P2AT di Kupang meminta membangun sumur bor.

Setelah Bangun Embung, Petani Oematnunu tak Lagi Gagal Panen

Ramalan Zodiak Tahun 2019, Hubungan Asmara Capricorn Makin Serius, Scorpio Menyadari Sesuatu

Mau Memulai Bisnis, Ini Pekerjaan Paling Cocok Sesuai Zodiak Kamu, Agar Kamu Sukses

"Saat datang ke P2AT, saya janji dan tantang mereka (petugas P2AT). Saya bilang begini, kalau bapak kabulkan permintaan saya bangun sumur bor, maka lima tahun setelah itu saat bapak datang ke rumah saya, saya sudah tidak tinggal di rumah bebak beratap daun lagi tapi sudah tinggal di rumah tembok," kata Emu.

PPK Kegiatan Air Tanah dan Air Baku  I BWS NT II NTT, Yohanes J Fernandez, ST, M.Si dan staf (baju putih) bersama Ketua Kelompok Gracinda, Daniel Pellondou di depan rumah mesin sumur bor, Eabu (19/12/2018)
PPK Kegiatan Air Tanah dan Air Baku I BWS NT II NTT, Yohanes J Fernandez, ST, M.Si dan staf (baju putih) bersama Ketua Kelompok Gracinda, Daniel Pellondou di depan rumah mesin sumur bor, Eabu (19/12/2018) (POS-KUPANG.COM/KANIS JEHOLA)

Tantangan Emu ini rupanya ditanggapi serius oleh P2AT. Masih pada tahun yang sama (tahun 2011), P2AT membangun sumur bor yang dilengkapi sistem jaringan air tanah (JIAT) sprinkler. Untuk bisa menjangkau lahan seluas 12 hektar, maka di lahan tersebut juga dibangun 36 tiang sprinkler atau tiang pistol. Jarak tembak air dari tiang sprinkler dengan radius 36 meter sampai 50 meter.

Masyarakat Repurendu dan Ondorea Kini Sudah Merasa Nyaman

Setelah membangun sumur bor yang dilengkapi sistem JIAT sprinkler selesai, tahun 2012, P2AT menyerahkan kunci kepada kelompok Gracinda untuk memanfaatkan air dari sumur bor tersebut. Air sumur bor yang dilengkapi sistem JIAT sprinkler tersebut langsung digunakan oleh kelompok. Bahkan tidak hanya oleh anggota kelompok. Pada jam-jam tertentu saat lagi free, air dari sumur bor dengan debit 8 liter/detik tersebut juga digunakan untuk dimanfaatkan warga lainnya di RT tersebut.

Halaman
12
Penulis: Kanis Jehola
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved