Berita Manggarai Timur Terkini

Daerah Irigasi Buntal Menyulap Padang Ilalang Menjadi Hamparan Sawah

BUNTAL merupakan salah satu dataran luas di Dusun Kembo, Desa Gololijun, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur.

Daerah Irigasi Buntal Menyulap Padang Ilalang Menjadi Hamparan Sawah
ISTIMEWA
Bendung Buntal 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Kanis Jehola

POS-KUPANG.COM - BUNTAL merupakan salah satu dataran luas di Dusun Kembo, Desa Gololijun, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur. Dataran ini terdapat di wilayah timur laut, Kabupaten Manggarai Timur, atau di wilayah perbatasan antara Kabupaten Manggarai Timur dengan Kabupaten Ngada.

Kepala Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara (BWS NT) II Provinsi NTT, Ir. Agus Sosiawan, ME melalui Kasatker PJPA NTT Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II, Ir. Yayat Sumaryat, MT dan PPK Kegiatan Irigasi dan Rawa II Satker PJPA SDA NT II Provinsi NTT BWS NT II, Frits J Bale, ST kepada POS- KUPANG.COM, menjelaskan, sebagai kawasan yang berada di pinggir pantai, Buntal sebelumnya dikenal sebagai dataran padang ilalang.

Baca: Daerah Irigasi Bena TTS Juara I Nasional Lomba DI Teladan 2018

Walaupun luas, kondisi dataran ini kering dan gersang karena tidak ada air. Karena kondisi itu jugalah maka dataran tersebut tidak bisa digarap secara optimal untuk kegiatan pertanian. Setiap tahun hanya bisa ditanam sekali saat musim hujan.

Bendung DI Buntal yang dibangun Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II Provinsi NTT sejak tahun 2012
Bendung DI Buntal yang dibangun Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II Provinsi NTT sejak tahun 2012 (ISTIMEWA)

Itupun hanya jagung dan kacang hijau. Sedangkan tanaman lainnya tidak bisa. Dan setelah hujan selesai, hamparan itu 'tidur' kembali dan menjadi padang ilalang.

Baca: Dinas PUPR NTT Juara Nasional Tiga Tahun Berturut-turut

Di kawasan itu memang terdapat sumber mata air dengan debit yang cukup besar, yakni 2,4 m3/detik. Namun air tersebut tidak bisa digunakan karena berada di wilayah paling rendah. Air tersebut dibiarkan begitu saja mengalir ke laut dan tidak bisa digunakan para petani.

Saluran primer DI Buntal
Saluran primer DI Buntal (ISTIMEWA)

Itu sebabnya saat itu banyak warga yang tidak betah tinggal di dataran itu. Bahkan ada warga yang sebelumnya menghuni lokasi translok Buntal harus angkat kaki. Mereka tinggalkan rumah translok dan mencari tempat tinggal yang menjanjikan kehidupan mereka. Sebab hidup di dataran itu sangat susah dan dinilai tidak punya prospek yang baik bagi kehidupan ekonomi mereka. Tidak ada air. Apalagi bertahan hidup dengan mengandalkan hanya satu kali tanam jagung dan kacang hijau setiap tahun di dalam lahan yang juga sangat terbatas. Mereka tentu tidak mungkin bertahan hidup dalam kondisi seperti itu.

Melihat adanya potensi di dataran tersebut, pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara (BWS NT) II Provinsi NTT membangun bendung di Desa Gololijun tahun 2012 lalu. Pembangunan bendung itu dimaksudkan untuk meninggikan permukaan air sehingga air dengan debit 2,4 m3/detik itu bisa mengalir ke hamparan padang ilalang yang kering dan gersang.

Saluran skunder DI Buntal
Saluran skunder DI Buntal (ISTIMEWA)

Setelah sukses membangun bendung, BWS NT II Provinsi NTT juga melanjutkan dengan pekerjaan pembangunan jaringan irigasi di DI Buntal Kanan sepanjang 16,22 kilometer. Karena dana terbatas, pekerjaan pembangunan jaringan irigasi di Buntal Kanan ini juga dilakukan secara bertahap pada tahun 2013, 2014, 2015 dan 2016.

"Syukurlah mulai tahun 2013, hamparan padang ilalang itu sudah bisa digarap petani setempat. Dan sampai saat ini, 811 hektar lahan sawah di DI Buntal Kanan dari total luas lahan di DI Buntal 1.063 hektar sudah bisa digarap," kata Kasatker PJPA NTT Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II, Ir. Yayat Sumaryat, MT dan PPK Kegiatan Irigasi dan Rawa II Satker PJPA SDA NT II Provinsi NTT BWS NT II, Frits J Bale, ST kepada Pos Kupang secara terpisah, Kamis (8/11/2018).

Frits menjelaskan, DI Buntal seluas 1.063 Ha merupakan sub dari DI Satar Beleng (DI induk) yang menjadi kewenangan pemerintah pusat di Kabupaten Manggarai Timur. Di DI induk Satar Beleng, jelas Frits, terdiri dari beberapa sub DI, yakni DI Wera 426 Ha, DI Gising 1.150 Ha, DI Pota 901 Ha, DI Tompong 401 Ha, dan DI Dampek 500 Ha. "Khusus DI Tompong direncanakan baru akan dibangun tahun 2019 mendatang. Sedangkan DI lainnya sudah dibangun," kata Frits.

Frits melanjutkan, pada tahun 2018, pemerintah pusat mengalokasikan dana Rp 28.228.240.000 untuk membangun areal Buntal Kiri dengan luas areal 252 Ha. Pekerjaan yang ditangani berupa pembangunan jaringan skunder sepanjang 7,6 kilometer. Hingga 2 November 2018, realisasi fisik pekerjaan di lapangan mencapai 98,64 persen.

"Mulai tahun 2017, pekerjaan saluran induk maupun skunder di DI Buntal Kiri menggunakan Reinforced Concrete (saluran yang sudah dicetak) untuk menghindari kehilangan air di saluran dan petani membobol saluran," kata Frits. (kas)

Penulis: Kanis Jehola
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved