Pesta Adat di Sumba Boros. Begini Harapan Terhadap Bupati dan Wakil Bupati Sumba Tengah yang Baru

Warga Desa Anakalang, Kecamatan Katikutana, Kabupaten Sumba Tengah, Umbu Ranja Laigela mengakui

Pesta Adat di Sumba  Boros. Begini Harapan Terhadap Bupati dan Wakil Bupati Sumba Tengah yang Baru
POS-KUPANG.COM/Robert Ropo
Seekor kerbau sedang dibantai saat acara pemakaman jenazah 

POS-KUPANG.COM -- Budaya pesta adat yang dilaksanakan masyarakat di semua wilayah Sumba dinilai sebagai ajang pemborosan. Perta perkawinan (pembelisan) dan kematian menghabiskan anggaran ratusan juta rupiah.

Meski ekonomi keluarga pas-pasan, warga pasang badan untuk menggelar pesta adat. Tak tanggung-tanggung, mereka rela menggadaikan harta benda termasuk menjual sawah miliknya.

Warga Desa Anakalang, Kecamatan Katikutana, Kabupaten Sumba Tengah, Umbu Ranja Laigela mengakui, pesta adat yang sudah membudaya bagi orang Sumba pada umumnya, sangat boros.

Untuk pesta adat kematian, Umbu Ranja menyebut rata-rata menyimpan mayat 4-5 malam baru bisa dimakamkan.

BERITA POPULER: Karna Su Sayang Raih Penghargaan Google Pesta Sex Aneh & Ramalan Zodiak Hari Ini

Selain Gaji PNS Dan Pensiunan Naik 2019, Ini Besaran Tunjangan Tiap Daerah Yang Akan Diperoleh PNS

Jadi Drama Korea Pertama yang Tayang di Youtube, Ini 4 Fakta Drakor Top Management

Setiap hari memotong babi ukuran sedang antara 2-3 ekor bahkan lebih. Harga babi berkisar Rp 5 juta per ekor untuk memberi makan keluarga yang datang melayat. Sedangkan babi ukuran besar harganya mencapai Rp 20 juta per ekor.

Dia lantas membuat hitungan matematis. Misalnya mayat tersimpan 4 malam, sehari memotong 2 ekor berarti menghabiskan Rp 40.000.000 (diperoleh dari 4 malam x 2 ekor babi x Rp 5 juta). Jumlah tersebut belum termasuk pemotongan babi dan kerbau pada hari penguburan.

Menurutnya, pada hari penguburan, biasanya pemotongan babi dan kerbau, masing-masing mencapai belasan ekor.

Daging kerbau dan babi dibagikan kepada seluruh warga yang datang melayat tanpa kecuali. Harga kerbau berkisar Rp 20 juta hingga Rp 50 juta per ekor. Penentuan harga berdasarkan ukuran panjang dan pendek tanduk serta usia kerbau.

Umbu Ranja mengatakan, pada tahun 2008 awal kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Sumba Tengah, Drs.Umbu Sappi Pateduk-Umbu Dondu, BBA , disepakati tiga gerakan moral, yaitu gerakan kembali ke kebun, hidup hemat dan desa aman tentram. Gerakan moral dimaksud merupakan kesepakatan bersama masyarakat Sumba Tengah.

Sejak itu, seluruh rakyat Sumba Tengah bersepakat membatasi pesta adat terutama pesta kematian, yakni menyimpan mayat hanya 3 malam dan hanya tiga ekor hewan yang dipotong baik kerbau ataupun babi. Kondisi itu berlangsung hingga sekarang.
Umbu Ranja berharap Bupati dan Wakil Bupati Sumba Tengah saat ini, Drs. Paulus SK Limu-Ir. Daniel Landa melanjutkan program hidup hemat karena sangat membantu masyarakat kecil.

"Rakyat kecil dapat menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi tanpa terbebani biaya adat yang mahal. Secara ekonimis sangat membantu rakyat kecil daerah ini. Mudah-mudahan program tersebut dipertahankan pemerintahan yang baru ini," ujarnya.

Mantan Wakil Bupati Sumba Tengah, Umbu Dondu, BBA juga berharap pemimpin Sumba Tengah saat ini dapat melanjutkan program hidup hemat.

Menurutnya, program hidup hemat masih sangat relevan dengan kehidupan masyarakat sekarang, untuk mencegah hidup boros.

"Sebagai peletak dasar pembangunan Sumba Tengah, saya berharap kepemimpinan yang baru dapat melanjutkan program kerja kami yang dipandangnya positif bagi kesejahteraan rakyat ke depan. Mungkin selama ini, program kerja tersebut belum berjalan efektif dapat ditingkatkan demi mensejahterakan rakyat Sumba Tengah," ucap Umbu Dondu. (pet)

Penulis: Petrus Piter
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved