Parodi Situasi

Aku Orang Miskin

Wajah Rara mengkerut memikirkan kata miskin. Diurut-urutnya testanya sendiri karena tidak tahu bagaimana menjelaskan

Editor: Dion DB Putra
ilustrasi

Oleh Maria Matildis Banda

POS-KUPANG.COM -- "Kasihan sekali saya ini!" "Saya orang miskin!"

"Tapi saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya!"
"Pada hal banyak sekali yang mesti saya tulis tentang miskin!"

***
Wajah Rara mengkerut memikirkan kata miskin. Diurut-urutnya testanya sendiri karena tidak tahu bagaimana menjelaskan pikiran dan pengalamannya tentang miskin.

Sementara batas waktu lomba menulis dengan tema miskin sudah berlalu.
"Miskin itu apa ya?" tanyanya lagi.

"Jangan terlalu pusing bicara tentang miskin! Lihat ini tulisanku sudah kukirim. Aku pasti dapat juara satu. Hadiahnya besar sekali. Aku bisa beli HP keluaran terbaru. Waduh senangnya!" Jaki sangat girang dan dengan hati senang diserahkannya puisi yang ditulisnya kepada Rara.

Gaji PNS dan Pensiunan Naik 2019, Berikut Rincian 8 Lembaga dengan Gaji Paling Tinggi

Inilah yang Perlu Kamu Lakukan di Tahun 2019 Berdasarkan Zodiak. Taurus Wajib Minta Maaf

Drakor Clean With Passion For Now Rating Tertinggi di Episode 1, Malam ini Episode 2 Tayang

"Karyamu sendiri?" tanya Rara.
"Ya. Aku ikut lomba menulis dengan tema miskin!" jawab Jaki dengan bangga lebih dari kebanggaan biasa. Maklum sajalah! Jaki sedang berandai-andai jadi juara dan segera memiliki HP baru yang sudah lama diincarnya.

"Aku baca!" Rara langsung baca dengan suara keras.
***

Miskin
Aku orang miskin
Bapaku miskin
Ibuku miskin

Kedua sopirku miskin
Kedua pembantuku miskin
Kedua tukang kebunku miskin
Sungguh sedih nasibku miskin
Kasihan aku orang miskin
Aku benar-benar miskin

***
"Bagaimana? Bagus sekali bukan?" kata Jaki. "Puisi yang indah dengan variasi bunyi yang menyenangkan semua berakhir dengan bunyi in in in, kin kin kin, diawali dengan mis, mis, mis. Bapaku, ibuku, sopirku, pembantuku, tukang kebunku! Semuanya berakhir dengan bunyi u u u, ku ku ku kuku. Bagaimana menurutmu Rara temanku yang baik hati?"

"Indah sekali!" kata Rara.
"Gagasan cemerlang," sambung Jaki. "Siapa dulu dong penyairnya. Aku! Memang jagonya menulis. Aku yakin aku pasti dapat juara! Kalau aku dapat juara nanti aku trakir ya. Makan bakso bola sepak bola biar kamu kenyang dan puas makan bakso."

"Benar-benar indah! Aku terharu..." Rara berkata dengan serius membuat Jaki tambah bangga dan menepuk dada. Selanjutnya Rara mengerutkan kening lagi untuk mendapatkan ide lain tentang miskin agar dapat mengalahkan Jaki dalam lomba nanti.

***
"Syukurlah Nona Mia dan Benza datang," Rara langsung berdiri dan mohon Nona Mia membantunya menulis dengan tema miskin. "Puisinya Jaki bagus sekali. Gagasannya luar biasa, pilihan katanya luar biasa, variasi bunyinya juga tidak ada tandingannya."

"Kalau tidak percaya coba kamu baca!" Jaki langsung menyerahkan puisinya pada Benza dan Nona Mia. "Bacalah!" katanya lagi. Nona Mia memperhatikan dengan seksama sambil membaca dalam hatinya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved