Opini Pos Kupang
Bung Karno dan Mekarnya Pariwisata Ende
Bung Karno menarik napas dalam-dalam, tersenyum sendu menatap istrinya dan bola matanya nanar melihat ibu
Oleh Yoss Gerard Lema
Wartawan, Penulis, Novelis tinggal di Kota Kupang
POS-KUPANG.COM - Semuanya bermula dari dermaga Ende. Ketika itu bulan Februari. Hujan, angin kencang, gelombang dan arus laut memburu. Laut di teluk Ende bergejolak.
Kapal Jan van Riebeeck manuver untuk sandar di dermaga. Para penumpang sudah tak sabar, ingin lekas turun. Kecuali satu keluarga muda. Bung Karno, Inggit Ganarsih istrinya, ibu Amsi mertuanya, serta anak angkat semata wayang, Ratna Djuami.
Hari itu, tanggal 14 Februari 1934, Bung Karno dan keluarganya menjejakkan kaki di dermaga Ende. Sebuah kota sangat kecil, terpencil, di jantung Pulau Flores. Sejenak Bung Karno lihat ke arah kota, rumah-rumah beratap ilalang, pohon-pohon mirip hutan dan tiga gunung mengapitnya.
Baca: Kulit Sagitarius Gampang Memerah, Kulit Capricorn dan Libra Sering Bermasalah, Zodiak Lain?
Baca: Inilah 6 Drama Korea yang Dibintangi Shin Won Selain Drakor Legend of The Blue Sea
Baca: Film BTS Burn The Stage: The Movie Menjadi Film Terlaris di Amerika
Bung Karno menarik napas dalam-dalam, tersenyum sendu menatap istrinya dan bola matanya nanar melihat ibu mertuanya, seolah-olah berkata, maaf. Pada si kecil Ratna Djuami, Bung Karno mencium ubun-ubun kepala anaknya, penuh rasa kasih.
Itulah awal kisah, ketika Kota Ende menyambut Bung Karno. Di kota kecil inilah alam mendidik Bung Karno dengan caranya. Sepi-hening-bening. Suara jangkrik, kodok dan burung hantu adalah musik malam yang menghibur.
Suara pipit, burung gereja, serta kokok `si jago' bikin hari-hari terasa indah. Ende, bumi permenungan. Di bibir pantai, dibawah pohon sukun, Bung Karno terbius napas angin sepoi-sepoi.
Terbius suara air laut yang mendesis di atas pasir. Terbius indahnya sunset merah jingga yang menggelinding di ufuk barat. Alam raya Kota Ende menghantar Bung Karno mencapai titik ilham tertinggi menemukan Pancasila.
Pancasila itu suci, tak ternilai harganya. Lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.
Percayalah, Roh Tuhan bersemayam di dalam butir-butir Pancasila. Siapa yang ingin mengkhianatinya, Tuhan berperang dengannya. Sebab, Pancasila adalah budaya hakiki bangsa Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, Miangas sampai Pulau Rote.
Ende Kota Istimewa
Karena itu, Kota Ende harus dilukis secara istimewa menggunakan tinta khusus. Silakan bangun kota-kota lain dengan megah dan gemerlap. Tapi biarkan Ende dirajut dan dijahit dengan benang sejarah. Karena setiap jengkal tanahnya tahu asinnya rasa keringat Bung Karno. Tahu pahitnya rasa air mata seorang pahlawan utama.
Ende, kota yang mencatat dari detik-ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, bahkan tahun ke tahun (1934-1938) ketika Bung Karno dididik dengan sangat keras di kawah chandrimuka Ilahi agar menjadi negarawan sejati.
Karena di Ende, kota kecil terpencil itu, Bung Karno sesungguhya melihat Pancasila yang hidup. Pancasila yang bisa dilihat, diraba dan dinikmati. Semangat toleransi masyarakatnya nyata. Mayoritas melindungi minoritas, saling bergaul akrab, duduk bersama dalam rumah adat yang sama.
Semua diikat rasa persaudaraan, cinta, kasih dalam api semangat gotong royong. Bukankah Indonesia adalah gotong-royong? Dan semua itu tergambar jelas dalam tarian Gawi dan Rokatenda, menari saling berpegangan tangan dalam lingkaran persaudaraan, sambil minum moke (arak).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/situs_20170118_164839.jpg)