Opini Pos Kupang

Menafsir Intoleransi Guru

Hasil survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarkat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah tahun 2018 cukup mengejutkan.

Menafsir Intoleransi Guru
ilustrasi

Hal yang lebih memprihatinkan, rendahnya literasi guru, menyebabkan guru nyaris bisa melahirkan karya kreatif yang nota bene merupakna produk dari proses pasif membaca demi memperdalam ilmu.

Kualitas guru demikian akan mudah melibatkan emosi dalam menilai aneka informasi. Ia mudah terbawa dalam politik identitas yang mengedepankan kesamaan kultural tetapi tidak memberi ruang pada dialog bernas demi terjadinya sumbangsi pikiran untuk mencapai ide terbaik. Yang terjadi, demikian hasil survei yang sama, 65,35 % guru tidak berafiliasi dalam ormas nasionalis yang terkenal modern, terbuka, dan dialogis.

Merasakan Kemajemukan

Terhadap gejala intoleransi guru yang sayangnya terjadi di tengah masyarakat yang intoleran, diperlukan terobosan. Pertama, perlu adanya program lintas budaya demi merasakan kemajemukan dan mengalami keindonesiaan dari sudut pandang lain.

Mestinya para calon guru diwajibkan untuk mengalami program lintas budaya sebagai salah satu prasyarat menjadi guru. Calon guru dari Indonesia Barat misalnya perlu merasakan bagaimana orang Katolik dan Muslim di NTT bahkan bisa bergotong- royong membangun rumah ibadah. Malah orang Katolik bisa menjadi Ketua Panitia pembangunan mesjid dan sebaliknya.

Kedua, perlunya pemerataan baik dalam hal peningkatan kompetensi maupun kesejahteraan guru. Fakta menunjukkan, guru PNS apalagi yang juga memperoleh sertifikasi, mencapai tingkat kesejahteraan yang cukup baik.

Meski demikian, kinerja yang dihasilkan tidak sejalan dengan peningkakan kesejahteraan. Mereka bahkan kerap menjadi begitu santai karena `dibantu' guru honorer yang sungguh bertarung untuk dapat mempertahankan hidup.

Hal lain yang mengkuatirkan, dalam kaitan dengan pelatihan dan pendidikan, kerap guru honorer pun dianaktirikan. Minimnya kapasitas ini bukan tak mungkin menjadi celah masuknya pemikiran intoleran.

Tendensi menjadi tertutup dan hanya mengakui kebeneran sektorial akan menjadi
akibat lain yang muncul sebagai kelanjutannya. Untuk itu pemerataan dan perlakuan yang adil terutama kepada guru honorer akan menjadi tablet mujarab menyembuhkan masyarakat dari tendensi sikap intoleran.

Fakta membuktikan, pengajaran intoleran kerap hadir dan disebarluaskan oleh guru yang tak terjamah baik kesejahteraan maupun kompetensinya. Fakta lain juga menunjukkan bahwa tidak sedikit guru TK (yang direkrut seadanya demi menjalankan PAUD) memiliki kadar intoleransi yang lebih tinggi dari guru tingkatan lainnya. Pemerataan karena itu bersifat sangat urgen.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved