Berita NTT

Awal Tahun 2019! Dinas Pertanian NTT Targetkan Kirim 20 Ton Bubuk Kelor

Untuk mendapatkan bubuk daun kelor sebanyak itu dibutuhkan lahan seluas 40 sampai 60 hektar tanaman kelor.

Awal Tahun 2019! Dinas Pertanian NTT Targetkan Kirim 20 Ton Bubuk Kelor
POS KUPANG.COM/ADIANA AHMAD
Bibit Kelor di Dinas Pertanian Provinsi NTT. Gambar diambil Selasa (30/10/2018). 

Laporan Reporter Pos Kupang.Com, Adiana Ahmad

POS-KUPANG.COM, KUPANG--Dinas Pertanian Provinsi NTT menargetkan pengiriman awal bubuk kelor sebanyak satu kontainer atau 20 ton dengan nilai penjualannya Rp 1 miliar.

Untuk mendapatkan bubuk daun kelor sebanyak itu dibutuhkan lahan seluas 40 sampai 60 hektar are tanaman kelor.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pertanian Provinsi NTT, Yohanes Tai Ruba ketika ditemui di ruang kerjanya, Selasa (30/10/2018).

Baca: Pelabuhan Tana Merah Adonara-Flotim Makin Ramai! Fasilitas Pelabuhan Malah Rusak

Yohanes mengatakan, permintaan bubuk kelor dari luar cukup besar. Sementara stok yang ada pada masyarakat masih terbatas.

"Pengembangan kelor kita bagi dua klaster, yakni klaster daun untuk memenuhi permintaan bubuk dari buyers 1.000 ton per tahun dan klaster biji," kata Yohanes.

Ia mengatakan, tahun ini pengembangan kelor baru pada demplot-demplot. "Tahun ini kita batu buka demplot di Oeteta dan Pitai di Sulamu, Kabupaten Kupang serta Oefafi di Kupabg Timur. Itu untuk klaster daun.

Sedangkan klaster biji kita baru canangkan di pekarangan, pematang dan teras-teras. Pohonnya tidak dipangkas seperti klaster daun. Tapi daunnya bisa dimanfaatkan untuk konsumsi keluarga dalam rangka perbaikab gizi keluarga atau mencegah gizi buruk dan stanting. Kita juga bagi bibit ke Gereja dan masjid. Kita harus bekerja bersama untuk menyukseskan program ini. Target kita tahun 2023, sudah ada 50 juta pohon kelor di NTT," demikian Yohanes.

Dikatakan Yohanes, untuk memenuhi target 1.000 ton per tahun pihaknya juga meminta Pemerintah kabupaten/ kota menyiapkan lahan 40-60 hektar untuk pengembangan kelor. "Satu kontainer itu nilainya Rp 1 miliar.

Kerjanya cuma dua bulan. Kita harap pemerintah kabupaten/ kota juga bergerak di lapangan. Kita juga minta mitra bank bantu pembiayaan dalam bentuk kredit lunak. Kita harus optimis program ini berhasil karena pembelinya sudah ada," jelas Yohanes.

Yohanes juga meminta pemerintah desa manfaatkan dana desa untuk pengembangan kelor. Bukan gratis tapi dalam bentuk kredit.

"Saya jamin 1.000 ton per tahun bisa terpenuhi. Pengembangan kelor tidak mengubah fungsi lahan. Bisa manfaatkan lahan tidur, semak belukar. Masih banyak lahan di NTT belum dimanfaatkan," tambah Yohanes. (*)

Penulis: Adiana Ahmad
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved