Berita Kampus
Mengenal Sistem Pertanian Lahan Kering di NTT Ala Mahasiswa FKH Undana Kupang
"Saya sangat antusias, karena daerah NTT merupakan daerah lahan kering. Seminar ini membuat saya paham cara adaptasi hewan.
Penulis: Gecio Viana | Editor: Apolonia Matilde
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Viana
POS-KUPANG.COM|KUPANG - Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), Universitas Nusa Cendana (Undana) terlihat antusias mengikuti Seminar Nasional VII FKH Undana di Swiss-Belinn Cristal Hotel Kupang, Kamis (18/10/2018).
Mereka terbagi dalam beberapa kelompok dan mengambil tempat duduk di beberapa meja yang tersedia serta menyimak penyampaian pemateri dalam seminar nasional yang mengambil topik Tantangan dan Peluang Konservasi Satwa Liar dan
Budidaya Ternak di Lahan Kering Kepulauan.
Tampil sebagai keynote speaker pada seminar tersebut, Direktur Taman Safari Indonesia-Cisarua-Bogor, Drs. Jansen Manangsang, M. Sc, Pengendali Ekosistem Hutan Pertama-Balai Nasional Taman Komodo, Maria Rosdalima Panggur, S.Hut, dan BBKSDA, dr. Elisa Iswandomo, S. Pi.
Baca: 10 Manfaat Komsumsi Beras Merah, Salah Satunya Kurangi Risiko Diabetes
Sementara, pemateri pada sesi pertama dalam seminar tersebut, Direktur PT. Indo Prima Beef, Prof. drh. Bambang Purwantara, M.Sc, PhD dan dr. Nanang Purus Subendro.
Mahasiswi FKH Undana Kupang, Putri Belyutha Adelweis Panie, kepada Pos Kupang, mengatakan dirinya sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut.
Menurut Putri, seminar tersebut menghadirkan banyak pemateri yang berkompeten dalam bidang konservasi satwa liar dan budidaya ternak.
"Saya sangat antusias, karena daerah NTT merupakan daerah lahan kering. Seminar ini membuat saya paham cara adaptasi hewan atau ternak dengan kondisi daerah NTT yang kering," ungkapnya.
Baca: Ritus Ke Laut, Cara Warga Pemana Nyatakan Syukur
Selain itu, lanjut Putri, sebagai mahasiswa dia mendapat ilmu bagaimana mengenal lahan kering di NTT dan mengelolahnya untuk memenuhi kecukupan gizi dari ternak demi produktivitas peternakan.
Terkait konservasi satwa liar, lanjut Putri, materi yang disampaikan memberikan edukasi dan pemahaman bagi para mahasiswa dan akademisi untuk turut menganalisis tantangan era modern demi melestarikan satwa liar yang terancam punah.
"Tentang konservasi satwa liar sangat bagus untuk kita, contohnya seperti Komodo. Karena Komodo adalah hewan langka, dan satu-satunya di NTT, sehingga saya tahu bahwa hewam tersebut perlu dijaga dan dilindungi, " katanya.
Dia berharap, kegiatan seminar dapat dilaksanakan setiap tahun dan melibatkan lebih banyak kelompok kepentingan lainnya sehingga secara bersama membangun peternakan di NTT dan terus menjaga serta melestarikan satwa liar di NTT.
Baca: Pria Asal Indonesia Ini Memproduksi Kaca Anti Peluru, Bisa Antisipasi Peluru Tajam Kaliber 7,62 mm
"Karena sosialisasi ke masyarakat masih kurang jadi harus lebih banyak lagi seminar seperti ini. Lebih bagusnya melibatkan semua elemen terkait, baik pemerintah maupun swasta," tambahnya.
Putri Belyutha Adelweis Panie, mahasiswi FKH lainnya, mengatakan, dari seminar nasional tersebut dapat diketahui banyak informasi terkait peternakan dan konservasi satwa liar yang nantinya akan disampaikan kepada semua pihak termasuk masyarakat.
"Kegiatan ini mengedukasi masyarakat untuk mengembangkan peternakan sehingga ke depannya dapat mendorong masyarakat untuk membuka peternakan yang lebih maju dan bisa meningkatkan ekonomi masyarakat juga," jelasnya.
Dia mengatakan, dirinya juga mendapat banyak materi terkait kesehatan hewan dan mempelajari terkait zoonosis sehingga dapat menanggulangi berbagai penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia.
Ketua Panitia Seminar Nasional VII FKH Undana, drh. Tri Utami, mengatakan kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta yang terdiri dari sivitas akademisi FKH Undana, para dokter hewan dari Undana, para praktisi dokter hewan, peneliti-peneliti dari berbagai instansi, BBKSDA NTT, Balai Pertanian Kelas I Kupang dan para dosen dari Politani Kupang.
Baca: Hotman Paris Tak Suka Disebut Pengacara Mahal Meski Hidup Mewah, Tarifnya Segini!
"Kita multidisiplin ilmu di sini berkaitan dengan kedokteran hewan, konservasi satwa liar dan dari bidang peternakan karena kita mengangkat dua tema besar terkait satwa liar dan budidaya ternak," ujarnya.
Drh. Tri utami, menjelaskan, di tengah peralihan lahan sebagai 'rumah' bagi satwa demi pembangunan, mengakibatkan banyak satwa liar di NTT yang terancam punah seperti burung kaka tua jambul yang ada di Kabupaten Alor dan kura-kura leher ular yang ada di Kabupaten Rote.