Berita Cerpen

Kepoin Yuk! Cerpen Pos Kupang Minggu Ini?

Saya jadi sadar, mungkin perempuan dilahirkan untuk ditindas maupun dijadikan kuda tunggangan tuk menanggung beban dalam keluarga.

Kepoin Yuk! Cerpen Pos Kupang Minggu Ini?
ILS

"Saya sudah berkeluarga, Pak. Buat makan sehari saja saya pusing tujuh keliling. Bagaimana harus sabar. Perhatikanlah gaji kami, Pak. Kami akan perhatikan pendidikan ini dengan baik jika ditunjang dengan gaji kami yang baik pula."

"Saya mengerti maksud, Ibu. Tapi kita harus tunggu kebijakan pemerintah lebih lanjut untuk menanggapi persoalan ini, " tegas Pak Bustanto.

Seharusnya gaji dan perjuangan guru harus lebih tinggi dihargai. Bagimana tidak? Pencerahan serta perjuangan mencerdaskan anak bangsa adalah tugas pokok mereka. Dari ketidaktahuan, mereka menghantar anak-anak untuk tahu membaca, berhitung dan juga menulis. Tapi aneh gaji guru diabaikan begitu saja.

***
Suatu pagi pertengkaran hebat datang lagi. Dhalia, putri semata wayang lagi berada di sekolah. Hanya gara-gara menu makan pagi itu. Sayur daun kelor dengan jagung titi seharusnya menjadi menu paling spesial tentunya. Tetapi tidak bagi pak Darno.

"Aduh, daun kelor lagi, tidak ada menu lain selain ini, Ibu?" Bentak Pak Darno
"Pak, pulang sekolah baru mama buatkan lebih enak. Sekarang mama harus ke sekolah. Lihat itu Dhalia sudah pergi dari tadi, " ucap Ibu Lefty.

Baca: Kamu Mau Diet? Yuk Intip Cara Diet Terbaik Berdasarkan Zodiak Biar Gak Gagal

"Kamu perempuan model apa. Kerjanya tidak becus. Setiap hari hanya urus dandan saja, " kata Pak Darno dengan nada emosi.

Keduanya terlibat aduh kata. Sampai-sampai tinju dan tempelengan menghujam di otak belakang Ibu Lefty. Ia jatuh ke lantai bersimbah darah. Selain pelipisnya pecah, juga otak kirinya mengalami gangguan karena tonjokan keras Pak Darno. Segera para tetangga datang menghantar Ibu Lefty ke rumah sakit, setelah mendengar teriakan Ibu Lefty minta tolong.

Pak Darno hilang akal. Ia segera ke rumah sakit menghampiri isterinya. Ibu Lefty divonis mengalami gangguan otak sebelah kiri. Karena itu ia perlu mendapat penanganan medis secara khusus selama dua bulan. Pak Darno tidak tahu mau buat apa. Biaya hidup saja susah apalagi biaya rumah sakit. Ia benar-benar stress kala itu.

Ia memilih pulang ke rumah karena Dhalia harus pulang sekolah siang ini.
Bagimana saya bisa masak? Dhalia makan apa siang ini. Celetuk Pak Darno dalam hati. Tak ada menu lain bagi Dhalia. Ia merengek minta dibuatkan ikan asin campur tomat kesukaanya. Tapi apa daya Pak Darno tidak bisa berbuat apa-apa.

"Nak, makanlah dahulu yang ini. Mama ada keluar sedikit. Sebentar malam baru mama buatkan yang enak buat Dhalia, " kata Pak Darno memelas.
"Iiiih, tidak mau. Saya tidak mau makan, " ucap Dhalia rewel.
"Ayolah nak...nanti kamu sakit."
"Tidak mau, saya mau ketemu ibu, " ucap Dhalia sambil merengek di lantai.

Halaman
123
Penulis: PosKupang
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved