Opini Pos Kupang
Penetrasi Digital yang Masif di Manggarai
Dalam konteks Indonesia, data BPS pada bagian Statistik Pemuda 2016 menunjukkan tingkat penetrasi internet pemuda
Berkaca dari Kasus `Laos' dan `Bela'
Oleh: Dr. Marianus Mantovanny Tapung
Ketua UPPM STIKes St. Paulus Ruteng, Sekretaris Eksekutif "Perennial Institute"
POS-KUPANG.COM - Dewasa ini, interseksi antara ruang daring dengan kehidupan orang muda sudah sangat kuat. Begitu kuatnya penetrasi ruang digital ini sampai Marc Prensky dalam artikel On the Horizon (2001) menyebut generasi zaman now sebagai generasi `digital sejak lahir' (born digital) atau `generasi yang fasih berjaringan' (net savvy).
Dalam konteks Indonesia, data BPS pada bagian Statistik Pemuda 2016 menunjukkan tingkat penetrasi internet pemuda, tertinggi pada kelompok umur 16-18 tahun, yaitu sebesar 62,32%; disusul kelompok umur 19-24 tahun sebesar 56,88 %, dan kelompok umur 25-30 tahun sebesar 41,00%.
Sementara itu, telepon seluler menjadi primadona utama pemuda untuk mengakses internet, terutama media sosial.
Baca: Ingin Punya Gebetan Romantis? Ini Dia 5 Zodiak Paling Romantis Abad Ini
Sebanyak 94,07% pemuda mengakses internet melalui telepon seluler, 35,63 % melalui laptop/notebook/tablet, 26,51% melalui komputer/PC, 3,16 % melalui media lain.
Sebagian besar orang muda mengakses internet dengan tujuan bersosial media (facebook, twitter, instagram, dll) sebesar 88,35%; dan mendapatkan informasi/berita sebesar 75,02%. Angka-angka ini tentu menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.
Bila dikaitkan dengan banyaknya permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat, penggunaan media sosial menjadi salah satu primadona penyebab. Dapat disimpulkan, sekitar 82% permasalahan sosial disebabkan karena penggunaan media sosial.
Baca: Penggemar Drama Korea, Intip 10 Drakor Yang Bakal Tayang Bulan Oktober 2018
Data BPS ini sejalan dengan penelitian Petrus R. Jaya & Ambros L. Edu berjudul Media Literacy and Critical Ability of Students at Manggarai Regency (Proceeding UNJ, 2018).
Penelitian ini menunjukkan, tingkat kepercayaan (level of trust) orang muda Manggarai terhadap internet menembus hingga 86%. Orang muda Manggarai (mahasiswa) memiliki frekuensi berselancar dengan internet dalam kategori sangat aktif, yakni sebesar 83%.
Dari irisan besar ini, yang mengakses konten-konten seputar diskusi, analisis, opini, dan artikel sebesar 36%; yang mengakses berita-berita aktual sebesar 41%; dan sebesar 11% bermedia sosial. Dari hasil analisis, meskipun ceruk akses bermedia sosial kecil, tetapi sangat signifikan berdampak negatif pada kehidupan sosial orang muda.
Banyaknya kejahatan maya dan dampak negatifnya, justru muncul dari ceruk yang kecil ini. Hal ini disebabkan karena intensitas bermedia sosial ternyata tidak diimbangi dengan sikap kritis. Sebanyak 69% mahasiswa ketika mengakses informasi dari internet (media sosial) langsung membagikan informasi tersebut tanpa melakukan analisis kritis terkait kebenaran informasi.
Baca: Jelang Konser BTS Di London, Promotor Pamer Mural LOVE YOURSELF, Reaksi Warga London Ini Viral
Mereka cenderung mengabaikan perbedaan informasi yang diakses, dan kurang mampu membedakan kualitas dan kredibilitas sumber. Mereka terjebak menyimpulkan suatu berita dari judul saja (click bait), dan bahkan begitu cepat menelan berita bernarasi palsu (hoax).
Jaya & Edu menimpali, dampak turunan dari rendahnya sikap kritis di kalangan para pengguna media daring adalah tingginya kejahatan media (cyber-crime). Kejahatan ini merupakan akibat dari berita atau isu provokatif, aksi saling hujat, share video kekerasan, dan berbagai ujaran kebencian/tak elok.
Mirisnya, bentuk kejahatan media ini kerap dipertontonkan secara vulgar di hadapan publik dan anak-anak mudah mencerna dan meniru.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/datally-aplikasi-penghemat-kuota-internet-buatan-google_20180616_172343.jpg)