Berita Kabupaten Nagekeo Terkini
Puluhan Ekor Sapi di Desa Nagerawe Mati, Apa Penyebabnya?
Kemarau panjang yang melanda sebagian besar wilayah kabupaten Nagekeo meresahkan warga masyarakat seperti yang dialami oleh warga desa Nagerawe
Penulis: Gordi Donofan | Editor: Kanis Jehola
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gordi Donofan
POS-KUPANG.COM | MBAY - Kemarau panjang yang melanda sebagian besar wilayah kabupaten Nagekeo mulai meresahkan warga masyarakat seperti yang dialami oleh warga desa Nagerawe, kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo.
Sejak satu bulan terakhir ternak milik warga setempat mati akibat kekurangan makanan dan kekurangan air minum.
Kepala Desa Nagerawe, Yeremias Kisa, ketika menghubungi POS-KUPANG.COM, pertelepon dari Nagerawa ke Mbay, Minggu (30/9/2018) menjelaskan, sudah satu bulan terakhir ternak milik warganya telah terjadi kematian mendadak dengan jumlah mencapai dua puluhan ekor.
Baca: DPD PTGMI NTT Gelar Seminar Terapis Gigi dan Mulut di Larantuka
Ternak yang mengalami kematian itu yakni sapi dan kerbau. Hal itu diakibatkan dari ketersediaan air di sejumlah sumber yang berada di padang sudah mengering dan ketersediaan makanan bagi ternak sudah sangat berkurang akibat kemarau panjang.
Baca: Melki Laka Lena: Caleg yang Lolos Jangan Sombong
Atas kejadian ini dirinya dan juga warga yang memiliki ternak mengaku pasrah dengan kejadian itu.
Sementara ternak menjadi salah satu sumber penopang kehidupan ekonomi warga setempat.Kejadian itu berada di lokasi padang Maladalo.
Yeremias mengatakan kematian ternak seperti sapi dan juga kerbau bukan saja ternjadi pada tenak yang kecil tetapi juga ternak betina dan juga jantan.
Atas nama masyarakat, dirinya meminta kepada pemerintah baik tingkat kabupaten, Provinsi maupun pemerintah pusat untuk segera membangun embun di lokasi kawasan ternak di padang Maladalo karena telah menjadi kebutuhan utama bagi masyarakat setempat dan apabila tidak tersedianya embung, tentu kejadian matinya ternak akan terus terjadi setiap tahun dan akan berdampak pada menurunnya pertumbuhan ekonomi masyarakat.
"Anak sapi, kerbau banyak yang mati selama ini. Karena memang tidak ada air, kalau penyakit lain mungkin kami juga tidak tau," ujar Yeremias.
Warga Nagerawe, Vitalis Dhae (40) kepada POS-KUPANG.COM, mengaku beberapa minggu lalu banyak hewan ternak milik warga mati.
"Hewan ternak yang banyak mati itu sapi dan kerbau. Mungkin karena air tidak ada. sudah banyak yang sudah mati," ungkap Vitalis.
Ia mengatakan sampai saat ini warga hanya berharap agar secepatnya hujan turun sehingga air bisa ada untuk kebutuhan minum ternak.
Warga Nagerawe, Doni Moni, mengatakan, cukup prihatin dengan kejadian ini. Doni mengatakan wilayah desa Nagerawe adalah daerah rawan kekeringan.
Kejadian kekeringan di wilayah itu terjadi bukan hanya pada tahun 2018, tetapi pada tahun - tahun sebelumnya selalu terjadi. Akibat dari kemarau panjang, semua air di sepanjang kali menjadi kering.