Berita Kabupaten Nagekeo Terkini
Pemuda di Mbay Sulap Kolam Alam Menjadi Sawah Garam
Petani garam dewasa ini merupakan pekerjaan yang jarang digeluti pemuda. Namun tidak bagi sekelompok pemuda yang dipimpim Yakobus Mapa.
Penulis: Gordi Donofan | Editor: Kanis Jehola
Ia mengaku diringa menjadi petani garam dengan swadaya dengan inisiatif sendiri. Tanpa ada dukungan dari pihak lainnya.
"Sehingga keterbatasan saya dengan lahan yang ada saya pikir lahan ini bisa berkembang kalau di dukung dengan ketersedian dari beberapa alat pendukungnya sangat banyak. Karena lahan kita ini cukup besar. Potensi garam di Desa Aeramo ke depan saya berpkir sangat bagus tinggal masyarakat dan pemerintah setempatnya bisa saling kerja sama," ujarnya.
Jek mengaku potensi garam di wilayah Desa Aeramo cukup besar. Namun hanya ada beberapa faktor kendala.
Kendala pertama, yakni masalah infrastruktur ke lokasi tambak garam. Selama ini untuk mengangkut garam, Jek masih menggunakan transportasi laut. Itu dobel biayanya.
Sebab itu, dia berharap kedepannya ada bantuan dari Pemda Nagekeo atau dinas terkait.
Masalah kedua, terkait pemasaran. Selama ini hanya konsumen rumah tangga dan banyak juga yang disupplay ke nelayan-nelayan untuk pengawet ikan.
Harga perkarung bervariasi, tergantung jangkauan dan jarak. Menurut Jek, perminggu hasil garam itu bisa 50-60 karung berukuran 50 kg.
Dia mengaku pekerjaan menjadi petani garam ini hanya dibutuhkan pada saat cuaca cerah atau panas.
"Satu minggu bisa menghasil uang 4 juta. Total karyawan saya 5 orang. Dengan sistem pembayaran upah karyawannya tergantung penghasilan," ujarnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/petani-garam-di-aeramo-saat-berada-dilokasi-garam-desa-aeramo-kecamatan-aesesa_20180926_195525.jpg)