Berita Kabupaten Nagekeo Terkini
Pemuda di Mbay Sulap Kolam Alam Menjadi Sawah Garam
Petani garam dewasa ini merupakan pekerjaan yang jarang digeluti pemuda. Namun tidak bagi sekelompok pemuda yang dipimpim Yakobus Mapa.
Penulis: Gordi Donofan | Editor: Kanis Jehola
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gordi Donofan
POS-KUPANG.COM | MBAY - Petani garam dewasa ini merupakan pekerjaan yang jarang digeluti pemuda. Namun tidak bagi sekelompok pemuda yang dipimpim Yakobus Mapa.
Pemuda asal Kobagheje Desa Aeramo ini menyulap kolam alam menjadi sawah garam
Jek, begitu ia akrab disapa adalah drop out SMPS Boanio. Pemuda asal Dusun I, Desa Aeramo, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo itu bersama rekan-rekannya menyulap kolam alam di Nagelewe Desa Aeramo menjadi lahan garam di saat musim kemarau.
Baca: Formasi CPNS di Pemprov NTT Didominasi Tenaga Guru, Pelamar Harus Mendaftar Melalui Website Ini
Aeramo merupakan desa perbatasan dengan Kecamatan Wolowae Kabupaten Nagekeo. Di desa ini sebagian besar potensi alamnya cukup banyak.
Selain sawah irigasi, juga terdapat kolam alam yang terdapat Nagelewa yang jaraknya kurang lebih 1 km dari pesisir pantai.
Baca: Dokter Yudith Sebut Rujukan Online Memudahkan Pasien dan Fasilitas Kesehatan
Tapi rupanya masyarakat belum menfaatkan secara baik potensi itu. Biasanya kolam alam ini di saat musim hujan baru dimanfaatkan untuk dijadikan kolam ikan. Saat kemarau, kolam ini dibiarkan begitu saja.
Namun di tangan kelompok di bawah asuhan Jek, kolam alam itu diubah menjadi lahan bermanfaat untuk sawah garam.
Mereka memanfaatkan air di kolam alam itu dan menggunakan terpal dan ember bisa menghasilkan garam.
Garam merupakan komoditas yang sangat penting bagi kehidupan mayarakat. Banyangkan saja jika tidak ada garam akan hambar.
Garam tidak saja sebagai bahan konsumsi semata. Namun garam juga bisa dikategorikan dalam bahan industri, seperti industri penyamakan kulit dan masih banyak kegunaan lainnya.
Jek kepada POS-KUPANG.COM di Mbay, mengatakan, bekerja sebagai petani garam lebih menjanjikan dan menguntungkan dibanding kerja sawah.
"Yang saya alami kerja sawah lebih sulit bahkan hasilnya tidak sebanding dengan hasil garam. Kerja sawah empat bulan baru panen. Kalau petani garam 1 minggu kita sudah dapat uang," ujar Jek, Rabu (26/9/2018).
Jek mengatakan, cukup 20 terpal maka satu minggu petani memanen 3 ton garam. Sehingga pndapatan mereka jauh lebih tinggi dibandingkan kerja sawah.
"Apalagi saat ini padi milik petani di Aesesa rata-rata banyak gagal panen. Sehingga saya lebih suka petani garam. Selain itu juga saya membuka lapangan kerja baru bagi penggannguran," kata Jek.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/petani-garam-di-aeramo-saat-berada-dilokasi-garam-desa-aeramo-kecamatan-aesesa_20180926_195525.jpg)