Opini Pos Kupang

Asian Games yang Sehat dan Menyatukan

Pada saat yang sama kita kagum dan belajar dari negara-negara lain yang juga telah menghadirkan para atlet dengan

Editor: Dion DB Putra
Instagram/zhu_chan
Pemain bulu tangkis ganda putra, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukomuljo meraih medali emas Bulu Tangkis Asian Games 2018, usai mengalahkan Fajar/Riyan di final, Selasa (28/8/2018). 

Oleh RD Maxi Un Bria
Pimpinan Tahun Diakonat Keuskupan Agung Kupang

"Mens sana in corpore sano, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat" (Juvenal)

POS-KUPANG.COM - Sehari lagi Asian Games 2018 akan berakhir. Pesta Olahraga negara-negara di kawasan Asia menggandakan kegembiraan dan harmonitas antar negara-negara yang terlibat di satu sisi, dan di sisi lain menegaskan kualitas dan keunggulan para atlet.

Kita bersyukur Indonesia masih menempati urutan keempat setelah CHina, Jepang, Korea Selatan. Kita bangga dan bergembira dengan prestasi atlet-atlet Indonesia.

Pada saat yang sama kita kagum dan belajar dari negara-negara lain yang juga telah menghadirkan para atlet dengan kualitas permainan yang hebat di Asian Games. Dari rangkaian menonton aktivitas Asian Games 2018, saya tertarik dengan inisiatif dan sikap kreatif Hanifan Yadani Kusumah. Betapa tidak.

Hanifan secara kreatif dan spontan mempertemukan Presiden Jokowi dan Prabowo dalam pelukan penuh makna yang menakjubkan khalayak. Sikap Hanifan, pesilat Indonesia yang mempersembahkan emas bagi Ibu Pertiwi pantas diapresiasi.

Sebagian penonton bersorak gempita menyaksikan momen sarat nilai itu. Pelukan Jokowi, Hanifan dan Prabowo yang menyatu karena gembira memang luar biasa.

Momentum pelukan itu menarik untuk dikaji karena alasan-alasan berikut. Pertama, pelukan mereka tidak direncanakan sebelumnya. Kedua, pelukan itu juga menjadi sebuah pengakuan bahwa olahraga tidak saja membuat sehat dan segar tetapi juga dapat mempersatukan yang berbeda.

Ketiga, menampilkan ketulusan dan sportivitas dua tokoh bangsa yang hendak bertarung dalam pemilihan presiden mendatang. Jokowi dan Prabowo telah menunjukkan sikap yang arif tanpa mau dikendalikan oleh isu-isu perpecahan yang hendak mencederai kebersamaan.

Apa yang telah terjadi merupakan momentum istimewa bagaimana anak-anak bangsa Indonesia mesti belajar menjadi pribadi yang arif. Bahwasanya berbeda dalam pilihan politik tidak harus mematikan spirit silaturahmi, kebersamaan dan jiwa kebangsaan. Sekali lagi pelukan Jokowi dan Prabowo yang dipertemukan melalui aksi kreatif Hanifan Yadani patut mendapat jempol dan contoh bagi bangsa ini. Lebih baik berkreasi untuk menyatukan daripada menceraiberaikan.

Alangkah indahnya hidup bersaudara secara damai dalam keanekaragaman. Perbedaan tetap disyukuri sebagai kekuatan untuk memperkaya dan belajar menjadi putera-puteri Indonesia yang dikagumi dan dihormati karena memiliki sikap-sikap ksatria dan sejuk dalam mempererat persatuan dan perdamaian dunia.

Pelukan Presiden Jokowi dan Prabowo di hadapan khlayak dan tamu-tamu negara lain menjadi contoh yang baik dan terpuji. Betapa tidak para undangan dari negara yang hadir tentu mengikuti dari media massa dan media sosial perkembangan politik di Indonesia belakangan ini.

Karena itu secara diplomatis dan demokratis, sesungguhnya Jokowi dan Prabowo telah menunjukkan sikap arif dan bijaksana yang mengagumkan sebab saling menghargai meski berbeda pilihan adalah hal esensial yang mesti dihormati dan dipertontonkan sebagai sebuah peradaban.

Sampai di sini saya ingat akan apa yang dikatakan Jokowi pada tanggal 30 Desember 2015. Ketika dalam kunjungan kerja ke Merauke, Presiden Jokowi menulis, Impian Indonesia 2015-2085. Ada tujuh impian yang ditulis tangan Presiden Jokowi. Pada poin kedua dari impian itu berbunyi "Masyarakat Indonesia yang menjujung tinggi pluralisme, berbudaya, religius dan menjunjung tinggi nilai-nilai etika."

Apa yang diimpikan Jokowi, juga dihidupi Jokowi dan Prabowo dalam pelukan istimewa pesta Asian Games. Apa yang terjadi adalah bagian dari kesaksian tentang keluhuran budaya dan religiusitas Indonesia kepada dunia. Pluralisme, kebudayaan, religiusitas dan nilai-nilai etika tetap dijunjung tinggi dan menjadi kekayaan yang dibanggakan oleh segenap elemen masyarakat Indonesia.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved