Berita Gempa Lombok

Cerita dari Tenda Pengungsian Gempa Lombok: "Bapak Jangan Tinggalkan Saya, Temani Saya, Pak"

Korban meninggal dunia akibat gempa yang mengguncang Lombok 7 Skala Richter, dan susulan yang 6,2 Skala Richter, terus bertambah.

Cerita dari Tenda Pengungsian Gempa Lombok:
KOMPAS.com/Fitri Rachmawati
Izhar dan istrinya, Ernawati, saat dikunjungi rekan-rekannya yang datang melayat. Putri mereka, Eza Elina, meninggal dunia setelah sakit di tenda pengungsian di Lombok Utara, NTB. 

POS-KUPANG.COM | LOMBOK UTARA - Korban meninggal dunia akibat gempa yang mengguncang Lombok 7 Skala Richter, dan susulan yang 6,2 Skala Richter, terus bertambah.

Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) NTB mencatat sampai hari ini, Minggu (19/8/2018), 483 orang meninggal dunia. Sebanyak 405 korban di antaranya adalah warga Lombok Utara.

Dari ratusan korban meninggal dunia itu, tercatat nama Eza Elina (6), bocah perempuan yang baru duduk di bangku Sekolah Dasar.

Baca: Keluarga Tolak Autopsi Jasad Berto Bire

Mereka saat itu tengah mengungsi di Dusun Kendang Galuh, Desa Sigar Penjalin, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, karena rumahnya hancur diguncang gempa.

"Saya tak bisa lupa, dia sempat bilang, 'Bapak jangan tinggalkan saya liputan. Saya sakit, temani saya, Pak... Tetapi saya harus meliput kedatangan Presiden Jokowi ketika itu. Saya katakan padanya, 'sebentar saja Nak, langsung Bapak pulang setelah liputan'. Saya tak bisa lupa itu, baru kali itu dia melarang saya pergi liputan. Selama ini dia yang dorong saya agar pergi liputan," ungkap Izhar atau Eja Ibrahim (30) dengan mata berkaca-kaca.

Saat gempa guncang Lombok, Sabtu (18/8/2018), putri tercintanya baru saja selesai dimakamkan ketika sejumlah teman mengunjungi pria yang sehari-hari bertugas sebagai jurnalis televisi online lokal di Lombok Utara itu.

Izhar terlihat tegar, namun dia tak bisa menyembunyikan rasa kehilangannya yang dalam.

Eza adalah putri pertamanya yang periang pergi selama-lamanya saat gempa susulan bermagnitudo 6,2 menguncang wilayah Lombok Utara dan sekitarnya, 9 Agustus lalu.

Izhar bercerita, saat gempa bermagnitudo 7 mengguncang Lombok Utara beberapa hari sebelumnya, yaitu pada 5 Agustus, putrinya tetap tenang. Dia mengajak istrinya, Ernawati, dan anaknya mengungsi dan menetap di tenda pengungsian.

Saat gempa susulan kembali mengguncang Lombok Utara, istrinya panik lalu menarik Eza yang tengah tertidur pulas keluar tenda.

Halaman
12
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved