Berita Nasional

Petugas Satpol PP Menendang Ibu yang Diduga Hamil Muda Jadi Video Viral

Video petugas Satpol PP menendang ibu yang diduga hamil muda ini pun menjadi viral di media sosial.

Editor: Bebet I Hidayat
TribunPekanbaru/Nando
Korban bentrok dengan Satpol PP aksi unjuk rasa Tenaga RTK yang masih dirawat di RSUD Bangkinang. (Kiri) aktivis GPPI, Davijul, (kanan) Tenaga RTK dari Puskesmas Gunung Sahilan I, Fitriani Winarti 

POS-KUPANG.COM  -  Aksi petugas Satuan Polisi Pamong Praja atau Satpol PP ini mendapat banyak reaksi, menyusul video aksi petugas Satpol PP menendang ibu yang diduga hamil muda. 

Video petugas Satpol PP menendang ibu yang diduga hamil muda ini pun menjadi viral di media sosial.

Komandan dari petugas Satpol PP menendang ibu yang diduga hamil muda ini pun angkat bicara.

Baca: Rahasia Kenapa Jimin BTS Disebut Imut Dan Lucu, Ada 6 Julukan Lucu Untuknya

Baca: 5 Drakor dengan Ending Bikin Lemes, Kamu Bisa Kesel Usai Lihat Drama Korea Ini

Baca: Loyalitas IU! Artis KPop Cantik Ini Tunjukkan Loyalitasnya pada Agensi

Seperti di kutip dari Tribun-Medan.com, video aksi petugas Satuan Polisi Pamong Praja ( Satpol PP) membubarkan unjuk rasa ratusan tenaga kesehatan Rumah Tunggu Kelahiran (RTK) di Kantor Bupati Kampar, Kota Bangkinang, Riau pada Senin (16/7/2018) menjadi viral di media sosial.

Dalam video tersebut, petugas Satpol PP terlihat emosi saat melakukan pembubaran paksa terhadap massa yang mencoba memaksa masuk ke dalam Kantor Bupati Kampar.

Pembubaran paksa tersebut berujung bentrok karena aksi yang dilakukan Satpol PP dinilai menjurus ke anarkis. Akibat bentrokan tersebut, dua orang pengunjuk rasa dilarikan ke rumah sakit karena jatuh pingsan.

Aksi unjuk rasa tenaga kesehatan tergabung dalam Gerakan Pemuda Patrotik Indonesia (GPPI) Cabang Kampar tersebut berlangsung, Senin (16/7/2018) sore.

Dalam video berdurasi 2 menit 42 detik yang beredar, petugas Satpol PP mendorong massa aksi yang mayoritas kaum perempuan.

Salah satu anggota Satpol PP berbadan gempal tampak menyeret salah seorang laki-laki yang tergabung dalam massa aksi yang membawa spanduk.

Melihat aksi Satpol PP tersebut, pengunjuk rasa perempuan menangis histeris sambil mengecam aksi yang dilakukan petugas.

Terlihat beberapa orang pengunjuk rasa jatuh pingsan.

Baca: Penerimaan CPNS 2018 Mulai Ada Titik Terang.Ini Penjelasan Kepala BKD Mangggarai

Baca: Pencari Kerja, 28 Lembaga Pemerintah dan Swasta Ini Buka Lowongan Kerja, Situs dan Deadlinenya

Baca: Marc Marquez Bisa Gagal Dalam Juara Dunia MotoGP 2018 Karena Hal Ini

Sekretaris GPPI Cabang Kampar Ryan, yang juga koordinator, mengatakan satu korban adalah wanita, Fitriani Winarti (Wina) umur 24 tahun yang bertugas di RTK Puskesmas Gunungselan. 

"Ia (Wina red) kena tendang di bagian perut, langsung terduduk," beber Liza, rekan Wina yang menjaga korban  di ruang UGD RSUD Bangkinang seperti dilansir goriau.com.

Dugaan Wina sedang hamil karena beberapa bulan belakangan tidak mengalami menstruasi. Beberapa bulan lalu wanita asal Gunung Sahilan ini sempat dikurek karena mengalami keguguran.

Aparat kepolisian yang juga berada di lokasi juga terlihat mencoba meredam aksi Satpol PP dan massa unjuk rasa.

Tenaga Ruang Tunggu Kelahiran (RTK) menolong rekannya yang pingsan akibat bentrok dengan Satpol PP dalam demo di Kantor Bupati Kampar, Senin (16/7/2018)
Tenaga Ruang Tunggu Kelahiran (RTK) menolong rekannya yang pingsan akibat bentrok dengan Satpol PP dalam demo di Kantor Bupati Kampar, Senin (16/7/2018) (goriau.com)

Foto Kami Budak Melayu Riau.

Tenaga RTK yang pingsan ditendang <a href='https://kupang.tribunnews.com/tag/satpol-pp' title='Satpol PP'>Satpol PP</a> Kampar
Tenaga RTK yang pingsan ditendang Satpol PP Kampar (facebook)

Pascabentrok GPPI dan Tenaga RTK Laporkan Balik <a href='https://kupang.tribunnews.com/tag/satpol-pp' title='Satpol PP'>Satpol PP</a> Kampar

Gaji tak dibayar

Sekretaris GPPI Cabang Kampar Ryan saat dihubungi Kompas.com mengatakan, aksi unjuk rasa ini terkait gaji tenaga kesehatan RTK yang belum dibayarkan.

"Mereka menuntut haknya yang belum dibayar sejak Januari 2018. Mulai bulan April kemarin mereka meminta haknya. Tapi juga belum dibayar," ungkap Ryan.

Bahkan, kata dia, tanpa pemberitahuan resmi mereka juga dirumahkan (hanya lewat lisan) disampaikan lewat kepala puskesmas se Kabupaten Kampar.

Dia mengaku, satu minggu terakhir tenaga kesehatan RTK didampingi GPPI Cabang Kampar mendirikan posko darurat kemanusiaan.

Memasuki minggu kedua, tenaga kesehatan RTK kembali meminta haknya dengan cara mengadakan unjuk rasa ke Kantor Bupati Kampar.

"Tadi kami datang ke Kantor Bupati disambut Satpol PP. Tidak ada satupun pejabat Kampar di kantor," ujar Ryan.

Setelah hampir satu jam berorasi, kata dia, Sekretaris Daerah (Sekda) Kampar Yusri datang menemui massa aksi dengan meminta beberapa orang utusan masuk ke ruang kerjanya.

Baca: Berton-ton Obat Kedaluarsa di Gudang Dikes Flotim Belum Dimusnahkan, Wabup Flotim Kaget

Baca: Heboh! Dikira Gelandangan, Pria Ini Ditolak Naik Angkot, Orang Kaget Setelah Tahu Identitasnya

"Jawaban sekda terhadap persoalan tidak sesuai dengan pernyataan sebelumnya. Akhirnya kita keluar dari ruangan sekda dan kembali menemui massa," tutur Ryan.

Lebih lanjut, dia mengaku, pada saat massa aksi membentang spanduk tuntutan di depan Kantor Bupati Kampar, tiba-tiba Satpol PP marah-marah dan langsung mendorong massa unjuk rasa.

"Satpol PP juga memukul dan menendang kawan-kawan (unjuk rasa)," kata Ryan.

Dia mengaku, akibat tindakan Satpol PP tersebut, satu orang mahasiswa anggota GPPI, David, pingsan.

Selain itu, satu orang tenaga kesehatan RTK, Fitriani Winarti, mengalami sakit di bagian perut.

"Korban ada empat orang. Kini mereka dirawat di RSUD Bangkinang," sebut Ryan.

Terkait masalah ini, pihaknya akan melakukan kembali aksi unjuk rasa dengan tuntutan yang sama dan mengutuk keras aksi represif Satpol PP.

"Rencananya kami juga akan laporkan ke pihak kepolisian," tegas Ryan.

Massa merusak pintu dan kaca

Sementara itu Kepala Satpol PP Kabupaten Kampar Hambali mengaku anggotanya terpancing emosi melihat massa aksi yang mencoba masuk dan menyegel kantor bupati Kampar.

"Korlapnya si-Ryan mau masuk dan menyegel kantor bupati membawa spanduk. Tentu tidak kami biarkan. Disitulah terjadi dorong-dorongan," akui Hambali saat dihubungi Kompas.com, Selasa (17/7/2018).

Dia menjelaskan, sebelumnya massa melakukan unjuk rasa di Rumah Dinas Bupati Kampar Aziz Zaenal.

Saat itu petugas Satpol PP tidak melarang atau dibiarkan saja.

Foto Kami Budak Melayu Riau.

Selanjutnya, massa bergerak ke Kantor Bupati Kampar untuk menyampaikan tuntutan kepada pejabat Kampar.

"Memang saat mereka datang tidak ada pejabat yang ada di kantor. Pak Bupati sedang di Jakarta. Dan pejabat lainnya sedang ada kegiatan di luar," kata Hambali.

Tak lama kemudian, sambung dia, massa memaksa untuk masuk ke Kantor Bupati mendobrak pintu masuk.

"Massa merusak pintu dan kaca pecah. Pengrusakan ini sudah saya laporkan ke Polres Kampar kemarin," kata Hambali.

Sebelum terjadinya bentrokan, dia mengaku dipanggil Sekda agar tidak melakukan tindakan anarkis terhadap pengunjuk rasa.

Namun, pada saat ia keluar dari ruang Sekda, ia melihat massa terus memaksa masuk ke kantor bupati. Saat itulah terjadi aksi saling dorong.

"Mereka mau nyerang, otomatis kita tahan aksinya itu," kata Hambali.

(Kompas.com/Kontributor Pekanbaru, Idon Tanjung)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved