Kamis, 11 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Drivers for Change: Catatan Inspiratif Anak Muda Mollo dari Inggris (4)

Isu ini masuk begitu cair ke dalam banyak program spesial antara lain, kelas pendidikan seni Asia selatan, residensi

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
FOTO DICKY SENDA
Eid Community Festival di salah satu taman Kota Bradford Inggris 

Dari satu kewirausahaan sosial, keuntungannya diputar kembali, dipakai untuk memodali aksi sosial atau kewirausahaan lain, begitu seterusnya. Sehingga dampaknya meski kecil namun terasa dan kelihatan menyenangkan sebab warga memainkan peran mereka secara langsung dan aktif.

Dicky Senda dan rekannya dari Indonesia
Dicky Senda dan rekannya dari Indonesia (ISTIMEWA)

Bagaimana dengan kita? LSM terlalu banyak juga kadang meninggalkan banyak pertanyaan, keberlanjutan dan kemandirian komunitas warga bagaimana?

Kewirausaan sosial yang dikendalikan warga memiliki semangat untuk berkembang bersama, memanfaatkan potensi lokal sekaligus melatih kemandirian warga.
Apa mungkin membayangkan kota yang inklusif?

Saya ingat saat merayakan pesta ulang tahun Paroki Kapan yang ke-50 saya begitu ngotot memasukan tulisan anak-anak dan remaja, terutama perempuan ke dalam buku kenangan dan sejarah kecil gereja yang kebanyakan sudah ditulis oleh para orang tua yang kebanyakan laki-laki.

Ada yang tertawa dan bertanya? Kenapa harus anak-anak? Bagi saya sudah masa depan Gereja bukan lagi nanti ketika anak-anak itu besar, masa depan itu sudah harus dimulai dari sekarang, ketika mereka dilibatkan mulai dari hal-hal kecil di Gereja.

Saya suka protes, mengapa orang muda Katolik di Gereja itu hanya disuruh angkat kursi, bekerja serabutan di belakang Pastoran tapi tidak dilatih untuk mulai ikut rapat Dewan Gereja, ikut mengambil keputusan, dsb.

Mengapa anak-anak Sekami tidak juga dilibatkan dari rapat dan pertemuan penting? Lantas kelak kita mengeluh jika pemimpin ini buruk, pemimpin itu jelek, dst. Kita sendiri yang menyebabkan orang lain tidak berkembang maksimal. Kita tidak memberi kesempatan sejak dini kepada orang lain untuk berkembang.

Di Bradford saya melihat keseriusan pemerintah melibatkan orang muda dalam kebijakan. Mungkin belum sempurna, mungkin masih ada banyak kekurangan tapi memikirkan kaum muda bukan sekadar menyediakan anggaran bagi mereka, tapi lebih dari itu, ikut melibatkan mereka dalam setiap kebijakan.

"Kami sedang mengurus banyak orang tua di kota ini dan itu menghabiskan banyak uang. Tapi dengan melibatkan orang muda dalam setiap kebijakan saat ini artinya sekaligus mempersiapkan mereka menentukan masa depan mereka kelak," ungkap salah satu perwakilan Bradford City Council.

Kami mengakhiri perjalanan di Bradford dengan mampir ke Eid Community Festival yang panitianya adalah orang-orang muda.

"Keuntungan dari semua pejualan makanan dan permainan, kami pakai untuk memembantu banyak komunitas orang muda sekaligus membiayai terselenggaranya festival tahun depan," jelas Kamran Rashad sang pengagas acara.

Seluruh peserta Drivers for Change mendapat voucher senilai 10 poundsterling, kembaliannya bisa diuangkan. Saya beli satu porsi nasi kasi, satu burger daging domba dan satu kaleng lemonade, masih ada kembalian 2 poundsterling.

Saya selalu sulit makan makanan apapun di Inggris. Rasanya terlalu hambar untuk lidah Timor saya. Untung saya bawa sebotol sambal lu'at dari Mollo produksi kewirausahaan sosial Lakoat.Kujawas jadi rasa tawar itu bisa lenyap karena pedas, asam dan wangi utsipa jadi satu.

Perut kenyang, hati senang, kami melanjutkan perjalanan ke Edinburg, tidur semalam di YHA Hostel di York. Saya membayangkan generasi muda Mollo yang akan hidup lebih baik ke depan jika mulai sekarang sudah mulai dikasih kesempatan, dilibatkan dalam banyak hal positif.

Saya tiba-tiba ingat 15 remaja Mollo di kelas menulis kreatif To the Lighthouse yang baru saja meluncurkan buku kumpulan cerita yang mereka tulis, yang terinspirasi dari berbagai dongeng lokal dari masa kanak mereka. Sudahkah kita memikirkan kesejahteraan mental mereka? *

* Dicky Senda adalah penulis 3 buku cerpen, pegiat makanan dan sejak dua tahun terakhir bergiat di sebuah komunitas warga bernama Lakoat.Kujawas di Desa Taiftob, Kapan, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Lakoat.Kujawas merupakan komunitas yang mengintegrasikan kewirausahaan sosial dengan perpustakaan warga, ruang berkesenian, toko online produk khas Mollo, homestay dan ruang arsip.

Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved