Jurnalisme Warga
Drivers for Change: Catatan Inspiratif Anak Muda Mollo dari Inggris (4)
Isu ini masuk begitu cair ke dalam banyak program spesial antara lain, kelas pendidikan seni Asia selatan, residensi
Komunitas yang mampu berdiri secara swadaya dan menolong banyak komunitas lain yang punya keterbatasan di bidang pendidikan, kewirausahaan, pertanian dan seni.
Komunitas yang didukung pemerintah dan banyak orang yang peduli pada pendidikan anak dan kesmepatan bagi generasi muda Mollo untuk hidup lebih baik di tempat kelahiran mereka.
Kami memulai sesi hari itu dengan workshop dalam kelompok kecil dengan topik utama problem solving dalam sebuah perjalanan membangun sebuah bisnis sosial.
Katie seperti biasa adalah fasilitator kami yang sangat komunikatif dan punya pengalaman panjang bekerja bersama komunitas.
Di sesi ini kami akhirnya sepakat untuk memilih ide Nabeeda asal Nuneaton, sebuah kota bekas industri di pinggiran Birmingham untuk dipakai sebagai contoh dalam membangun sebuah kewirausahaan sosial sepanjang perjalanan kami hingga nanti akan berakhir di London dan dipresentasikan di House of Lord di depan para anggota parlemen, pemerintah kota dan pengambil kebijakan publik, termasuk para aktivis dan donor dari berbagai latar belakang.
Menarik sekali, bagaimana ide dibangun sepanjang perjalanan. Bagaimana proses bertemu banyak orang, diskusi di dalam bus melampaui ratusan kilometer bukan saja mengubah cara pandang tapi sekaligus memberi ide dan peluang baru, juga bagaimana ide itu diwujudkan bersama dalam sebuah kerja kolaborasi lintas negara.
Saya teringat ketika melihat puluhan orang muda yang saya temui ini punya mimpi dan visi yang sama tentang pembangunan yang adil, kesempatan yang setara bagi semua orang muda tanpa melihat latar belakang ras, budaya dan apapun.
Kita melihat banyak kesamaan isu: pengangguran, pertumbuhan ekonomi yang tidak merata dan orang muda yang berjuang dalam keterbatasan kesempatan.
Terlalu idealis? Paling tidak orang-orang muda ini sudah merasa bahwa hidup ini bukan soal diri sendiri atau kami, tapi soal kita.
Di Nuneaton, ekonomi menjadi seret ketika era industrialisasi bergeser. Banyak pabrik ditutup mengakibatkan perubahan sosial yang signifikan sekaligus memprihatinkan.
Problem sosial seperti kriminalitas, pengangguran dan terbatasnya kesempatan bagi orang muda menjadi hal yang begitu dikhawatirkan Nabeeda.
Ia perempuan yang sungguh beruntung, mendapat akses pendidikan hingga lulus sarjana, tapi ia juga sedih melihat banyak teman seusianya tidak mendapat kesempatan yang sama.
Bagi Nabeeda, banyak peluang bisa diciptakan dan dikerjakan dalam komunitas dan lewat diskusi yang panjang, kami sepakat untuk mengadakan sebuah bus bertingkat yang multifungsi.
Bisa menjadi sarana orang muda setempat untuk belajar IT lewat banyak workshop yang diciptakan di dalam bus tersebut, bisa menyulapnya juga untuk beberapa aktivitas kreatif seperti tur keliling kota mengunjungi beberapa spot wisata sejarah dan budaya, termasuk paket makan malam tematik di atas bus.
Bus bukan saja jadi kendaraan yang mengatar orang dari satu titik ke titik lain, ia sekaligus menjadi pusat dari kreativitas itu sendiri, manget bagi orang muda yang ingin didekati dengan cara-cara kreatif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/bradforth_20180702_212348.jpg)