Catatan Sepakbola

‘Sindrom Megalomania’ yang Menghempaskan Para Bintang

Dari perspektif sosiologi Jerman –merujuk pada ulasan Sindhunata, analis bola Kompas-- bahwa “Jika manusia gagal, itu bukan karena ia memang gagal

Editor: Dion DB Putra
(AFP Photo/ Mladen ANTONOV
Kiper Jerman Manuel Neuer tak mampu menghentikan sepakan Hirving Lozano saat Jerman kalah 0-1 dari Meksiko pada laga Grup F Piala Dunia 2018 di Luzhniki, Minggu. 

Ulasan Bola Viktus Murin (Jurnalis Pos Kupang 1992-1995)

POS-KUPANG.COM -- Angle paling menarik sekaligus tragik dalam laga pamungkas penyisihan grup adalah kekalahan Jerman oleh tim negeri ginseng Korea Selatan. Dua ‘akar ginseng’ dikirim ke gawang Der Panzer pada laga Rabu (27/6/2018), salah satu dari hasil tendangan sudut, satunya lagi saat si kiper tua Manuel Neuer ‘berpiknik’ ke area gawang Korsel.

Aksi konyol Neuer di ujung laga itu bukan hanya memulangkan tim Jerman ke kampung halaman Deutshland, tetapi juga merusak reputasi dirinya sendiri kala memasuki masa senja prestasi.

Dari perspektif sosiologi Jerman –merujuk pada ulasan Sindhunata, analis bola Kompas-- bahwa “Jika manusia gagal, itu bukan karena ia memang gagal, tetapi karena cara berpikirnya yang sudah usang dan ketinggalan zaman”.

Masih merujuk pada ulasan Sindhunata yang mengutip analis Philipp Selldorf dalam Zuddeutsche Zeitung, kegagalan Jerman di laga perdana melawan Meksiko (dan kemudian di laga ketiga melawan Korsel), adalah pantulan dari ramalan tentang teori sosiologi tentang masyarakat yang mulai lapuk dan menua.

Demikianlah, tampilan skuad Jerman di Rusia tampaknya mengonfirmasikan bahwa era kejayaan skuad Jerman yang diarsiteki oleh Joachim Loew memang sudah berlalu, sudah usang dan menua.

Pemain Korea Selatan merayakan gol kedua mereka pada pertandingan Piala Dunia Grup F Piala Dunia 2018 Rusia antara Korea Selatan dan Jerman di Kazan Arena di Kazan (27 Juni 2018).
Pemain Korea Selatan merayakan gol kedua mereka ke gawang Jerman pada pertandingan Piala Dunia Grup F Piala Dunia 2018 di Kazan Arena di Kazan (27 Juni 2018). ((Luis Acosta / AFP))

Kontras dengan suasana muram yang membungkus tim Jerman, Korsel yang sudah gugur di babak penyisihan grup boleh kembali ke kampungnya dengan kepala tegak dan langkah kaki yang gagah.

Para “Ksatria Taeguk” itu telah mengirim “dua akar ginseng” ke gawang Jerman, satu gol dari kemelut pasca tendangan pojok. Satu gol lagi saat Neuer “sekrup rusak” Der Panzer, berlari-lari seperti hendak piknik di area gawang Korsel. Tentu saja Korsel pantas berbangga. Bagaimana tidak?

Memulangkan juara bertahan Piala Dunia 2014 tentu saja menjadi prestasi tertinggi Korsel dalam pentas Piala Dunia 2018. Di sini, di Rusia, roda sejarah memilih bersekutu dengan Korsel untuk memperpanjang ‘mitos kutukan bagi sang juara’ yang tidak lolos dari fase grup. Dalam beberapa gelaran Piala Dunia sebelum ini, mitos kutukan ini pernah menimpa Italia, Perancis, dan Spanyol.

Apa benar mitos kutukan sang juara itu akan terus terjadi? Entahlah, namanya juga mitos. Namun, mitos seperti ini dapat saja dicegah melalui kiat-kiat logis-rasional, yakni melalui persiapan yang matang.

Bukankah kemenangan cenderung selalu menyukai persiapan? Dari perspektif logika, dapatlah dijelaskan bahwa sang jawara yang datang dengan minim persiapan, pada dasarnya sedang menggali lobang kuburnya sendiri.

Sedangkan dari perspektif psikologi eksistensial, kejatuhan sang jawara secara cepat lazimnya diakibatkan oleh ‘sindrom megalomania’, yakni sejenis perasaan angkuh yang dipelihara di dalam diri karena sudah terlebih dahulu merasa besar atau lebih hebat dari pihak lain di luar diri.

Sebagai Juara Dunia 2014, sangat mungkin para bintang Jerman datang ke tanah Rusia dengan menenteng sindrom megalomania, yang kemudian justru menghempaskan mereka dalam rasa malu akibat terusir lebih cepat dari ajang tertinggi bola sejagat. Alhasil, kutukan juara bertahan itu menemukan penggenapannya bagi sang juara yang tidak mawas diri pada realitas dan tanda-tanda zaman.

Bila harus dibandingkan dengan suasana tahun politik di nusantara hari-hari ini, sindrom megalomania lazimnya diidap oleh oknum-oknum politikus; entah di level jabatan kepartaian atau di level jabatan publik dan pemerintahan, yang belum-belum sudah merasa lebih besar atau lebih hebat lantaran ada kekuasaan dalam genggaman.

Padahal, secara eksistensial hal kuasa itu bersifat sementara belaka, bisa hadir dan hilang lenyap kapan saja seturut kehendak rezim waktu. Ahhh....sudahlah, olahraga dan politik adalah dua dunia yang berbeda secara esensial, biarlah keduanya berkembang menurut karakter naturnya masing-masing untuk kiranya dapat bermakna bagi kemanusiaan.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved