VIRAL: Ayah Curhat Mata Anaknya Juling Karena Sering Nonton Youtobe, 10 Dampak Negatif
VIRAL: Seorang ayah curhat mata anaknya juling karena sering nonton youtobe. Waspada loh.
POS-KUPANG.COM - Seorang ayah curhat mata anaknya juling karena sering nonton youtobe. Waspada loh.
Baru-baru ini viral sebuah unggahan milik akun Facebook Josua Kalalo menceritakan tentang anaknya yang terkena efek dari terlalu sering bermain ponsel.
Dalam unggahannya pada Kamis (7/6/2018) lalu, ia curhat tentang anaknya yang berusia di bawah empat tahun.
Ia mengaku anaknya terkena sindrom juling namun tak parah akibat terlalu sering bermain handphone.
Baca: Kenapa Kamu Masih Jombloh, Lihat Alasannya Menurut Zodiakmu!
Baca: Takut Hajatnya Dicuri Orang, Kemana-Mana Kim Jong Un Selalu Bawa Toilet Pribadinya
Baca: Dinkes Bogor USG Nenek 78 Tahun Yang Dikabarin Hamil, Hasilnya Sungguh Mengejutkan
Anaknya harus diterapi dengan ditutup satu matanya selama tiga jam setiap harinya.
Sindrom juling diketahui merupakan kondisi lensa mata tidak bergerak ke arah yang sama dan bergerak ke arah berbeda.
Seiring waktu jika keadaan ini dibiarkan, satu mata akan menjadi 'malas' jarang digunakan, karena otak menggunakan sinyal dari mata yang lebih kuat.
Josua juga menyampaikan dalam unggahan yang lain, efek paling parahnya ada yang hingga merusak mata dan mengakibatkan kebutaan.
Baca: Janda Usia 78 Tahun yang Nikahi Pemuda Usia 28 Tahun Kini Sudah Hamil 7 Bulan, Selamat Ya
Baca: Merasa Ditipu, Gary Memutilasi Pacarnya dan Taruh di 7 Kantong Plastik, Isi Wasiatnya Menghebohkan
Baca: Pasanganmu Berselingkuh? Bikin Dia Mengaku dengan Cara Seperti Ini, Ladies
Ia juga menyarankan kepada warganet, khususnya para orangtua agar lebih memperhatikan penggunaan gadget bagi anak balita.
Postingannya tersebut menjadi viral di media sosial, sejak diunggah telah dibagikan warganet hingga 130 ribu kali.
Simak video di bawah. (*)
* 10 Bahaya Gadget Bagi Anak
Bahaya gadget pada anak sangatlah beragam, karenanya dihimbau para orangtua untuk tidak memberikan gadget sebelum anak berusia 12 tahun.
Bahaya penggunaan gadget pada anak sebaiknya dihindari, dengan cara tidak membiarkan mereka terpapar teknologi tersebut secara berlebihan.
Apalagi diberi hak kepemilikan saat usia mereka masih di bawah 12 tahun, karena bisa menghambat tumbuh kembang otak, mental, bahkan fisiknya.
Akademi Dokter Anak Amerika dan Perhimpunan Dokter Anak Kanada menegaskan, anak umur 0-2 tahun tidak boleh terpapar oleh teknologi sama sekali.
Anak umur 3-5 tahun dibatasi menggunakan teknologi hanya satu jam per hari. Dan anak umur 6-18 tahun dibatasi 2 jam saja perhari.
Anak-anak dan remaja yang menggunakan teknologi melebihi batas waktu yang dianjurkan, memiliki risiko kesehatan serius yang bisa mematikan.
Berikut ini adalah 10 bahaya penggunaan gadget pada anak, yang bersumber dari berbagai penelitian. sehingga bisa menjadi alasan kuat kenapa orangtua sebaiknya tidak memberikan gadget pada anak sebelum usia 12 tahun.
1. Mengganggu pertumbuhan otak anak
Pada usia 0-2 tahun, otak anak bertumbuh dengan cepat hingga dia berusia 21 tahun. Perkembangan otak anak sejak dini dipengaruhi oleh stimulasi lingkungan.
Stimulasi berlebih dari gadget (hp, internet, tv, ipad, dll) pada otak anak yang sedang berkembang, dapat menyebabkan keterlambatan koginitif, gangguan dalam proses belajar, tantrum, meningkatkan sifat impulsif, serta menurunnya kemampuan anak untuk mandiri.
2. Tumbuh kembang yang lambat
Bahaya penggunaan gadget pada anak, juga membatasi gerak fisiknya. Yang membuat tumbuh kembang fisik anak menjadi terlambat. Paparan teknologi sejak dini juga memengaruhi kemampuan literasi dan prestasi akademik anak secara negatif.
3. Obesitas
Penggunaan televisi dan video game berkaitan dengan meningkatkatnya kasus obesitas pada anak. Alat elektronik yang dipasang di kamar anak dan bisa diakses secara pribadi dapat meningkatkan risiko obesitas sebanyak 30%.
30% anak yang menderita obesitas, akan mengalami diabetes, hingga memiliki risiko tinggi stroke dini atau serangan jantung, serta usia harapan hidup yang rendah.
4. Kurang tidur
75% anak usia 9-10 tahun mengalami kurang tidur karena penggunaan teknologi tanpa pengawasan.
Kekurangan tidur akan berdampak buruk pada nilai sekolah mereka, karena otak berkembang dengan baik saat tidur, dan anak butuh tidur yang cukup agar otaknya bisa berfungsi dengan baik.
5. Kelainan mental
Penelitian di Bristol University tahun 2010 mengungkapkan, bahaya penggunaan gadget pada anak dapat meningkatkan risiko depresi, gangguan kecemasan, kurang atensi, autisme, kelainan bipolar, psikosis, dan perilaku bermasalah lainnya.
6. Sifat agresif
Konten di media yang bisa diakses anak, dapat menimbulkan sifat agresif pada anak.
Kekerasan fisik dan seksual banyak tersebar di internet, dan jika tidak dilakukan pengawasan, anak bisa terpapar itu semua.
Sehingga memicu timbulnya perilaku agresif dan cenderung menyerang orang lain pada anak.
7. Kecanduan
Ketika orangtua terlalu bergantung pada teknologi, mereka akan semakin jauh dari anak.
Untuk mengisi kekosongan ikatan dengan orangtua, anak juga mulai mencari penghiburan dari gadget, yang pada akhirnya membuat mereka kecanduan teknologi, dan tidak bisa lepas darinya.
8. Pikun digital
Kecepatan konten di media, membuat anak memiliki attention span yang pendek. Dia jadi tidak fokus pada satu hal, dan mudah berganti fokus.
Hal ini menurunkan kemampuan konsentrasi dan memori. Sehingga membuat anak susah memusatkan perhatian.
Hal ini memicu kondisi yang disebut pikun digital, karena anak yang terpapar teknologi terlalu banyak, tidak bisa memusatkan perhatian, imbasnya dia menjadi kesulitan belajar.
9. Radiasi emisi
Pada bulan Mei 2011, WHO memasukkan ponsel dan gadget tanpa kabel lainnya dalam kategori Risiko 2B (penyebab kemungkinan kanker), karena radiasi emisi yang dikeluarkan oleh alat tersebut.
James McNamee dari Lembaga Kesehatan Kanada, memberi peringatan pada 2011 lalu:
“Anak-anak lebih sensitif terhadap radiasi dibanding orang dewasa. Karena otak anak dan sistem imun mereka masih berkembang. Jadi, kita tidak bisa mengatakan bahwa risiko pada anak sama dengan risiko pada orang dewasa."
10. Proses belajar yang tidak berkelanjutan
Penggunaan teknologi yang berlebihan pada anak, bisa membuat proses belajarnya tidak kontinyu. Karena teknologi ini membuat segalanya menjadi lebih mudah, sehingga otak anak tidak terasah, disebabkan kemudahan yang ditawarkan untuk mencari jalan pintas. (*)