Menyandang Gelar Doktor, Tetapi Lelaki Ini Bekerja sebagai Pemulung. Kok Bisa Ya?

Di usia senja memasuki 81 tahun, dia masih bersemangat mencari rezeki memunguti barang-barang bekas bernilai jual.

Menyandang Gelar Doktor, Tetapi Lelaki Ini Bekerja sebagai Pemulung. Kok Bisa Ya?
KOMPAS.com/PUTHUT DWI PUTRANTO
Soesilo Toer saat ditemui Kompas.com di rumahnya di Jalan Sumbawa Nomor 40, Kelurahan Jetis, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Kamis (31/5/2018) sore. 

Tiang utamanya adalah dana keluarga.

Uang keluarga diputarnya di sejumlah pedagang kecil yang membutuhkan modal dadakan.

Dari pinjaman itu, bunga yang didapatkan digunakan untuk menyokong biaya sekolah dan hidup sehari-hari.

"Hidup waktu itu demikian susah dan keras. Uang saku dari Mas Pram sangat minim. Sampai kini, kalau teringat terkadang miris sendiri. Kasihan terhadap kemiskinan bangsa sendiri. Mengapa aku harus begitu kejam mencari sesuap nasi. Aku tahu itu tidak halal, tapi kalau sok-sokan berperikemanusiaan, hadiahnya lapar dan bencana bagiku," ungkap Sus, anak ketujuh dari sembilan bersaudara pasangan Mastoer dan Siti Saidah itu.‎

Ke Rusia dan berlimpah harta Lulus kuliah, Sus diterima bekerja sebagai clerk atau pegawai asuransi di sebuah kantor dagang, bekas milik Belanda yang dinasionalisasi atas tuntutan buruh.

Posisinya strategis.

Tentunya dengan gaji besar.

Kehidupan perekonomian Sus mulai meningkat‎ signifikan.

Makan enak tak lagi melarat.

"Namun sungguh aku tidak suka. Kerjanya membosankan, setiap hari hanya dipenuhi angka-angka. Kantornya berisik oleh suara mesin hitung, mesin bagi, mesin tulis, mesin bagi dan mesin kali‎," ujar Sus.

Pada saat Sus berada di atas angin, Indonesia mendadak dilanda kegoncangan ekonomi dan politik.‎

Pemerintah membentuk Batalyon Serbaguna Trikora. ‎

Karier suksesnya selama lebih dari setahun itu perlahan berubah karena situasi negara waktu itu.‎

Sus mengikuti pelatihan wajib militer yang menguras fisik saat itu.

"Aku tak tahu apa penyebabnya. Pemerintah bertekad membebaskan Irian Barat. Saat itu militer memegang kuasa termasuk di kantorku, hingga akhirnya aku ikut latihan menjadi sukarelawan ke Irian Barat. Jabatanku Kabag Distribusi dan pangkatku Letnan waktu itu, tapi kenyataannya aku jenderal bintang tujuh alias pusing dengan nasib ke depannya," tutur Sus terkekeh.

Setelah Perundingan Den Haag, Irian Barat masuk ke dalam pangkuan Ibu Pertiwi.

Indonesia berhasil membebaskan Irian Barat.

Sus lalu mendulang kesempatan terbang ke luar negeri setelah lolos penjaringan beasiswa otoritas Rusia.

Dari sekitar 9.000 pendaftar, hanya 30 orang yang lolos, termasuk Sus.

Sus melanjutkan pendidikannya di Fakultas Politik dan Ekonomi University Patrice Lumumba.‎

"Aku tidak jadi berangkat Irian Barat, namun aku bebas dari pakaian hijau yang enam bulan membungkusku.‎ Aku berangkat ke Rusia sekitar tahun 1962. Di situlah kisah hidup baruku dimulai," tutur Sus.

Singkat cerita, menempuh pendidikan di sana tidaklah mudah.

Sus diharuskan mengabdi selama dua tahun di Rusia karena tidak lulus dengan predikat cumlaude.

Sus kemudian melanjutkan program pascasarjana di Institut Perekonomian Rakyat Plekhanov.

Gelar PhD yang lazimnya ditempuh 2 tahun disabetnya hanya dalam tempo 1,5 tahun. ‎

Selama 11 tahun di Rusia, Sus bekerja apa saja, mulai dari penulis, penerjemah, peneliti dan pekerja kasar.

Karena kendali pendidikannya, Sus berpendapatan tinggi.

Sus bergelimang harta di Rusia.

‎Sepekan sekali, dia bersantap di restoran berkelas di Rusia.

Berpindah-pindah lokasi tergantung selera Sus.‎

Sus mengaku sering mentraktir teman-temannya dan menggelar pesta kecil-kecilan.

"Saya penggila buku-buku sastra Rusia. Bahkan suatu ketika dosen belum pernah baca, saya sudah khatam. Selama saya bekerja di Rusia, duit saya banyak. Seminggu sekali makan di restoran berkelas. Saat itu, biaya hidup 1 rubel sehari di Rusia. Padahal sebulan saya kantongi 400 rubel," kenangnya sambil tersenyum.‎ (PUTHUT DWI PUTRANTO)

Editor: Bebet I Hidayat
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved