Teror Mempertebal Iman Kita

Selain itu selama beberapa hari di akhir Mei ini, umat Katolik dari berbagai daerah di NTT menyelenggarakan

Editor: Dion DB Putra
Aksi bom di Surabaya pada Minggu (13/5/2018) pagi. 

Agama kaum inklusif adalah agama yang mutlak benar. Sedangkan keselamatan melalui agama lain tak lebih dari sekadar pancaran keselamatan dalam agamanya. Prinsipnya wahyu yang otentik dan kemungkinan keselamatan cuma terdapat dalam agama kaum inklusif. Sebaliknya apa yang kiranya dapat diperoleh melalui agama lain adalah sebagian dari keselamatan paripurna dalam agama kaum inklusif.

Ketiga, paradigma pluralis. Penganut paradigma ini lebih suka menerima semua agama sebagai jalan yang absah untuk memperoleh keselamatan. Retorika para penganut paradigma ini lazimnya bertolak dari aksioma bahwa Allah menghendaki keselamatan bagi semua manusia.

Menurut para penganut paradigma pluralis, setiap manusia memiliki ketebukaan eksistensial terhadap yang supernatural. Horizon supernatural yang termasuk kodrat manusia sendiri membuat manusia memiliki sikap menerima yang supernatural karena hal itu muncul pada horizonnya.

Akan tetapi tetap digarisbawahi satu hal penting bahwa manusia adalah makhluk yang berkodrat sosio historis dengan sejarah yang berbeda beda. Jika rahmat keselamatan Allah menjadi nyata secara universal maka ia harus mengambil bentuk sosio historis, ia harus menjadi badan, tulang, peristiwa dan simbol.

Kesimpulannya sederhana, rahmat Allah yang menyelamatkan tidak sampai kepada seorang pribadi di luar agama dan kepercayaannya melainkan di dalamnya.

Pandangan di atas sama sekali tidak menafikan agama. Sebaliknya ia meneguhkan agama sebagai mediasi simbolis untuk berelasi dengan Allah. Secara fenomenologis relasi itu mendapat bentuk dan ekspresinya dalam konteks kebudayaan dan sejarah.

Bentuk konkretnya adalah ritus, doktrin, etika dan institusi atau lembaga agama.
Karenanya setiap agama mempunyai karakter absolut dan relatif. Hubungan personal sebagai komitmen dalam iman mempunyai karakter absolut terutama karena ia berhubungan dengan Yang Absolut (Tuhan).

Sedangkan segala ekspresi simbolis yang dikondisikan faktor kultural dan historis bersifat relatif. Hubungannya yang absolut dan yang relatif seperti hubungan tubuh jiwa, dua hal yang berbeda tapi tak terpisahkan. Setiap agama adalah relatif dalam hubungannya dengan Yang Absolut, bukan relatif dalam relasinya dengan agama agama lain.

Konteks kita

Seperti diketahui bersama pluralisme diakui di Indonesia. Malah toleransi dan kerukunan beragama merupakan konsep final bangsa Indonesia bagaimana mengejawantahkan jiwa pasal 29 UUD 1945. Problemnya adalah bagaimana menggariskan implementasi konsep tersebut agar menghindari kemungkinan pluralisme agama agama sebagai sumber ketegangan.

Dalam konteks yang lebih kecil buat kita di NTT, boleh dikata dialog agama relatif lebih maju ketimbang daerah lain.

Dengan mayoritas penduduknya memeluk agama Kristen (Katolik dan Protestan), dan tentu saja dukungan roh kekristenan, kita berhasil membina kelangsungan pluralisme agama.

Tetapi sebagaimana sudah amat diketahui persepsi kita tentang kerukunan beragama yang nyata melalui seruan, imbauan dan berbagai produk hukum yang mengaturnya tidak dengan sendirinya cukup untuk menghindari pertentangan antaragama dengan modus apapun.

Dalam referensi paradigma pluralis kini tiba saatnya memulai dialog saling memahami dan saling menghormati yang bermula dari apa yang paling universal, yaitu pengalaman iman akan Allah yang menawarkan bonum (kebaikan) kepada para hambaNya dalam masing masing agama.

"Dalam Allah kita satu karena Allah berhati lapang dan merangkul kita semua dalam kelembutan dan kasih sayang," kata Muhammed Khaled, seorang Syeikh dari Universitas Al Azhar tahun 1958.

Konteks dialog antaragama adalah komunitas orang orang sebagai suatu bangsa yang hidup dalam budaya dan struktur sosio politis yang sama. Agama dengan segala unsurnya: doktrin, ritus dan etika tetap diakui sebagai komitmen iman akan Allah yang sama. Akan tetapi semuanya itu dihayati dalam konteks kita sebagai suatu bangsa.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved