Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian NTT Siapkan Petani Malaka Olah Bawang Merah
Badan P3 Kementerian Pertanian melalui kegiatan DIP-WP akan melakukan kegiatan peningkatan SDM petani bawang merah Kabupaten Malaka.
Penulis: Teni Jenahas | Editor: Kanis Jehola
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Teni Jenahas
POS-KUPANG.COM | BETUN - Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian melalui kegiatan Dukungan Inovasi Pertanian di Wilayah Perbatasan (DIP-WP) akan melakukan kegiatan peningkatan SDM petani bawang merah Kabupaten Malaka.
Peningkatan SDM petani bawang merah tersebut selain pelatihan budidaya, juga dilakukan pelatihan penanganan panen dan pascapanen bawang merah.
Baca: Bawaslu NTT Sarankan Perlu Ada Panelis Perempuan pada Debat Terakhir
Demikian dikatakan Kepala BPTP Provinsi NTT, Syamsudin, ketika dikonfirmasi di Kupang, Jumat (11/5/2018).
Dikatakannya, penanganan yang intens dilakukan, yakni dari waktu panen yang tepat, cara panen, dan penanganan secara tepat setelah panen. Misalnya, waktu dan cara jemur untuk menurunkan kadar air, pengikatan dan penyimpanan setelah dijemur.
Baca: Ini Tujuan Wakil Walikota Kupang Imbau Kenakan Pakaian Adat Saat Pengumuman Kelulusan SMP dan SD
"Banyak produk bawang merah baik kualitas maupun kuantitas akan menurun, jika panen dan penanganan pascapanen tidak dilakukan dengan baik," ujarnya.
Di samping itu, BPTP NTT akan mengobservasi peluang kelompok tani khususnya kelompok wanita tani atau perorangan untuk dilatih memroses produk bawang merah segar menjadi hasil olahan. Misalnya bawang goreng, tepung bawang yang dapat berkembang menjadi unit usaha industri skala rumah tangga.
"Kita akan buat observasi lagi kelompok tani di Malaka untuk dilatih mengolah hasil bawang merah," katanya.
Melihat peluang yang ada, Syamsudin menuturkan, apabila Malaka telah menjadi sentra bawang merah maka pemasaran produk bawang merah dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pemasaran dalam bentuk segar maupun dalam bentuk olahan.
Diharapkan melalui kegiatan DIP-WP produk yang dihasilkan berorientasi pemenuhan lumbung pangan dan ekspor. Dampaknya adalah peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan. (Herryklau/kominfo malaka)