Baru Saja Dilantik, Pengurus DPP Santo Mikael Nita Diminta Siap Terima Cemoohan
kesombongan yang terus berkembang hanya menjadi tanda perlawanan kepada perintah Allah.
Penulis: Eugenius Moa | Editor: Fredrikus Royanto Bau
Laporan Wartawan Pos Kupang.Com, Eginius Mo’a
POS KUPANG.COM,MAUMERE - Badan Pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP) Gereja Santo Mikael Nita, Kabupaten Sikka, dikukuhkan Vikjen Keuskupan Maumere, RD Ewaldus Sedu, Minggu (4/3/2018).
Usai pengukuhan, Romo Ewal mengatakan, dengan adanya pengukuhan tersebut para pengurus mengembang tugas sebagai sebagai DPP harus siap selalu menerima cemoohan, cibiran dan penolakan.
“Tugas seorang pengurus DPP mulai dari pastor paroki, pengurus inti, seksi-seksinya sampai ke KUB, KBG, stasi adalah membangun relasi yang harmonis kepada Allah dan sesama.
Kita semua dipanggil untuk menjaga tatanan hidup bersama yang lebih baik dan sejahtera,” ujar RD Ewal dalam kotbah pelantikan.
Ia menegaskan, kesombongan yang terus berkembang hanya menjadi tanda perlawanan kepada perintah Allah.
Pemimpin yang jujur, lurus bersahaja dan melayani kadang menjadi bahan cemoohan, olokan cibiran dari orang-orang yang tidak suka akan kejujuran, kebaikan, keadilan dan perdamaian.
“Ada banyak tuntutan kepada kepempinan, bahkan ia menjadi cemoohan ketika gagal mencapai target program,” wanti-wanti RD Ewaldus.
RD Ewal menititipkan tiga pesan yang harus diperjuangkan pengurus DPP masa bakti 2008-2023 dipimpin Pasto Paroki Santo Mikael Nita, RD. Stefanus Lebuan.
Pertama, menjadikan Salib Kristus sebagai inspirasi dan semangat dalam karya pelayanan.
Salib adalah rahmat yang mengagumkan, sebab mengembangan tugas DPP tidak mudah, kadang kita mengalami penolakan, tetapi jadikan itu sebagai salib kehidupan kita.
Kedua, memperjuangkan kehidupan yang baik dan benar dalam kehidupan menggereja di KBG, stasi dan paroki dengan mempedomani 10 perintah Allah sebagai inspirasi dan motivasi berkarya.
Ketiga, Paroki Nita, adalah bagian penting dari sejarah Keuskupan Maumere, karena itu harus turut ambil bagian dalam kehidupan gereja yang hidup, mandiri dan menyelamatkan. (*)