Martina Puspita, Guru Berhijab yang Mengajar di Sekolah Katolik
"Ayah menjadi sopir keuskupan lebih dari 25 tahun. Ayah saya Islam, ibu saya Islam, semua keluarga besar juga Islam."
Diskriminasi malah dirasakan Martina saat duduk di bangku kuliah karena beberapa rekannya menjaga jarak saat tahu dia lulusan sekolah katolik dan tidak menggunakan jilbab.
Bahkan sebagian besar rekannya di kampus mengira Martina tidak beragam Islam.
"Ketika kuliah saya malah merasa menjadi minoritas di rekan-rekan saya yang beragama Islam hanya karena saya tidak berhijab. Sempat sedih," jelasnya.
Sementara itu, Romo Tiburtius Catur Wibawa menjelaskan, sejak menjadi kepala SMA Katolik Hikmah Mandala pada tahun 2006 hingga sekarang, sudah ada 11 orang lulusan SMA yang dia kuliahkan.
Sembilan orang sudah lulus dan dua orang masih menempuh pendidikan.
"Saya kuliahkan mereka yang memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan dan secera ekonomi menengah ke bawah. Dan, saya tidak mengikat mereka. Bebas setelah lulus mau ke mana saja. Dari sembilan yang sudah lulus semuanya mengajar tidak hanya di sini, ada juga yang di Malang. Salah satunya ya Bu Martina," kata Romo Catur.
Ia mengaku, walaupun sekolah katolik, siswa dan guru serta pegawai sekolah berasal dari latar belakang agama yang berbeda ada yang Kristen, Hindu dan Islam.
Saat ini ada 28 orang yang bekerja di SMA Katolik Hikmah Manda, baik guru ataupun pegawai TU. Sementara jumlah siswa sebanyak 260 orang.
"Siswanya 25 persen beragama Islam, 30 persen katolik dan sisanya beragama kristen," jelasnya.
Romo Catur mengatakan. Martina adalah satu-satunya guru yang menggunakan hijab di sekolah yang dia pimpin.
"Kalau ada yang komentar saya memilih tidak mendengarkan, karena yang terpenting adalah prestasinya," katanya sambil tersenyum.
Hal senada juga dijelaskan Ketua Yayasan Karmel Keuskupan Malang, Romo B Hudiono.
Menurutnya, saat ini yayasan Karmel menaungi 61 sekolah mulai TK hingga SMA yang tersebar di eks karesidenan Besuki, Malang dan Madura.
"Sekolah kita ini adalah miniatur Indonesia. Dan dari 650 karyawan, 110 karyawan kami adalah muslim. Di sekolah kami yang Madura juga ada yang berjilbab. Di sana ada 7 sekolah," jelas Romo Hudiono.
Bahkan saat ada yang melaksanakan ibadah haji dan izin selama 40 hari, pihak yayasan tidak mempermasalahkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/martina-puspita_20180119_235335.jpg)