Martina Puspita, Guru Berhijab yang Mengajar di Sekolah Katolik
"Ayah menjadi sopir keuskupan lebih dari 25 tahun. Ayah saya Islam, ibu saya Islam, semua keluarga besar juga Islam."
"Namanya orang beribadah ya kami izinkan. Nggak boleh kalau dilarang-larang. Saya selalu bilang sekolah kita adalah miniatur Indonesia, sekolah kita menjadi perekat kebangsaan. Saya tidak mengizinkan fanatisme sempit tentang agama apapun di sekolah naungan yayasan Karamel," jelasnya.
Yayasan yang ada sejak 1926 tersebut, menurut Romo Hudiono, adalah lembaga sosial dan pendidikan yang terpanggil untuk mencerdaskan anak bangsa demi tata kehidupan bersama yang berbudaya berdasarkan kasih dan peduli kepada yang miskin.
"Jangan sampai orang tidak sekolah hanya karena alasan miskin," pungkasnya.(Ira Rachmawati)
Berita ini sudah tayang di Kompas.com dengan judul: Cerita Guru Muslim di Banyuwangi, Kuliah Dibiayai Pastor dan Kini Mengajar di Sekolah Katolik
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/martina-puspita_20180119_235335.jpg)