Berita Kota

Di Kota Kupang Banyak Lubang Alam yang Digunakan Untuk Tempat Sampah

Di Kota Kupang banyak lubang alam yang dijadikan sebagai WC dan tempat pembuangan sampah.

Di Kota Kupang Banyak Lubang Alam yang Digunakan Untuk Tempat Sampah
POS KUPANG/GORDI DONOFAN
Para pemateri sedang memaparkan materi saat seminar sehari yang dilaksanakan oleh BPBD NTT kerja sama dengan TCP DFAT dan Forum PRB NTT. 

Laporan Wartawan Pos Kupang, Gordi Donofan

POS KUPANG.COM | KUPANG -- Di Kota Kupang banyak lubang alam yang dijadikan sebagai WC dan tempat pembuangan sampah.

Sebenarnya lubang alam itu bisa digunakan untuk resapan air hujan guna menampung air hujan disaat musim penghujan.

Hal ini diungkapkan oleh seorang narasumber, Torry Kuswardono, saat seminar sehari yang dilaksanakan oleh Forum Penanggulangan Resiko Bencana (PRB) NTT di Neo Aston Hotel pada Kamis (26/10/2017).

Seminar ini merupakan kerja sama BPBD NTT dengan TCP DFAT dan Forum PRB NTT serta beberapa mitra.

Torry Kuswardono, mengatakan, ada banyak cara untuk mengelolah air hujan dengan cara tangkapan buatan.

"Bisa dibuat cekdam, benduangan, ek-oel dengan cara tradisional, embung, sumur resapan, sumur injeksi dengan metode teknik rekayasa sipil dan teknik rekayasa vegetasi dan rekayasa gabungan. Di Pulau Timor itu ada teknik tradisional menjebak air serta memperhatikan kondisi sekitar lingkungan," jelasnya.

Pembicara lain, Zet Malelak, mengatakan, Di Kota Kupang air bukan untuk kebutuhan sosial melainkan kebutuhan ekonomi.

"Kali Dendeng pada tahun 1980- 2000 itu terdapat 324 mata air pada tahun 2000-2012 tinggal 24 mata air. Camplong 1 dan 2 ada 89 mata air sekarang 27 mata air. Sedangkan sumur pantek di Kecamatan Kupang Timur terdapat 207 sisa sampai saat ini 96 sumur yang masih ada air. Sedangkan sumur tedens, sumur panti asuhan Oeba, Air Oeba dulu belum tercemar sekarang sudah tercemar," ungkap Zet Malelak.

Zet Malelak, mengatakan, Mata air di Oepura dulu sangat stabil tapi sekarang debit air sudah menurun.

"Sungai Merdeka tahun 2000 itu ada 7 mata air tapi saat ini debit air menurun. Sedangkan di Kelurahan Naioni, Fatukoa itu dulu ada 2 sumur bor dalam pada saat ini kering total," jelasnya.

Zet Malelak, menegaskan, sebaik memberikan kesempatan input 100% air hujan untuk tanam air. Supaya ada stok air sehingga tidak akan kekurangan air.

"Ini agar mengajak orang untuk menanam air. Supaya ada air mesti dibuat stok, apabila stok cukup itu tanpa dibor maka ada mata air. Makanya harus tanam air apakah itu cekdam, resapan, ataupun hal lainya. Sehingga bertanggung jawab terhadap keluarga. Jangan harap pemerintah untuk dapat air tapi diri sendiri yang bisa menanam air. Jangan harap negara yang bantu. Air tidak bisa disubstitusi, banyak orang menganggap remeh soal air," ungkap Zet Malelak.(*)

Penulis: Gordi Donofan
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved