Pasca Bencana Gempa Bumi di Lembata, Warga Dua Desa Agar Direlokasi
Bebatuan di dua desa tersebut, kata Praponco, relatif padat. Tapi bebatuan itu berada di atas tanah tumpang.
Penulis: Frans Krowin | Editor: Agustinus Sape
Laporan Wartawan Pos Kupang, Frans Krowin
POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung merekomendasi kepada Pemerintah Kabupaten Lembata agar merelokasi masyarakat dua desa di Kecamatan Ile Ape Timur. Dua desa itu, yakni Lamagute dan Waimatan.
Rekomendasi itu disampaikan Ketua Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung, Titis Praponco dalam raoat koordinasi di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata, Minggu (15/10/2017) malam.
Rapat koordinasi itu dipandu Ketua BPBD Lembata, Rolly Betekeneng, dihadiri Wakil Bupati (Wabup) Lembata, Thomas Ola Langoday. Hadir pula sejumlah pihak yang ikut berkontribusi dalam menangani pengungsi di daerah itu.
Titis Praponco mengatakan, timnya telah turun ke lapangan, yakni Ile Ape dan Ile Ape Timur, mengambil data dan melakukan analisa tentang kondisi alam daerah itu terkait gempa bumi yang mengguncang Lembata pekan lalu.
Data lapangan menunjukkan saat gempa bumi berlangsung, aktivitas gunung api Lewotolok memang meningkat. Tapi gempa bumi yang terjadi, bukan disebabkan oleh meningkatnya aktivitas gunung api tersebut.
Gempa bumi terjadi karena ada patahan di laut Flores, yang episentrumnya dekat Desa Lamagute dan Waimatan. Hal itulah yang mengakibatkan tingkat kerusakan di dua desa itu cukup parah. Apalagi tekstur tanahnya labil.
Bebatuan di dua desa tersebut, kata Praponco, relatif padat. Tapi bebatuan itu berada di atas tanah tumpang. Konsekuensinya, ketika ada guncangan gempa, bebatuan itu mudah terlepas karena tanahnya labil.
“Kondisi ini terjadi di Desa Lamagute dan Waimatan. Jadi kami merekomendasikan agar pasca gempa bumi ini , masyarakat dua desa tersebut jangan dipulangkan dulu. Soalnya dua desa itu masih rawan longsor,” ujar Praponco.
Saat ini, lanjut dia, masih ada guncangan gempa walau terasa makin melemah. Tapi kemungkinan terjadinya longsoran masih ada. Untuk itu, masyarakat dua desa tersebut diingatkan untuk tidak boleh pulang.
Jika pulang, pesan Praponco, hendaknya cukup untuk memberi makan ternak atau melihat tempat tinggal. Setelah itu segeralah kembali ke tempat penampungan, sebab kedua desa itu belum aman dari masalah batu longsor.
Ia menyebutkan, saat ini intensitas gempa tektonik telah berkurang. Aktivitas gunung api Lewotolok pun demikian. Oleh karena itu, warga yang saat ini masih mengungsi, dibolehkan kembali ke desa masing-masing dan beraktivitas seperti biasa.
“Saat ini para pengungsi sudah bisa pulang ke rumah masing-masing, kecuali masyarakat Desa Lamagute dan Waimatan. Dua desa ini masih rawan oleh longsoran bebatuan. Warga Desa Lamawara juga boleh pulang, kecuali yang berdomisili di bawah kaki bukit di desa itu,” ujarnya.
Wabup Thomas: Boleh Pulang
