Di Tempat Kos BKH Belajar Pluralisme
Benny K Harman (BKH) senang tuan kos telah menerimanya sebagai anak. Di sini Benny belajar hidup bertoleransi, hidup dalam bingkai kemajemukan bangsa.
SETIBANYA di Malang, Jawa Timur, Benny harus mencari tempat kos yang nyaman agar dapat belajar dengan baik. Benny diterima bapak dan ibu kos asal Madura yang beragama Islam.
Pak Haji begitu Benny menyebutnya, tak keberatan rumahnya diisi oleh anak kost yang beragama non muslim seperti Benny. Tidak hanya mengizinkan Benny tinggal di rumahnya, Pak Haji itupun membebaskan Benny dari segala biaya kos.
Dari sana, timbul keinginan lamanya untuk mengubah nasib sanak saudara dan masyarakat kampung halamannya yang dianggapnya sebagai korban dari sebuah sistem.
Hal itu yang menjadi salah satu inspirasi sekaligus alasannya mengambil fakultas hukum sebagai ilmu yang akan didalaminya.
"Saya senang sekali, saya seperti mendapat orangtua angkat. Pak Haji tidak hanya mengizinkan saya untuk tinggal di rumahnya, namun juga menggratiskan uang kos. Tapi gantinya saya harus ikut membantu pekerjaan rumah Pak Haji dan Bu Hajah, seperti menimba air di sumur, menyapu dan mengepel rumah, serta ikut mencuci piring," kata Benny kepada Tim Media di Kupang belum lama ini.
Di situlah Benny belajar banyak tentang pluralisme, di mana Tuhan menciptakan manusia dengan segala perbedaan, dari bangsa, daerah dan agama tentunya untuk saling mengenal dan menghargai satu sama lain.
Bahkan tidak jarang Benny juga mendiskusikan tentang agama kepada teman-temannya yang beragama lain. Di bangku kuliah, jiwa aktivis Benny muncul. Ia bergabung dalam organisasi kemahasiswaan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), bahkan ia pernah menjadi pengurusnya.
Tidak hanya aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, Benny mulai menulis artikel tentang hukum dan politik, baik di media internal kampus maupun media massa nasional.
Dari hasil menulis itu, ia kumpulkan pundi-pundi rupiah yang digunakan sebagai tambahan uang saku di perantauan. Bahkan di tahun ketiga perkuliahannya, Benny mendapat beasiswa supersemar dari pemerintah.
Di sisi lain, berbagai kegiatan itu semakin membuka peluang bagi dirinya untuk berkenalan dan dekat dengan banyak tokoh nasional. Hal itu semakin memantapkan langkahnya untuk membela hak-hak kaum yang termarjinalkan.
Tahun 1987 gelar sarjana hukum berhasil diraih Benny. Sebuah prestasi yang cukup membanggakan. Di tengah segala aktivitasnya, baik di internal kampus maupun di luar kampus, Benny berhasil menyelesaikan kuliahnya dalam waktu empat setengah tahun. Pasca lulus kuliah, ia hijrah ke ibukota (Jakarta), ia tinggalkan kota yang telah memberi banyak pelajaran hidup bagi dirinya.
Di ibukota, Benny mendapat kesempatan untuk bergabung di Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (LBHI). Di lembaga itu namanya mulai dikenal banyak orang lewat tulisan-tulisannya yang sarat akan kritik sosial.
Bahkan dari sana ia pun mendapat tawaran untuk berkarir di Media Indonesia, sebuah harian bertaraf nasional menjadi reporter di bidang hukum, politik dan sosial. Tawaran menjadi pembicara di pelbagai seminar tentang HAM (Hak Asasi Manusia) mulai menghampirinya.
Hal itu semakin memacunya untuk lebih mempersenjatai diri dengan ilmu akademis yang lebih mumpuni lagi. Dari sana ia memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke jenjang pasca sarjana di Universitas Indonesia.
"Saat itu lewat bang Surya (Surya Paloh, Red), saya diberikan beasiswa dari tempat saya bekerja, Media Indonesia. Sampai saat ini saya tidak pernah melupakan hal itu," tutur Benny.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/bkh-bersama-umat-lintas-agama_20170906_125553.jpg)