Selasa, 28 April 2026

Mestinya April 2017, Pencairan Dana Desa di Kabupaten Lembata Molor, Inilah Dampak Lanjutannya

Hal itu diungkapkan Penjabat Kepala Desa Beutaran, Kecamatan Ile Ape, Marsel Pepaken, ketika ditemui di Kantor Camat Ile Ape, Rabu (30/8/2017).

Penulis: Frans Krowin | Editor: Agustinus Sape
POS KUPANG/FRANS KROWIN
Kepala Desa Kolipadan, Sumarmo Boli (kiri) dan Penjabat Kepala Desa Beutaran, Marsel Pepaken, saat berada di Kantor Camat Ile Ape, Kabupaten Lembata, Rabu (30/8/2017). 

 Laporan Wartawan Pos-Kupang.com, Frans Krowin

POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA – Pencairan dana desa di Kabupaten Lembata umumnya terlambat. Dana itu mestinya cair bulan April tahun berjalan, tapi molor hingga Juni 2017. Alhasil pengerjaan fasilitas umum di desa-desa, termasuk Beutaran, terlambat.

Hal itu diungkapkan Penjabat Kepala Desa Beutaran, Kecamatan Ile Ape, Marsel Pepaken, ketika ditemui di Kantor Camat Ile Ape, Rabu (30/8/2017).

Ia dihubungi terkait pemanfaatan dana bantuan pemerintah pusat untuk pembangunan di desa tersebut.

“Untuk Desa Butaran, dana desa itu baru direalisasikan sekitar pertengahan Juni 2017. Makanya kami baru mengerjakan fasilitas umum di desa itu pada awal Juli, setelah dana itu direalisasikan Juni 2017,” ujar Marsel.

Terlambatnya pencairan dana tersebut, lanjut dia, berpengaruh langsung terhadap pelaksanaan pembangunan sejumlah item yang sudah direncanakan.

Idealnya fasilitas itu dibangun pada April tapi molor hingga Juli tahun berjalan.

Marsel mengungkapkan, dalam tahun 2017, Beutaran mendapatkan kucuran dana desa senilai Rp 700-an juta.

Sementara anggaran yang bersumber dari alokasi dana desa (ADD) Rp 300 juta lebih. Dengan demikian total dana desa dan ADD untuk desa itu sebesar Rp 1 miliar lebih.

Dari total dana desa yang diterima, kata Marsel, yang sudah dipergunakan Rp 400 juta lebih.

Dana tersebut dimanfaatkan untuk membangun jalan rabat kurang lebih Rp 600 meter, drainase dalam desa dan drainase antardesa Beutaran dan Tagawiti.

Desa Beutaran dan Tagawiti, lanjut Marsel, adalah desa tetangga. Dan item yang dibangun itu, adalah drainase antara dua desa tersebut.

Drainase itu dibangun bersama-sama, lantaran lokasi yang didrainasekan bermuara ke satu titik.

Marsel tak tahu pasti dana yang dikucurkan untuk item pembuatan drainase tersebut. Namun dia menyebutkan, pengerjaan drainase itu dilakukan bersama-sama antarwarga kedua desa.

Ia mengatakan, pengerjaan fasilitas umum di desa itu dilakukan dengan pola pemberdayaan.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved