Kwadran Bele sebagai Alat Ukur Pilkada, Inilah Penjelasannya
Kwadran Bele itu alat ukur perilaku manusia. Sangat sederhana. Dirumuskan penulis tahun 2011 di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.
Oleh: Anton Bele
Anggota DPRD NTT
POS KUPANG.COM - Kwadran Bele itu alat ukur perilaku manusia. Sangat sederhana. Dirumuskan penulis tahun 2011 di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Satu bidang bujur sangkar dibagi empat bidang dan bidang-bidang itu berisi empat N: Nafsu, Nalar, Naluri, Nurani. Setiap perilaku manusia itu penampilan empat N ini.
Dalam diagram mudah dilihat, kalau empat N ini seimbang, maka empat bidang itu besar dan luasnya seimbang. Kalau salah satu N terlalu besar, maka dengan sendirinya tiga bidang yang lain dipersempit. Tidak seimbang lagi.
Sebagai misal, bidang Nafsu terlalu besar, maka bidang Nalar, Naluri dan Nurani akan diperkecil. Tidak seimbang. Seterusnya, kalau bidang Nalar terlalu besar memperkecil bidang Nafsu, Naluri dan Nurani. Bidang Naluri terlalu besar akan
mengurangi luas bidang Nafsu, Nalar dan Nurani. Bidang Nurani terlalu besar, dengan sendirinya bidang Nafsu, Nalar dan Naluri dipersempit. Tidak seimbang.
Uraian tentang empat N ini sederhana. Pertama: Nafsu. Nafsu itu dorongan yang netral dalam diri manusia. Nafsu makan, mendorong manusia merasa lapar dan cari makanan. Nafsu seks mendorong manusia mulai usia puber mencari lawan jenis untuk kawin dan berketurunan. Nafsu itu diartikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBI): keinginan (kecenderungan, dorongan) hati yang kuat. Memang ada arti lain dari nafsu dalam arti yang negatif, misalnya hawa nafsu. Nafsu dalam Kwadran Bele ini diartikan secara positif, keinginan, kecenderungan dan dorongan dalam diri manusia untuk berbuat baik.
Langsung diterapkan dalam Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah), kalau sang Calon mempunyai Nafsu menjadi Kepala Daerah karena ingin, cenderung dan terdorong mendapat kuasa dan menyejahterahkan masyarakat, maka bidang N (Nafsu) dalam diri sang Calon itu normal ukurannya dan tidak menggeser bidang Nalar, Naluri dan Nurani. Kalau Nafsu mendapat kuasa demi kehormatan, rezeki dan berbagai fasilitas, maka bidang N (Nafsu) ini kurang diterima oleh Nalar, Naluri dan Nurani. Ini yang digambarkan sebagai bidang Nafsu menggeser ruang tiga bidang yang lain sampai tujuan sang Calon itu cacat, kurang murni.
Nalar itu akal budi dalam diri setiap manusia yang diperoleh dari Pencipta. Nafsu pun berasal dari Pencipta, demikian pula Naluri dan Nurani. Nalar itu diartikan sebagai pertimbangan tentang baik buruk dsb, akal budi (KBI). Dalam setiap perilaku, manusia dituntut memakai Nalar. Kaitannya dengan Nafsu, manusia yang mempunyai Nafsu makan, harus dipertimbangkan oleh Nalar, makanan mana yang tidak beracun, makanan mana yang bergizi. Ini karya Nalar. Kalau seseorang makan nasi yang sudah basi dan berlumut, dan akibatnya perut sakit, maka orang ini makan tidak memakai Nalar.
Dalam Pilkada, kalau seorang Calon berusaha menjadi Kepala Daerah tetapi kurang memenuhi syarat dan memaksakan diri, maka sang Calon kurang memakai Nalar. Dapat terjadi, bidang Nalar dalam segi empat itu, terlalu kecil atau terlalu besar. Bila si-Calon merasa sangat mampu atas pertimbangan yang tidak matang, maka bidang Nalar itu terlalu besar sehingga dirinya penuh angan-angan yang tidak mungkin tercapai biarpun kemudian dirinya terpilih menjadi Kepala Daerah. Nalar bisa dalam posisi kurang dipakai atau terlalu dipakai. Nalar kurang dipakai dikategorikan sebagai orang dungu. Nalar dipakai terlalu berlebihan masuk kategori angkuh, culas, Cerdik Untuk Libas Apa Saja dan siapa saja.
Naluri itu dorongan hati atau nafsu yang dibawa sejak lahir (KBI). Naluri juga diartikan sebagai perbuatan atau reaksi yang sangat majemuk dan tidak dipelajari yang dipakai untuk mempertahankan hidup, terdapat pada semua jenis makhluk hidup (KBI). Dalam Kwadran Bele Naluri diartikan sebagai dorongan untuk hidup bersama antara sesama makhluk hidup, dalam hal ini manusia, yang dari kodratnya terdorong untuk hidup bersama dengan sesama manusia.
Sosial. Naluri kalau disalurkan dengan baik dan benar, maka manusia-manusia yang hidup bersama ini akan bekerja bersama-sama, hidup tenang, aman dan damai. Naluri selalu terarah kepada hal yang baik. Ini yang dikehendaki oleh Pencipta. Tetapi Naluri bisa saja disalahgunakan, membenci, menyingkirkan malah sampai kepada membunuh sesama. Naluri yang dibengkokkan dapat mengarah kepada sukuisme dan rasis, mempertahankan kelompok sendiri sambil berusaha untuk membasmih kelompok yang lain. Naluri yang keliru mendorong manusia untuk siap berperang.
Naluri sebagai salah satu segi dalam ukuran untuk perilaku manusia harus dipakai secara berimbang dalam berhadapan dengan Nafsu, Nalar dan Nurani. Proses Pilkada tidak terlepas dari peran Naluri. Seorang Calon mempunyai Naluri untuk menjadi Kepala Daerah. Dia dikitari begitu banyak manusia, keluarga dan tim sukses.
Demi mencapai tujuan Naluri dari sang Calon bekerja keras. Ada Naluri berkuasa. Ada Naluri untuk mempengaruhi sesama jadi kawan dan mengobrak-abrik kubu pertahanan lawan. Naluri yang netral, merangkul semua pihak. Naluri yang curang, merangkul kawan merangsek lawan. Proses pemilihan menjadi pertandingan.
Pemilihan menuju garis finis, terpilih dan tidak terpilih. Pertandingan akan berakhir dengan kalah atau menang. Sering terjadi Pilkada berubah menjadi Perkada, Pertandingan menjadi Kepala Daerah. Perkara timbul karena Pilkada menjadi Perkada. Perkada dan Perkara itu bertetangga. Pilkada menjadi Perkada dan Perkada menjadi Perkara. Ini akibat Naluri berjuang yang tidak terkontrol sehingga dari berjuang menjadi berperang, perang urat syaraf.
Nurani sangat berperan dalam diri manusia ibarat tenaga yang menggerakkan satu mesin. Nurani adalah persasaan hati yang murni yang sedalam-dalamnya (KBI). Ini bidang keempat dalam diri manusia. Kalu Nafsu, Nalar dan Nurani dipakai secara seimbang, Nurani akan tenang, tidak gelisah. Kalau salah satu dari tiga N itu, Nafsu, Nalar, Naluri dipakai secara tidak wajar, maka Nurani akan terguncang, membuat diri manusia seolah-olah dikejar oleh satu suara atau bisikan yang selalu mempersalahkan diri pribadi kita. Inilah yang disebut suara hati.
Dalam Pilkada, seorang Calon akan terus didorong oleh Nurani untuk memakai Nafsu, Nalar dan Nurani secara baik, benar dan bagus. Nurani menjadi wasit dalam diri sang Calon. Nafsu untuk berkuasa dipakai secara berlebihan sampai menjadi serakah, Nalar dipakai lewat batas sampai menjadi pecundang, Naluri diarahkan untuk memperalat sesama, maka Nurani akan menuding diri manusia dari dalam sebagai manusia yang egois (Nafsu berlebihan), ambisius (Nalar tanpa dasar), sukuis (Naluri mementingkan kelompok sendiri).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/coblos_20150721_164646.jpg)