Ini Kisah Mistis Pendaki di Gunung Klabat, Sosok Kakek Bermuka Datar Hingga Pendaki Hilang
Oh ternyata tempat yang selama ini jadi buah bibir itu adalah sebuah batu dengan ukuran besar, dengan bagian atas agak datar.
Kaget, dalam hati ku bertanya berdoa untuk siapa di tempat sesunyi ini? "Ini kan jauh, kok bisa orang mau mendaki sampai ke sini hanya untuk berdoa?" tanyaku penasaran.
Kata temanku aktivitas 'mistis' seperti ini sudah biasa dan sudah bertahun-tahun dilakoni banyak orang di tempat ini.
"Biasanya mereka bawa rokok, makanan. Kalau pas mendaki dan kami temukan, kami ambil, bodo amat. Mumpung tambah bekal untuk pendakian hahaha," ujar temanku.
Kami pun melanjutkan perjalanan, tapi hatiku masih penuh dengan tanda tanya. "Jadi ini semacam tempat penyembahan berhala begitu?" dalam hati berdiskusi dengan diri sendiri.
Gara-gara menemukan tempat ini, saya jadi teringat sejumlah cerita mistis yang pernah diungkapkan beberapa teman tentang angkernya pos dua Gunung Klabat.
Sebagai orang yang tak peduli dengan hal-hal mistis seperti ini, saya harus mencoba untuk tidak menghiraukan.
Namun cerita-cerita itu terus berputar dalam otak selagi kaki terus melangkah menjajal trek pendakian menuju empat pos terakhir sebelum tiba di puncak Gunung Klabat.
Sebelum pendakian pertamaku Maret 2016 silam, seorang teman sempat bercerita tentang pengalamannya terpaksa mendaki sendirian saat malam hari.
Saya sempat jengkel karena itu pengalaman pertamaku mendaki dan sudah dicekoki cerita yang tak mengenakan.
Waktu itu ada kegiatan bersama Mapala di puncak Klabat. Ia pun harus mendaki sendirian karena teman-temannya sudah tiba duluan.
Saat beristirahat di pos dua lah ia mengalami apa yang sulit dimengerti logika. Duduk sambil makan ia lakukan tepat di dekat batu besar tersebut.
"Headlamp mendadak mati. Saya coba menyalakan obor minyak cadangan yang kubawa, beberapa detik dinyalakan apinya mendadak mati seperti terhisap. Kucoba ambil lilin, nyalakan pemantik api pun sama, hanya beberapa detik dan mendadak mati," ungkapnya.
Dalam kondisi gelap gulita dan kabut yang mulai turun, sang teman yang terbilang pemberani itu bangkit, meraba-raba tas, mengemas sisa makanan dan melanjutkan perjalanan berbekal intuisi.
Bersyukur ini bukan kali pertama ia mendaki. Sebagai seorang tur guide, ia sudah hafal jalur pendakian di pos ini.
Alhasil, sambil setengah meraba-raba dalam kegelapan, ia melanjutkan pendakian. "Percaya atau tidak, saat nyampe di pos tiga baru headlampdan obor bisa menyala, saya tertawa sekeras-kerasnya," ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pos-pemberhentian-kedua-di-gunung-klabat-sulut_20170606_140442.jpg)