Modernisasi Bahasa Indonesia
Bahasa merupakan media terpenting dalam mengespresikan pikiran dan kehendak yang akan terbaca dalam perasaan, sikap dan
Oleh: Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Alumnus Universitas Flores
POS KUPANG.COM -- Bahasa sesungguhnya lahir dari "teori pikiran". Teori pikiran adalah kemampuan menghubungkan keadaan mental, kepercayaan, dan pengetahuan kepada diri sendiri dan orang lain dan untuk memahami bahwa orang lain memiliki kepercayaan, keinginan dan intensi yang berbeda antara satu dengan yang lain.
Setiap orang hanya dapat mengintuisi keberadaan dari pikirannya sendiri lewat introspeksi, dan tidak ada orang lain yang memiliki akses langsung terhadap pikiran orang lain. Karena pikiran tidak dapat diobservasi maka dibutuhkan media untuk mengungkapkan pikiran sehingga lahirlah bahasa sebagai alat komunikasi.
Bahasa merupakan media terpenting dalam mengespresikan pikiran dan kehendak yang akan terbaca dalam perasaan, sikap dan emosi seorang informan. Bahasa juga instrumen penyampaian informasi antara satu dengan yang lain. Bahasa sebagai sarana untuk mengeskpresikan diri.
Seperti hal bahasa-bahasa di dunia, bahasa Indonesia juga memiliki peran yang sama. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang terus berkembang. Perkembangan bahasa Indonesia dengan hadirnya kosa kata bahasa asing seperti bahasa Inggris yang telah diindonesiakan memperkaya pembendaharaan kosa kata bahasa Indonesia.
Dan, bila kita mencermati lebih mendalam dalam mempelajari bahasa Indonesia, sesungguhnya lebih sulit daripada belajar bahasa asing seperti bahasa Inggris, bahasa Jerman dan bahasa Latin. Bahasa asing seperti bahasa Inggris yang akar bahasanya dari bahasa Latin tentu memiliki aturan-aturan dalam bahasa.
Misalnya bahasa Inggris memiliki grammer dan tenses, sedangkan bahasa Indonesia memiliki struktur kalimat Subjek-Predikat-Objek-Keterangan (S-P-O-K). Namun, sebuah kalimat bahasa Indonesia tidak memiliki waktu atau (tenses) sehingga dapat menimbulkan ambiguitas dalam memahami sebuah kalimat bahasa Indonesia.
Untuk itulah hadirnya semantik sebagai suatu cabang ilmu dari ilmu linguistik memberikan defenisi dan pemahaman atau pemaknaan dari struktur kalimat bahasa Indonesia, sehingga tidak menghadirkan kesalahan persepsi atau bedah pendapat dalam menafsirkan suatu kalimat bahasa Indonesia.
Zaman berubah seiring dengan perkembangan globaliasi. Mungkin hal itu juga yang memacu perubahan-perubahan yang cukup signifikan terhadap bahasa Indonesia. Perubahan-perubahan itu sendiri dapat kita lihat dari penggunaan bahasa sehari-hari, baik dengan media maupun tidak. Dua kalimat sebagai contoh untuk mewakili beragam perubahan bahasa Indonesia. Misalnya, "Chor3 ghi aph4 n1h? Atau "Ciyus, t4 qt ber267x". Kosa kata dalam bahasa Indonesia seperti alay dan lebay.
Dua kosa kata yang tiba-tiba mengindonesiakan diri dan menjadi bahasa sehari-hari yang sampai saat ini berlum tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbaru. Penulisan seperti itu paling sering dijumpai di jejaring sosial. Mirisnya penulisan seperti itu tiba-tiba berkembang pesat. Penggabugan huruf, angka dan simbol dalam kalimat bahasa Indonesia memungkinkan terjadinya kesalahan menginterpretasikan maksud seseorang. Dan, di sini letak bahasa sebagai media komunikasi sungguh tidak berfungsi.
Hal tersebut merupakan wujud nyata pemodifikasian bahasa yang sedang terjadi dewasa ini. Penggunaan bahasa yang tidak lazim mulai merambah dan menjamur seperti cendawan di musim hujan. Hal tersebut dianggap memenuhi kriteria kondisi gaul remaja zaman sekarang.
Jika kita amati dari kasus ini, ternyata orang Indonesia sangat kreatif memodifikasi segala sesuatu. Bahasa Indonesia yang tertata apik dan sistematis mulai dimodifikasi sedemikian rupa. Modifikasi yang entah hanya sebagai bahan guyonan atau untuk tujuan lainnya. Penggunaan bahasa yang dilebih-lebihkan baru terjadi di era ini, era reformasi. Di erah reformasi telah lahir dan begitu banyak cendikiawan yang cerdas, maka seharusnya mereka (cendikiawan) lebih cerdas dalam mengolah bahasa, baik secara kuantitas maupun kualitas.
Penyebaran fenomena penulisan dan penambahan bahasa ini bukan hanya tersebarkan oleh media-media sosial di dunia maya. Bahkan sangat melekat pelafalannya masyarakat sehari-hari. Facebook dan twitter berperan penting dalam penyebaran penulisan dan penambahan kosa kata ini. Penulisan kalimat yang campur aduk dan menyatukan antara huruf, simbol dan angka mungkin hanya terjadi di Indonesia. Penulisan kalimat dalam bahasa Indonesia yang campur-baur antara huruf, simbol dan angka telah ada sejak sistem telekomunikasi merambah di Indonesia.
Melalui pesan singkat (SMS) terjadi pencampuran huruf, angka dan simbol dalam kalimat bahasa Indonesia. Lalu apa tanggapan masyarakat? Ada masyarakat yang cuek. Pemerhati bahasa terus beropini tentang modernisasi bahasa Indonesia. Namun, semuanya belum menemukan solusi yang tepat.
Sebenarnya bukan masalah dan bukan pula sebuah larangan signifikan untuk penulisan dan penambahan kosa kata yang ada. Akan tetapi sebagai masyarakat yang menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari, seharusnya tetap menjaga dan melestarikan bahasa yang telah mendarah daging. Modernisasi bahasa yang dilakukan untuk bahasa Indonesia harusnya modernisasi positif. Modernisasi positif itu dapat terjadi apabila bahasa Indonesia akan menunjukkan kepada dunia tentang dirinya yang terus hidup sebagai bahasa modern. Modernisasi yang memajukan bangsa dan bahasa Indonesi sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/bahasa-indonesia_20170221_103737.jpg)