Breaking News

Mari Membangun NTT

Sebut saja kemiskinan, korupsi, birokrasi yang abal-abal dan pelbagai litani negativitas lainnya.

Editor: Dion DB Putra
ilustrasi

Oleh: Doni Koli
Mahasiswa STFK Ledalero, tinggal di Ritapiret

POS KUPANG.COM - Lebih dari setengah abad provinsi NTT telah berkiprah. Ada beragam rupa pembangunan yang telah dikembangkan di NTT. Akan tetapi tanpa menafikan sama sekali, pembangunan di daerah inibelum optimal dengan ditandai beragam pelik masalah.

Sebut saja kemiskinan, korupsi, birokrasi yang abal-abal dan pelbagai litani negativitas lainnya. Stagnansi pembangunan di NTT dapat dirujuk pada beberapa akar masalahklasik seperti rendahnya kualitas SDM, aparatus birokrasi yang tidak cakap, tendensi primordialisme yang kuat dalam akrobatik politik prosedural serta minusnya aktifisme masyarakat dalam membangun.

Baru-baru ini, penulis mengikuti sebuah sesi dialog atau lebih tepatnya diskusi di bawah tema `ayo bangun NTT' di Maumere. Diskusi yang melibatkan beberapa komponen masyarakat kabupaten Sikka ini diselenggarakan Yayasan Tunas Muda Indonesia.

Pembicara sekaligus pemimpin yayasan Tunas Muda NTT yang juga politisi partai Golkar, Emanuel Melki Lakalena dalam dialog tersebut menyebut bahwa diskusi bertajuk ayo bangun NTT bertujuan memantik dan menjahit gagasan cemerlang dari setiap komponen masyarakat dalam mengembangkan pembangunan.

Gagasan ayo bangun NTT menjadi semacam pemantik api kesadaran kita bahwa NTT masih terpuruk dalam banyak dimensi kehidupan.Ia menjadi gebrakan persuasif-resoutif bagi seluruh komponen masyarakat NTT untuk bangkit bersama membangun NTT dan meretas stigma-stigma negatif atas daerah ini. Akan tetapi, hemat saya ada sebuah soal dan pergulatan yang lebih penting dan epistemis di balik gagasan ayo bangun NTT.

Apakah masyarakat NTT punya common ground atau pijakan bersama untuk membangun NTT dengan pelbagai jargonnya; unggul, adil, sejahtera, makmur dan bermartabat. Atau, masyarakat NTT sebenarnya tidak punya dasar atau cita-cita bersama yang dapat dijadikan arah dalam mewujudkan pembangunan?

Pertanyaan lain yang juga penting adalah seperti apakah konteks konkrit pembangunan di NTT yang mau diusahakan bersama? Bagaimana model pembangunan yang dapat kita imajinasikan?

Kemungkinan Common Ground
Setiap matra pembangunan bersama pada tataran epistemis niscaya membutuhkan common ground atau pijakan bersama yang menjadi arah sekaligus matra perekat yang menyatukan segenap komponenterlibat pembangunan.Common ground adalah material rasional yang tertanam dalam nalar publik, dapat diakses dan diperjuangkan oleh setiap subjek pembangunan. Ia berada dalam taraf yang sederhana dan lebih epistemis.

Common ground menjadi modul spirit bagi cita-cita dan mukadimah pembangunan yang melampaui aneka kepentingan parsial kelompok masyarakat.

Sebagai material yang hidup dalam nalar publik, common ground tak dapat dirumuskan secara eksplisit, formal dan tekstual karena menyangkut pola pikir, sudut pandang dan faktum pluralitas dalam masyarakat. Sehingga, mengimpikan sebuah common ground masif dalam konteks masyarakat NTT yang tersebar dalam wilayah dengan diktum kultural, potensi dan seringkali memiliki kepentingan yang berbeda-beda bukanlah perkara mudah.

Logika demikian dapat membuat kita terjebak kekacauan paradigma yang ilusif. Akan tetapi kemungkinan common ground sebenarnya dapat dirujuk dalam cara-cara aparatus pemerintah dan masyarakat yang proaktif, partisipatif dan punya spirit bahu-membahu membangun kehidupan bersama.

Gerakan membangun NTT secara masif tak dapat diimajinasikan seadanya dan bebas dari konteks konkrit kehidupan masyarakat yang tersebar dalam pelbagai unit kehidupan sosial dan politis.Kemungkinan common ground yang niscaya dan riil hanya dapat dirujuk dalam skala sosial-politis konkrit dan terkecil tempat setiap orang NTT hidup yang dalam hal ini adalah desa atau kelurahan.Membangun NTT secara bersama agar tidak menjadi paradigma yang ilusif perlu berskala desa, berskala kelurahan.

Belajar dari Desa Nita
Pada tahun 2016, Desa Nita, Maumere berhasil mengukir prestasi membanggakan dengan meraih juara satu kategori desa berprestasi. Pengalaman desa Nita boleh kita sebut sebagai blessing in disguise. Berkah dalam kekacauan. Di tengah peliknya soal kemiskinan, juga korupsi di NNTT, Desa Nita hadir sebagai sebuah miniatur pencerah.

Setelah ditelusuri prestasi Desa Nita ternyata lahir oleh kerja sama kekuatan setiap subjek pembangunan melalui tiga pilar utama yakni akuntabilitas, partisipasi dan transparansi. Ia merupakan hasil kerja sama pemimpin dan aparatus desa yang qualified dan berbudi luhur serta aktifisme masyarakat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved