Ini Penjelasan Soal Silentium Magnum di Lingkungan Sukabiren Atambua Dan Aksi Tutup Akses Jalan
Ketua Lingkungan St. Ignasius Loyola Sukabiren, Paroki Katedral Atambua, Johanis Bria mengatakan, memperingati kisah sengsara Yesus Kristus, umat ling
Laporan Wartawan Pos Kupang, Edy Bau
POS KUPANG.COM, ATAMBUA -- Ketua Lingkungan St. Ignasius Loyola Sukabiren, Paroki Katedral Atambua, Johanis Bria mengatakan, memperingati kisah sengsara Yesus Kristus, umat lingkungan ini membuat gerakan silentium magnum (hening agung).
Dijelaskannya, Silentium Magnum atau hening agung di lingkungan Sukabiren baru kali tahun ini dilakukan.
Ini dilakukan untuk menghidupkan kembali tradisi sebelumnya sebagai bentuk pembinaan secara tidak langsung kepada generasi muda saat ini agar tidak melihat ritual keagamaan hanya sebuah formalitas tetapi memaknainya sebagai sebuah aktifitas pengalaman dan pendalaman iman.
"Silentium magnum ini memang baru kita adakan di paroki ini. Akan tetapi, pada jaman dahulu, hal ini sudah dilakukan oleh orang tua kita secara turun-temurun. Mereka bahkan tidak melakukan aktivitas apapun pada Jumat Agung," ungkapnya kepada Pos Kupang, Jumat (14/4/2017).
Dijelaskannya, untuk kelancaran kegiatan ini, pengurus lingkungan telah bekerja sama dengan Dinas Perhubungan dan pihak kepolisian serta TNI untuk menutup semua akses jalan masuk ke lingkungan ini.
Beberapa pemuda juga akan ditugaskan untuk berjaga di semua titik akses jalan masuk.
"Kita menghimbau kepada umat di lingkungan Sukabiren untuk menjaga ketenangan. Tidak ada bunyi-bunyian, tidak ada teriakan. Bagi yang berkendaraan bermotor, disarankan untuk mendorong kendaraannya sampai di luar lingkungan ini. Televisi juga tidak dinyalakan, apalagi aktivitas judi dan miras. Intinya kita mengurangi atau bahkan tidak melakukan aktivitas yang paling tidak bisa kita tinggalkan. Dengan begitu, kita betul-betul hening untuk merefleksikan atau melihat diri kita seperti apa. Selama ini kita hiruk-pikuk seolah iman kita sangat gersang. Jadi inilah saat yang tepat untuk kita merenung sejauh mana besarnya iman kita, terutama dalam menghayati kisah sengsara dan wafat-Nya Yesus Kristus," ujarnya.*