Dr. Ing Ignatius Iryanto Siap Berkontribusi Membangun Nusa Tenggara Timur, Inilah Rekam Jejaknya
Latar belakang pendidikan yang berkualitas dan rangkaian pengalaman panjang yang variatif, merupakan modal penting Ignatius Iryanto Djou
Yanto harus ke Jakarta untuk memberi kesaksian di Mabes Polri dan Pengadilan atas kasus tersebut dengan perlindungan ketat aktivis Pro Reformasi.
Pasca Reformasi, bersama beberapa tokoh lintas daerah dan agama, Iryanto dua kali mengambil bagian dalam pembentukan dan kepengurusan partai politik baru, namun tidak berlanjut, karena tidak puas terhadap kinerja partai yang ada.
Pada waktu itu, agak sulit memang, menjalankan politik dengan tetap berpegang teguh pada prinsip etik dan moral politik yang benar dan konsisten pada pertimbangan rasional semata.
Yanto lalu beralih ke dunia NGO karena yakin ada elemen pengabdian yang lebih konkrit bagi masyarakat. Bersama sosiolog terkemuka asal NTT Dr. Ignas Kleden dan beberapa tokoh lainnya, mereka mendirikan The Go East Institute yang kemudian berubah menjadi Center For East Indonesian Affairs.
Beberapa aktivitas di Indonesia Timur, antara lain melakukan misi rekonsiliasi konflik Maluku bekerja sama dengan USAID, pendidikan politik pasca reformasi dalam menyongsong Pemilu Demokratis pertama di tahun 2004 bekerja sama dengan KPU dan Pemerintah dengan dana dari Uni Eropa (scope kegiatan meliputi seluruh wilayah Indonesia), serta memberikan pelatihan peneliti Sosial di NTT dengan dana dari Toyota Foundation.
Tujuan diadakan pelatihan tersebut, yakni mendorong perumusan kebijakan publik di NTT berbasis riset dengan dasar data serta analisis yang valid, tidak berdasarkan selera pemimpin daerah semata. Sayang langkah pembentukan kelompok peneliti sosial ini tidak diteruskan dengan usaha usaha implementasi konkrit karena masalah dana.

Salah satu aktivitas sosial yang bersifat voluntary, namun mengandung risiko adalah sebagai ketua tim Paralegal PADMA pimpinan almarhum Pater Dr. Norbert Betan, yang saat itu berusaha menyelamatkan tiga orang terpidana mati di Poso, yaitu Marinus Riwu, Domi Da Silva, dan Fabianus Tibo. Yanto bersama Pater Norbert dan Ketua tim Legal, Roy Rening serta Maximilianus (Mili) berada di Palu ketika akhirnya ketiga putra NTT itu dieksekusi mati. Mereka berempat yang memulangkan jenazah Domi Da Silva ke Maumere, sementara jenazah Fabianus Tibo dan Marinus Riwu telah dibawa ke Desa Jamurjaya, Poso.
Pada tahun 2009, Ignas mengawali profesi sebagai konsultan dalam program IMIDAP (integrated micro hydro development program), kerja sama antara ESDM dan UNDP dengan dana dari GEF (global environment facility), berjuang di bawah Direktorat Energi baru dan terbarukan (kini menjadi dirjen).
Profesi inilah yang mengantarnya langsung bersentuhan dengan pengembangan masyarakat dan berinteraksi dengan lembaga pemerintah dan korporasi. Yanto bertanggung jawab pada rumusan pengembangan kebijakan publik dalam energy baru terbarukan, khususnya energy mikro hidro, penyusunan buku pedoman pengembangan, serta pengembangan usaha produktif di pedesaan dengan memanfaatkan energy listrik dari mikro hidro di siang hari.
Di bawah IMIDAP, Yanto berkeliling Indonesia meninjau proyek mikro hidro di berbagai daerah, memimpin rapat koordinasi dinas dan badan yang terkait dengan pengembangan mikrohidro. Setiap turun ke lapangan bersama tim, Yanto selalu didampingi pakar bidang technology, baik technology mikrohidro maupun teknologi tepat guna bagi pengembangan usaha produktif.
Tidak ketinggalan, pakar bidang koperasi yang bertugas mengembangkan lembaga di pedesaan bagi pengelolaan distribusi energy di pedesaan, serta lembaga yang mengembangkan usaha produktifnya. Pengalaman ini membuka matanya pada masalah yang sering terjadi dalam koordinasi antarlembaga dan dinas/SKPD di daerah, dan yang sangat penting, sulitnya pengembangan kelembagaan produktif di pedesaan, masalah utama yang menyebabkan sulitnya pengembangan desa hingga saat ini.
Iryanto kemudian memasuki dunia korporasi/perusahaan, entitas yang selama aktivitasnya di NGO, dilihat sebagai pusat kapitalisme yang selalu menyengsarakan rakyat demi orientasi profit sebagai tujuan utamanya, hal yang kemudian disadari sebagai sebuah kesimpulan yang terlalu digeneralisasi.
Februari 2010 atas ajakan dan rekomendasi seorang sahabat senior, alumni Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia di Eropa (Jerman), Yanto bergabung dengan sebuah korporasi nasional yang bergerak di sektor energy. Melalui divisi CSR (Corporate Social Responsibility) dan Yayasan korporasi yang dibentuk, Yanto bersama team, bertugas mengembangkan masyarakat di wilayah operasional perusahaan.
Lima pilar pengembangan CSR korporasi sesuai skala prioritas, adalah Pendidikan, Pengembangan Ekonomi Masyarakat, Pengembangan kesehatan publik, Pengembangan sosial budaya, dan Penataan lingkungan yang berkelanjutan, bermuara pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Pilar pilar ini dituangkan dalam program pengembangan yang dilaksanakan secara sistematis dan terencana, sesuai kemampuan yang dimiliki oleh perusahaan. Pimpinan divisi serta staf CSR di sana mengenal Yanto sebagai pimpinan yang bukan saja sangat piawai dalam merumuskan strategi pengembangan masyarakat melalui program, namun pimpinan yang senang turun ke lapangan, ke pelosok pedesaan, dan berinteraksi langsung dengan masyarakat binaan.