Akbar Tewas Ditelan Ular Piton, Tinggalkan Bayinya yang Masih Lucu. Tidak Tega Melihatnya
Inilah fakta-fakta memprihatinkan dari kondisi keluarga Akbar yang jadi korban mangsa ular Piton. Coba lihat bayinya yang masih lucu.
POS KUPANG. COM - Sekilas tidak ada yang berbeda dari sosok Akbar Bin Ramli.
Pria yang akrab dipanggil Akbar ini hanyalah seorang suami dan ayah untuk dua orang anaknya.
Ia hanyalah pria berusia 25 tahun yang di mata orang-orangnya adalah sosok yang sangat polos, penyabar dan pendiam.
Kesehariannya ialah berusaha mencari nafkah dengan memetik buah kelapa sawit dari kebun ayahnya.
Naas, Akbar akhirnya meregang nyawa di mulut seekor ular piton, Minggu (26/3/2017).
Niat yang begitu mulia yakni pulang menemui anak dan istrinya sia-sia.
Baca: TRAGIS! Ibu Muda Tusuk Bayinya yang Berusia 1,5 Bulan Lalu Menusuk Dirinya Sendiri
Ia tewas meninggalkan seorang istri serta dua orang putri yang masih sangat kecil.
Berikut fakta memprihatinkan dari kondisi terkini keluarga Akbar, seperti yang dikutip Grid.ID dari Tribun Timur.
Pertama, Akbar mengumpulkan uang sekaligus untuk rencana menghabiskan masa Ramadan bersama istri dan anak.
Kedua, Akbar meninggalkan anak keduanya di kampung halaman sang istri untuk mengais nafkah di usianya yang baru 10 hari.
Ketiga, jarak antara kampung halaman istri dengan rumah duka berjarak ratusan kilometer sehingga butuh waktu 5 hari untuk istri dan dua anaknya sampai di rumah duka.
Keempat, istri Akbar tidak mengetahui langsung kabar kematian suaminya karena susahnya jaringan telepon di tempatnya tinggal.
Kelima, Sesampainya di rumah duka, Muna tak berhenti menangis.
Keenam, sang bayi yang rencananya akan ditemui Akbar nantinya juga tak henti-hentinya menangis sesampainya di rumah duka.
Piton Lebih Suka Mangsa Babi Hutan

Benarkah ular piton bisa menelan manusia dewasa?
Pakar ular atau herpetologis dari Universitas Brawijaya, Nia Kurniawan mengatakan manusia bukan mangsa utamanya, namun ular sanca memilih mangsa yang sesuai kebutuhan kalorinya.
"Ular piton itu lebih memangsa babi hutan dan anjing hutan, yang lebih mudah ditemui daripada manusia.
Itu kebetulan saja kali ini, antara habitat manusia dan ular sanca itu tumpang tindih, yang memungkinkan manusia dimakan oleh piton," kata Nia Kurniawan.
Baca: Firasat Keluarga Sebelum Akbar Ditelan Piton, Tak Bawa Hp dan Motor, Mondar-mandir Tak Bicara
Perilaku ular sanca atau piton dalam memangsa manusia, katanya, bukan karena dia terancam, tapi karena memang lapar dan harus makan.
"Hewan karnivora, baik itu buaya, singa, harimau, ular, itu kan mengukur ukuran kalori.
Jadi kalau dia ularnya besar, dia pengen makan, dia menghitung massa tubuh mangsanya.
Kalau ular ukuran empat meter itu, ada tikus lewat, tidak akan dimakan sama dia.
Tapi kalau yang lebih besar minimal seukuran babi hutan, baru dia mau mengejar.
Karena dia menghitung energi, energi untuk memangsa itu kan cukup besar.
Jadi piton itu menjatuhkan diri, membelit.
Baca: VIDEO: Warga Salubiro Mamuju Sempat Dengar Teriakan Akbar sebelum Ditelan Ular Piton
Dia akan menunggu sampai tidak ada detak jantung, baru dia akan melonggarkan, terus memakan," paparnya pula.
Maka jika piton yang dilaporkan mencapai tujuh meter, mereka akan mendapat kalori yang dibutuhkan dari korban seukuran manusia.
"Kalau kita dililit piton, jangan kita terlalu berontak-berontak.
Pertama, energi kita habis, kedua, nggak bisa lepas dari piton.
Kalau kita pura-pura lemas, bisa seketika itu ada kemungkinan lolos," kata Nia.
Piton biasanya akan menjatuhkan diri dari pohon-pohon yang tinggi, sehingga Nia memperkirakan bahwa daerah perkebunan kelapa sawit dulunya adalah kawasan hutan yang merupakan tempat mereka mencari makan dan bertahan hidup.
Ukuran piton yang besar membuatnya tidak bisa mengejar mangsa, seperti halnya kobra yang menyukai kebun kelapa sawit di Riau karena teduh.
Baca: Diukur Ulang, Ular Piton Pemangsa Petani Mamuju Ternyata Capai 7 Meter
Namun baik kobra maupun piton kemungkinan melihat kebun kelapa sawit sebagai lokasi mendapatkan sumber makanan.
Bagi ular sanca, kebun kelapa sawit menguntungkan karena kawasan itu menarik perhatian babi hutan, monyet, anjing hutan atau manusia -semuanya berpotensi menjadi mangsa yang bisa memberikan kalori cukup bagi mereka. (Ria Theresia/Grid.id/Tribun-Timur) (tribunstyle.com/Grid.id/Ria Theresia)