Berikan Tiga Pengetahuan Ini pada Anak Kita. Apa Saja?

Orang tua kemudian bisa bersifat sangat royalis dalam hal pemenuhan semua keinginan yang bersifat materi pada diri

Editor: Dion DB Putra
zoom-inlihat foto Berikan Tiga Pengetahuan Ini pada Anak Kita. Apa Saja?
Pinterest
Ilustrasi

Oleh: MKP Abdi Keraf, M.Si., M.Psi, Psikolog
Dosen Psikologi FKM Undana Kupang

POS KUPANG.COM - Setiap orang tua yang menginginkan agar anaknya bahagia, cenderung memiliki cara mewujudkan itu. Tapi sayangnya, tidak semua orang tua tahu persis apa yang paling membuat anak mereka bahagia. Banyak orang tua karena alasan kesibukan, tolak ukur kebahagiaan anak adalah keterwakilan materi, harta, atau terpenuhinya simpul-simpul untuk membuat anak bahagia dalam cara orang tua.

Orang tua kemudian bisa bersifat sangat royalis dalam hal pemenuhan semua keinginan yang bersifat materi pada diri anak-anak mereka. Banyak keinginan anak segera dipenuhi orang tua. Dan, akhirnya orang tua seperti ini lalai dan mengabaikan bahwa sebenarnya anak lebih butuh kata-kata atau pengakuan bahwa mereka (anak) lebih penting di hadapan orang tua ketimbang harta yang dikumpulkan orang tua.

Anak lebih membutuhkan pengakuan yang bisa diwakilkan dengan kalimat, "Kau anakku, aku menyayangimu lebih dari harta apapun yang aku miliki", dan bukannya kalimat, "Kau anakku, semua harta yang aku miliki adalah kepunyaanmu dan untuk masa depanmu." Anak bukanlah harta yang tak memiliki kehendak, tak berpikir, tak punya rasa, dan tak bisa berbuat sesuatu untuk hidupnya. Anak, dalam keadaan tertentu, bisa saja terjajah secara fisik maupun psikis, dikekang, penuh pengawasan dan kontrol yang tinggi, tapi sebagai orang tua, kita harus Ingat bahwa mereka bisa merdeka berbuat apapun tanpa sepengetahuan orang tua termasuk tindakan paling fatal yang beresiko terhadap diri sendiri dan orang lain.

Menghadapi pertumbuhan dan perkembangan dunia modern yang juga seolah berdampak terhadap perubahan tingkah laku anak dari waktu ke waktu, kebanyakan orang tua kesulitan menghadapi perkembangan perilaku anak yang semakin super cepat itu. Orang tua bisa saja mengikuti irama perkembangan itu, tapi bisa juga ketinggalan jauh. Sebagai orang tua, ada tiga pengetahuan dasar yang harus dibekalkan kepada anak sejak dini agar anak terhindar dari persoalan berat yang berujung pada tindakan merusak diri sendiri dan lingkungan.

Pengetahuan akan Potensi Diri
Pengetahuan ini membuat anak mengenal siapa mereka dan hal-hal positif apa yang ada dalam diri mereka yang bisa diandalkan sebagai modal utama dalam mengembangkan diri dan kreatifitas di kemudian hari. Dengan mengetahui potensi diri, dan melalui bantuan dan dukungan orang tua, potensi itu terus dikembangkan, sehingga anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, bertanggung jawab, mandiri dan penuh vitalitas (semangat hidup).

Dengan mengenalkan sedini mungkin terhadap anak akan potensi diri yang dimilikinya, diharapkan anak percaya mereka bisa berguna bagi diri sendiri, orang tua dan juga lingkungan.

Pengetahuan akan Lingkungan
Terfokus pada kemampuan anak menjalin relasi sosial dan mengembangkan perilaku adaptif dengan lingkungan sekitar. Pengetahuan akan lingkungan lebih berarti anak mengenali orang-orang di sekeliling mereka. Anak menyadari sekaligus menghargai makna akan keberadaan dan kehadiran orang-orang itu dalam hidup mereka.

Dengan mengetahui atau mengenali siapa-siapa yang ada di sekitar mereka, bukan saja menunjukkan anak berhasil mengembangkan pola adaptif dengan lingkungan, atau sekadar anak mampu membina hubungan relasi dan komunikasi yang positif dalam suatu komunitas tapi lebih dari itu anak menyadari keberadaan diri anak begitu penting di mata orang lain, pun sebaliknya, orang lain bisa berbuat sesuatu untuk membantu mereka dalam berbagai hal demi mengembangkan diri anak.

Pada konteks ini, anak tahu secara tepat kepada siapa mereka harus datang dan meminta pertolongan manakala mereka lemah dan tak berdaya. Sebab, sekuat apapun anak, ada saat mereka merasa rapuh, tidak berdaya, dan putus asa oleh berbagai situasi yang mereka hadapi sebagai konsekuensi dari menjalani peran mereka dalam kehidupan nyata. Saat itulah, peran orang tua dan lingkungan begitu berarti tidak saja memberikan jaminan rasa aman, tapi juga memberikan bimbingan dan solusi serta dukungan sosio-psikologis, sehingga anak terhindar dari keputusan yang merusak diri sendiri dan atau membahayakan orang lain.

Pengetahuan akan Tindakan yang harus Dibuat
Lingkungan (orang tua, kerabat, guru, teman, dll), hendaklah menjadi sumber belajar yang paling ampuh dalam membantu pembentukan tingkah laku dan karakter positif. Lingkungan harus menjadi sumber belajar positif, dengan menyediakan, mempertontonkan berbagai perilaku positif sehingga anak mampu mencontoh atau menirukan dalam hidup mereka. Sebab, salah satu prinsip dasar pembentukan perilaku anak adalah meniru, maka selayaknya lingkungan sosial harus selalu sepakat untuk memberikan contoh perilaku yang positif.

Dengan memiliki banyak sumber belajar positif, artinya anak secara tidak langsung telah menanamkan berbagai pengalaman positif baik yang dialami oleh orang lain, maupun oleh dirinya sendiri. Dengan demikian, ketika anak menghadapi suatu masalah yang sangat berat, setidaknya, pengalaman-pengalam dan contoh perilaku positif dari diri sendiri, maupun orang lain, dapat menjadi sumber belajar yang menuntun anak menyelesaikan masalah.Semakin banyak sumber belajar positif yang bisa dipelajari dan ditiru oleh anak, semakin banyak pula pengalaman positif yang tertanam dalam pikiran anak.

Dengan demikian, akan tumbuh konstruksi 'ke-aku-an" yang positif, dalam suatu konsep diri, nilai diri, persepsi diri yang juga positif. Jika hal-hal positif ini telah dimiliki oleh anak, diharapkan ketika anak menghadapi masalah, mereka cenderung memilih langkah-langkah positif yang bermakna dalam hidupnya. Terima kasih. Semoga bermanfaat. *

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved