Kisah korban kawin paksa: Setelah adiknya membakar diri

Jasvinder Sanghera dikunci di kamarnya oleh orangtuanya saat dia berusia 16 tahun karena menolak menikahi pria yang telah dipilihkan oleh orangtuanya.

Editor: Alfred Dama
Jasvinder Sanghera Jasvinder (kanan) usia 15, dengan saudarinya Robina, yang membakar diri. 

POS KUPANG.COM -- Jasvinder Sanghera dikunci di kamarnya oleh orangtuanya saat dia berusia 16 tahun karena menolak menikahi pria yang telah dipilihkan oleh orangtuanya. Kini dia menceritakan bagaimana dia kabur dengan bantuan pacar rahasia - tapi kehilangan kontak dengan keluarganya.

Saat kami tumbuh besar, kami sama sekali tak punya kebebasan. Semuanya diawasi, dimonitor dan dikendalikan di rumah kami di Derby, Inggris. Kami tahu bahwa kami harus hati-hati dalam berperilaku agar tidak membuat malu keluarga.

Saya adalah satu dari tujuh bersaudara -semuanya perempuan, dan hanya ada satu yang lebih muda dari saya jadi saya melihat saat mereka harus menikah sejak usia muda - bahkan di usia 15.

Mereka akan lenyap dan menjadi istri, kembali ke India, pulang, tak lagi bersekolah dan dalam pernikahan ini mereka disiksa secara fisik dan psikologis. Dan inilah kesan saya akan apa yang terjadi pada pernikahan - Anda menikah, dipukuli, dan disuruh untuk tetap di sana.

Orangtua saya penganut Sikh dan ajaran Sikh terlahir dari dasar kasih sayang dan persamaan antara laki-laki dan perempuan, tapi di sini perempuan diperlakukan berbeda. Saudara lelaki saya diizinkan mendapat kebebasan ekspresi yang total. Dia boleh dengan bebas memilih ingin menikah dengan siapa. Namun perempuan diperlakukan berbeda dan itu ditanamkan di masyarakat. Tak pernah dipertanyakan dan sangat merasuk.

Kawin dengan biaya Rp13.000, pasangan Kenya disumbang pesta mewah
Kasus bunuh diri di AS turun sejak pernikahan sejenis diterapkan
Saya tak merasa bahwa saya lebih pintar. Saya hanya tidak tahu apa yang ada di dalam diri saya. Ibu saya sering bilang, "Kamu terlahir sungsang, kamu sudah berbeda sejak lahir."

Mungkin kata-katanya itu membantu saya, karena dia membuat saya mempertanyakan beberapa hal. Dan saat kepada saya diperlihatkan foto seorang pria, saat saya berusia 14 tahun, tahu bahwa saya sudah dijanjikan pada dia sejak usia delapan tahun dan diharapkan untuk mulai memikirkan pernikahan, saya melihat foto ini dan berpikir, "Dia lebih pendek dari saya dan dia jauh lebih tua dari saya dan saya tidak menginginkan ini."

Sesederhana itu.

Namun dalam keluarga kami, kami diajari untuk diam.

Menolak pernikahan artinya keluarga saya akan mengeluarkan saya dari sekolah dan mengurung saya sebagai tahanan di rumah sendiri.

Saya berusia 15 tahun dan saya dikunci di kamar ini dan saya benar-benar tidak boleh keluar kamar sampai saya setuju dinikahkan. Kamar saya digembok dari luar dan saya harus mengetuk pintu untuk bisa keluar ke toilet dan mereka membawa makanan saya ke pintu.

Ibu sayalah yang menerapkan aturan itu. Orang-orang tidak menyangka perempuan adalah penjaga sistem kehormatan itu.

Maka akhirnya saya mengatakan ya, sambil terus merencanakan untuk melarikan diri. Dan memang sesederhana itu, karena kemudian saya bisa bebas bergerak.

Satu-satunya teman yang boleh kami miliki berasal dari komunitas India juga. Dan teman baik saya, yang juga India, dan saudara laki-lakinya yang kemudian membantu saya.

Dia menjadi pacar rahasia saya. Dia menabung uang dan mengatakan, "Aku ingin bersama denganmu dan ingin membantumu melarikan diri." Dia akan datang ke rumah pada malam hari dan berdiri di taman dan, lewat jendela, akan mencoba mengatakan sesuatu dengan menggerakkan bibir tanpa suara.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved