Kisah korban kawin paksa: Setelah adiknya membakar diri

Jasvinder Sanghera dikunci di kamarnya oleh orangtuanya saat dia berusia 16 tahun karena menolak menikahi pria yang telah dipilihkan oleh orangtuanya.

Editor: Alfred Dama
Jasvinder Sanghera Jasvinder (kanan) usia 15, dengan saudarinya Robina, yang membakar diri. 

Dukung Trump, suami ditinggal istri yang dinikahi 22 tahun
Apakah pernikahan anak di bawah umur benar-benar terjadi setiap tujuh detik?
Suatu hari, dia berpakain seperti seorang perempuan dan masuk ke toko sepatu dan pura-pura berbelanja. Dia menyerahkan catatan ke saya yang isinya, "Saya akan pulang ke rumah pada jam ini - lihat ke luar jendela." Maka saya melakukannya, dan dia menyuruh saya mengemasi baju dan menurunkan dua koper menggunakan seprei yang diikat, sambil menyiram air toilet, agar ibu saya tidak mendengar.

Dan suatu hari, di rumah hanya ada saya dan ayah saya yang juga di rumah karena dia mendapat giliran kerja malam, dan pintu depan terbuka. Dan saya pun lari.

Saya lari sejauh lima kilometer lebih, ke tempat kerja pacar saya dan bersembunyi di balik tembok, menunggu dia keluar. Dia muncul dan membawa koper saya dan menjemput saya dengan Ford Escort-nya dan menyuruh saya menutup mata dan menunjuk peta, dan menunjuk di Newcastle.

Saya duduk di lantai mobil, supaya tidak ada yang melihat, dan saat saya melihat jembatan Tyne, saya begitu kagum, karena saya belum pernah keluar Derby.

Orangtua saya melaporkan saya hilang pada polisi dan polisilah yang mengatakan pada saya, bahwa saya harus menelepon rumah untuk memberitahu saya baik-baik saja.

Ibu saya mengangkat telepon dan saya bilang, "Bu, ini saya. Saya ingin pulang, tapi saya tak mau menikah dengan orang asing."

Jawabannya akan saya ingat sampai akhir hidup saya. Dia bilang, "Pilihannya adalah kamu pulang dan menikah dengan lelaki pilihan kami, atau mulai hari ini kamu kami anggap sudah mati."

Baru kemudian, ketika keadaan sudah tenang, saya mulai berpikir, "Saya sudah melakukannya tapi mana keluarga saya? Saya juga menginginkan keluarga saya." Saya begitu rindu pada mereka. Saya merasa seperti orang mati."

Pacar saya sering mengantar saya pulang ke kampung halaman saya pada jam tiga pagi hanya agar saya bisa melihat ayah saya berjalan pulang.

Perasaan saya berubah ketika saudari saya, Robina, meninggal. Dia keluar sekolah pada usia 15 tahun selama sembilan bulan lamany, menikah dengan seorang pria di India, lalu kembali ke Derby dan masuk sekolah lagi di kelas yang sama seperti saya, dan tidak ada yang mempertanyakan ini.

Namun suaminya memperlakukan dia dengan buruk, dan saat anaknya berusia enam bulan, dia memutuskan hubungan itu.

Lama kemudian, dia menikah atas dasar cinta dan orangtua saya setuju karena pria itu orang India - Sikh dan berasal dari kasta yang sama. Dia kemudian mengalami lagi kekerasan dalam rumah tangga tapi orangtua saya menegaskan, karena pria ini pilihan saudari saya sendiri, maka dia punya tugas yang lebih besar agar pernikahannya sukses.

Dia kemudian menemui seorang tetua- yang begitu dihormati, sehingga orangtua saya melihat kata-katanya sebagai perintah Tuhan - dan dia mengatakan, "Kamu harus menganggap temperamen suamimu seperti semangkuk susu - saat mendidih, busanya akan naik ke atas, dan tugas perempuan adalah meniupnya agar dingin."

Saat dia berumur 25, saudari saya membakar diri dan meninggal. Menurut saya dia didorong untuk melakukan bunuh diri. Dan itulah titik balik buat saya.

Saya belajar untuk menjalani hidup tanpa pengharapan dari keluarga. Saya tak pernah mendapat kartu ulang tahun selama 35 tahun, dan begitu pula anak-anak saya. Bagi mereka, keluarga ibu gelap saja. Saya memiliki banyak keponakan yang tak akan pernah saya jumpai karena semua kakak-adik saya memihak orangtua saya.

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved