Pasola dalam Ruang Religiositas Masyarakat Adat

Atraksi tradisional perang-perangan berkuda dengan bersenjata lembing ini merupakan hajatan tahunan secara reguler

Editor: Agustinus Sape
AFP PHOTO / ROMEO GACAD
Para pria mengikuti tradisi Pasola, perang di atas kuda di Desa Ratenggaro, Sumba, NTT, 22 Maret 2014. Pasola dirayakan untuk menyambut masa panen. Biasa dilakukan untuk memulai masa tanam. 

Oleh: Rofinus D Kaleka
Mantan Wartawan, Kini PNS di Sumba Barat Daya

SEBAGAIMANA kita ketahui bersama bahwa Pasola atau Paholong merupakan salah satu obyek wisata budaya terfavorit di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan sudah populer secara meluas di seluruh pelosok Indonesia serta sangat diminati oleh dunia internasional. Atraksi tradisional perang-perangan berkuda dengan bersenjata lembing ini, merupakan hajatan tahunan secara reguler yang dilaksanakan oleh masyarakat (adat) di wilayah suku Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, dan suku Wanukaka, Lamboya dan Gaura, Kabupaten Sumba Barat.

Setahun berlalu tidak terasa, masyarakat di keempat wilayah suku tersebut kembali menggelar iven Pasola. Pasola ini bukanlah suatu aktivitas permainan rekreasi massal belaka yang tanpa makna sama sekali. Pasola sesungguhnya adalah bagian tidak terpisahkan dari suatu Tradisi Nale atau Nyale. Tradisi yang berlangsung setiap tahun selama tiga bulan penuh, dari pertengahan Desember sampai pertengahan Maret ini, memiliki prosesi yang terstruktur, semacam pakem adat, yang meliputi, yaitu Kabukut (semedi), Kawoking (berpantun adat), Hangapung (sebar sirih-pinang), Pico Nale (panen nale), Pasola/Paholong, dan Tunu Manu Nale (bakar ayam nale). Dan yang lebih mendasar lagi adalah tradisi Nale tersebut merupakan salah satu prosesi massal sebagai perwujudan sembahyang (pemujaan dan persembahan) masyarakat tradisional aliran kepercayaan Marapu, suatu religi asli masyarakat Sumba, kepada Tuhan Maha Pencipta, yang mereka sebut sebagai Mori Mawolo Marawi.

Dalam rangka menyambut iven Pasola Sumba tahun ini, yang akan dimulai di wilayah Kodi pada 20 dan 21 Pebruari 2017, penulis ingin menyampaikan kepada publik, terutama yang berminat dengan wisata budaya dan religius, tentang Pasola dalam ruang religiusitas masyarakat adat pada wilayah suku-suku di atas. Untuk dimaklumi bahwa hal ini sebatas pemahaman penulis sendiri.

Syukuran atas Hasil Panen dan Ternak Peliharaan
Pasola memang hanya bagian dari prosesi ritus Nale, namun karena merupakan pakem puncaknya, maka mau tidak mau menyedot perhatian dan energi masyarakat yang berada di empat wilayah suku di atas. Pasola dilaksanakan bersamaan dengan  puncak masa panen musim tanam pertama, setelah panen padi, khususnya padi ladang. Masyarakat berbondong-bondong mudik ke kampung adatnya masing-masing. Mereka membawa hasil panen terbaik dan terbaru, berupa sirih, pinang, tembakau, kelapa, dan beras. Mereka juga membawa ternak kecil hasil peliharaan, seperti ayam dan babi.   

Hasil panen dan ternak peliharaan tersebut dijadikan sarana doa atau media komunikasi mistis sebagai persembahan kepada para leluhur mereka yang telah menjadi Marapu dan Marapu yang paling tinggi tingkatannya yaitu Mori Mawolo Marawi. Sirih, pinang dan tembakau disimpan atau disebar di atas kubur leluhur, hampir sama dengan menyebar rampai. Di dalam rumah adat, dengan bantuan Imam Marapu atau Tetua Adat, bersama sirih, pinang dan tembakau, ternak peliharaan disembelih sambil menyampaikan ucapan syukur terima kasih atas berkat hasil panen dan ternak peliharaan pada tahun yang telah dilalui dan memohon berkat yang sama atau lebih pada tahun berikutnya.

Hasil panen dan ternak peliharaan tersebut, dijadikan sarana doa atau media komunikasi mistis sebagai persembahan kepada para leluhur mereka yang telah menjadi Marapu dan Marapu yang paling tinggi tingkatannya yaitu Mori Mawolo Marawi. Para orangtua, muda-mudi dan anak-anak secara berramai-ramai menyebar sirih, pinang dan tembakau di atas para kubur leluhurnya, hampir sama dengan menyebar rampai. Di dalam rumah adat, para orangtua mempersembahkan, mulai dari sirih, pinang dan tembakau, sampai dengan menyembelih ternak peliharaan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Marapu atas berkat-Nya terhadap hasil panen dan ternak peliharaan pada tahun yang telah dilalui dan memohon berkat yang sama atau lebih pada tahun berikutnya. Sementara itu para muda-mudi juga dapat menyampaikan persembahannya dalam rupa yang sama untuk memohon berkat dan restu dari Marapu, baik untuk segera mendapatkan jodoh yang baik maupun sukses dalam sekolah dan kerja. Ketika menyampaikan persembahan dan permohonan tersebut, dipandu oleh Imam Adat yang disebut Rato Marapu melalui doa-doa dalam bentuk pitutur atau syair adat.

Ucapan syukur di dalam rumah adat tersebut bersifat pribadi masing-masing keluarga dalam satu hierarki turunan. Oleh karenanya Pasola diselenggarakan sebagai ungkapan syukuran (massal) masyarakat atas berkat hasil panen dan ternak peliharaan dalam satu wilayah komunitas suku, yang terdiri dari berbagai rumpun kampung adat.

Simbol Perdamaian Adat
Masyarakat Sumba, khususnya Sumba Barat dan Sumba Barat Daya, termasuk pada keempat suku di atas, sejak zaman nenek-moyang sampai sekarang, dikenal gemar berperang, bukan saja antarsuku namun bisa juga antarkampung adat atau antarkelompok. Perang yang terjadi bukan karena persoalan sepeleh tapi  umumnya karena dua alasan mendasar, yaitu sengketa tanah dan pelecehan  kaum perempuan atau memperebutkan seorang gadis untuk dijadikan isteri. Namanya saja perang, tentu menyebabkan korban baik harta maupun jiwa.

Kendati gemar berperang, masyarakat Sumba juga mempunyai solusi adat-budaya untuk dapat berdamai. Dengan perantaraan para tetua adat dengan meminta petunjuk dan restu dari Marapu, tidak ada jalan buntu menuju upaya damai. Dan perdamaian akan diwujudkan melalui suatu upacara adat, dengan korban darah hewan, seperti babi dan kerbau.

Upacara perdamaian adat dalam perang skala besar seperti  antarsuku, antarkampung adat dan antarkelompok pada masa dahulu, dilaksanakan selepas masa panen. Karena pada saat-saat seperti itulah dapat tersedia bahan makanan yang cukup dan ternak peliharaan yang layak untuk korban perdamaian adat.

Pelaksanaan Pasola pada puncak masa panen dan melibatkan masyarakat dalam satu wilayah komunitas suku, kiranya bukan hanya kebetulan belaka jika bersamaan dengan masa waktu yang tepat untuk menyelenggarakan perdamaian adat. Sebab dilihat dari kuda-kuda yang digunakan dihiasi secara indah, lembing yang dipakai tumpul dan dipoles dengan warna (kambora), aturannya yang wajib menjunjung tinggi sportivitas, orang-orang yang menunggang kuda dan penonton berbusana adat lengkap rapih dan diawasi langsung oleh Imam Marapu Nale yang disebut Rato Nale, mempertontonkan secara jelas bahwa Pasola merupakan simbol perdamaian adat massal yang perlu diungkapkan dengan ekpresi penuh kegembiraan dan rasa syukur kepada Marapu. Di sini Pasola sungguh-sungguh mengekspresikan secara simulatif dan impresif bahwa "damai itu indah".

Eksistensi Kuda dan Kain Tenun Sumba
Pasola berkaitan erat dengan eksistensi kuda Sumba, yang terkenal dengan nama kuda sandlewood (cendana). Demikian juga sangat berkaitan dengan eksistensi kain panjang, sarung dan selendang Sumba. Kuda dan kain tenun ini, merupakan ciri khas dan harta berharga yang dimiliki masyarakat Sumba, yang membedakannya dengan ciri khas masyarakat di daerah lain. Tentu hal ini patut disyukuri oleh masyarakat Sumba, sebagai berkat dari Mori Mawolo Marawi.

Pasola yang "diciptakan" dan diwariskan oleh para leluhur yang telah menjadi Marapu, merupakan suatu "ilham tradisi kultural" yang sangat arif dan berwawasan sangat jauh ke depan. Tak lapuk oleh hujan dan tak lekang oleh panas. Dalam Pasola wajib ada kuda, terutama kuda sandlewood. Oleh karena itu populasinya harus dijaga supaya tetap berkembang secara baik. Sebab jika populasinya kurang maka kondisi Pasola dengan sendirinya kurang ramai. Dan apabila populasinya punah maka eksistensi Pasola pun di ujung tanduk dan bisa jadi nasibnya tinggal dongengan belaka. Sehingga dengan tetap adanya Pasola yang dilestarikan, bisa merupakan suatu "kiat tradisi kultural" yang sangat strategis dalam rangka mempertahankan eksistensi  populasi kuda Sumba.

Secara empirik membuktikan bahwa para laki-laki yang gemar berlaga dalam Pasola, selalu berusaha memiliki dan memelihara kuda sandlewood jantan. Kuda-kuda tersebut dirawat dan dilatih sebaik mungkin supaya fisiknya sehat, segar, indah dan mudah dikendalikan ketika tampil di arena lapang Pasola. *

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved