Mesianisme Profan
Menurut rencana, pada tahun 2017 yang hampir tiba, di Kabupaten TTU), tepatnya di bukit Neonbat, akan dibangun patung Kristus Raja setinggi 58 meter.
Oleh: Sintus Runesi
Pernah Belajar Filsafat di Unwira Kupang
MENURUT rencana, pada tahun 2017 yang hampir tiba, di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), tepatnya di bukit Neonbat, akan dibangun patung Kristus Raja setinggi 58 meter. Seperti diberitakan dalam media lokal maupun media nasional, bahwa dengan ukuran seperti itu, akan menempatkan patung tersebut sebagai yang tertinggi di dunia. Menyangkut biaya pembangunan, seperti dilansir banyak media online, dana yang dibutuhkan hampir mencapai 54 miliar rupiah. Rinciannya, untuk tahap pertama, dibutuhkan sebesar Rp 9.691.000.000. Biaya sejumlah itu, menurut Bupati Raymundus Fernandes, diperoleh melalui pos anggaran di APBD sebesar Rp 10 miliar. Sedangkan untuk tahap kedua, akan membutuhkan dana sebesar Rp 44.834.480.000. Jumlah dana yang sedemikian besar tersebut demi membangun patung, merepresentasikan kuasa pemerintah `di muka' rakyat TTU ketimbang `untuk' rakyat TTU.
Untuk itu, gagasan pendirian ini serupa sepoi membuai bagi masyarakat yang surplus hidup keagamaannya, namun defisit kesejahteraan lahir, lantaran pemerintahnya beranggapan bahwa tidak ada lagi sesuatu yang khas Timor TTU buat jualan pariwisata. Rencana tersebut memerlihatkan upaya menginkarnasikan rahmat ke dalam ekonomi, akhir dari suatu perjuangan panjang bagi kesejahteraan masyarakat dengan membawa masuk `yang kudus' ke dalam dunia. Fernandes menyatakan bahwa "[i]ni adalah destinasi wisata religius untuk membangun ekonomi kreatif. Pembangunan industri pariwisata. Ini akan melibatkan masyarakat dan swasta dalam berbagai kerajinan, suvenir, kuliner dan potensi lokal dan hotel serta restoran" (Pos Kupang.com 9/12). Walau begitu, hemat saya, jarak kritis perlu tetap dipelihara berhadapan dengan baloney semacam itu, yang familiar disebut sebagai kapitalisme berwajah manusiawi. Apa yang diasumsikan baik untuk sektor pariwisata, belum tentu baik untuk ekonomi, apa yang diasumsikan baik untuk ekonomi belum tentu baik untuk masyarakat TTU secara keseluruhan.
Hegemoni
Pernyataan Fernandes bahwa pembuatan patung tersebut merupakan "pembangunan industri pariwisata," gamblang menunjukkan pada sektor apa fungsi patung tersebut diringkus. Sebagai perbandingan, patung Kristus Raja merupakan lambang/simbol dalam bidang religiositas, sedangkan pariwisata adalah salah satu sektor dari bidang pembangunan ekonomi. Patung Kristus Raja terkait dengan iman, sedangkan wisata terkait dengan pencarian keuntungan dan seringkali tidak hirau dengan makna. Iman menyangkut cara hidup yang erat kaitannya dengan sikap penyerahan diri dan kepercayaan yang total dalam kebebasan. Ekonomi sebaliknya, dalam hal ini pariwisata, adalah suatu sektor yang digerakkan oleh pasar berdasarkan pertimbangan kegunaan, kalkulasi ekonomi dan transaksi bisnis. Dalam konteks ini, patung Kristus Raja tidak hanya ditempatkan dalam kerangka logika ekonomi, malahan direduksi menjadi objek pariwisata, atau yang disebut Francois Laruelle dalam bukunya Christo-Fiction (2015) sebagai desuturisasi Kristus dari agama.
Lebih jauh, alasan toleransi tidak mewakili kebijakan politik pengakuan yang memadai, melainkan memerlihatkan suatu mistifikasi toleransi pada level semantik. Bila ditelisik dari perspektif kritis, pendirian patung sebagai industri pariwisata ada dalam kerangka rasionalitas instrumental, yang menempatkan keuntungan ekonomis sebagai prioritas dan sering tidak hirau dengan makna dan pemahaman, sedangkan toleransi mengacu pada tipe interaksi sosial yang dimediasi oleh tindak-wicara komunikatif yang bertujuan mencapai saling pemahaman. Perbedaan ini coba dikaburkan melalui hegemoni semantik, di mana kedua bentuk relasi sosial itu direduksi pada penyejajaran hal-hal fragmental dan dijahit dengan semantik toleransi. Tetapi, bila dilihat dari arah sebaliknya, justru menjadi bentuk pembenaran atas tindakan penyangkalan terhadap yang lain atas nama sesuatu yang sama. Maksudnya, semantik toleransi menjadi jahitan bagi kedekatan spasial antara taman doa dengan masjid, suatu penampang relasional yang mengidap kemungkinan robekan sosial karena dibentuk melalui reduksi. Dalam hal ini, toleransi hanya dimengerti sebatas soal hubungan Kristen dan Islam, sambil melupakan saudari-saudara dari keyakinan lain.
Pada sisi yang lain lagi, karena sejak awal dimaksudkan untuk kepentingan ekonomi, maka dalam pembangunan patung Kristus Raja, motif wisatanya diperkuat ketimbang motif religiusnya. Dalam hal ini, meminjam ungkapan Walter Benjamin, agama menjadi kurcaci yang menopang sang boneka, yakni kapital melalui pemerintah dalam mencapai kepentingannya. Oleh karena itu, rencana ini mengidap virus anti-religiositas, karena religiositas ditundukkan di bawah kepentingan ekonomi. Ini seperti suatu religiositas "taktik Kain" dalam sebutan Robert McTeigue. Maksud McTeigue merujuk pada suatu bentuk cara beriman, di mana ketika seseorang, sebagaimana Kain, merasa bahwa doa-doanya tidak mendatangkan keuntungan, maka ia mulai memakai cara yang ia inginkan, lalu membenarkannya secara rasional. Patut dicatat, bahwa saya tidak bermaksud menghakimi hidup batin dan hidup iman setiap orang dalam hubungan dengan Tuhannya. Sebaliknya, tulisan ini ada dalam lingkup penilaian kritis terhadap praktik politik pembangunan yang secara objektif teramati, yang memakai elemen religius sebagai sarana.
Tentu saja, logika pembangunan semacam ini tidaklah baru dalam konstelasi mental masyarakat zaman ini. Maksudnya, pilihan kebijakan politik pembangunan seperti ini tidak jatuh dari ruang kosong, melainkan berakar dalam alam pikir masyarakat kontemporer, yang cukup kuat dikendalikan oleh uang sebagai struktur pemaknaan atas realitas. Ini sejalan dengan logika korelasi yang dibangun oleh globalisme kapital sebagai suatu sistem. Dalam dekapan kapitalisme sebagai ideologi dominan, setiap model pembangunan hanya akan bertahan kalau mampu menyesuaikan dirinya dengan nalar kapitalisme, yang memberi tempat utama bagi uang sebagai tujuan akhir proses ekonomi. Walaupun kapitalisme dalam dirinya tidak pernah memiliki motivasi religius sedikit pun, namun selalu tertarik dengan dukungan yang dapat diperolehnya dari agama demi menunjang akumulasi keuntungan. Jika terjadi demikian, agama seringkali menjadi topeng karitatif yang menyembunyikan eksploitasi kapitalis di belakangnya.
Teologisasi Ekonomi
Lebih dalam, melalui logika semacam itu, nampaknya umat beragama diringkus lalu diarak keluar dari adorasi menuju idolatria, dari sakral kepada profan, dan menghapus perbatasan antara iman dan hasrat, yang mana hasrat memberi makna pada iman. Tuhan tidak perlu lagi disembah hanya di dalam gereja, tetapi ditempatkan pada tempat yang mengutamakan elevasi diri manusia. Iman lalu berarti suatu pencarian akan kepuasan konsumsi sensibilitas yang digerakkan oleh keinginan atau hasrat. Dalam kerangka berpikir seperti ini, Tuhan tidak lagi menjadi tujuan, tetapi akhir, yang menjadi titik awal darinya manusia mengejar tujuannya, yang keluar menjauh dari Tuhan yang diimani dalam religiositas otentik. Kapitalisme telah menjadi agama, sebab ia mengambil alih semua bentuk pengulangan yang dilakukan oleh agama: kultus, ritual dan sejenisnya, yang memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk datang. Bukit Neonbat akan menjadi tempat akumulasi kapital melalui kompulsi asketik akan keselamatan (Noam Yuran, 2014:191).
Selangkah lebih dalam lagi, praktik pembangunan ini memerlihatkan suatu proses finansialisasi rahmat dalam logika materialisme. Pada dasarnya simbol dalam lingkup keagamaan adalah tanda kepada Dia yang tersembunyi. Simbol membantu seorang yang percaya untuk mengarahkan perhatiannya kepada sosok yang dipercaya. Namun, dalam konteks ekonomi yang digerakkan oleh pertukaran simbolik, rahmat yang diharapkan dari dia yang kehadirannya diwakili oleh simbol-simbol, coba dimaterialkan ke dalam bentuk yang bisa disentuh. Di Sinai misalnya, orang Israel tidak tahan untuk tidak meringkus yang ilahi itu dalam suatu bentuk yang terlihat dan bisa disentuh. Keinginan itu diungkapkan melalui pembuatan patung anak lembu emas. Dari peristiwa Sinai, gamblanglah kalau pilihan materialisasi rahmat tidak dapat dilepas dari konstelasi zaman. Dalam zaman di mana uang menjadi struktur pemaknaan, maka materialisasi itu akhirnya tidak bisa tidak mengerucut pada kapital. Kapital menjadi tempat inkarnasi kekuatan providensial dari gumpalan hasrat tak terbatas.
Akhirnya, inkarnasi kekuatan ini, sebagai suatu `ekonomi keselamatan,' demi keselamatan ekonomi pemerintah, hemat saya, memerlihatkan apa yang disebut oleh Benjamin sebagai `tatanan profan dari yang profan.' Bagi Benjamin, pengulangan term profan ingin menegaskan konteks tatanan yang dimaksud: ia didasarkan pada pengalaman nyata, yakni kondisi dunia yang terindrai, dan penyejajarannya dengan tatanan ilahi. Tatanan profan ditempatkan pada posisi yang sejajar dengan tatanan ilahi. Di situ, yang profan itu `dikuduskan' melalui ritual-ritual reproduksi kapitalisme sebagai suatu agama, sehingga kapitalisme sendiri diilahikan. Kita melihat bahwa dalam rencana pembangunan tersebut, yang profan disakralkan melalui subordinasi yang ilahi, agar tetap terpelihara daya pikat sebagai suatu tempat wisata religius. Dalam praksis ini, dimensi religius menjadi forma bagi wisata, yang secara konkret mengambil rupa kebahagiaan konsumpsi hasrat, tetapi secara fundamental berlawanan dengan dunia yang dicari lewat iman. Singkatnya, kita sedang melihat suatu bentuk teologi gnostik dalam bingkai ekonomi dengan kerigma yang baru: kita-adalah-manusia.*